hisab

Maliki Yaumiddin: Menyadari Bahwa Dunia Hanyalah Titipan

Allah berfirman dalam Surah Al-Fatihah ayat keempat:

مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ
“Maliki yaumiddin” — artinya Allah adalah Pemilik sekaligus Raja pada hari pembalasan.

Ayat ini kita baca sedikitnya tujuh belas kali dalam shalat wajib sehari semalam. Itu berarti Allah ingin menanamkan dalam hati kita sebuah keyakinan yang kokoh: bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya adalah ketika kita berdiri di hadapan-Nya pada hari pembalasan.

Iman kepada hari akhir merupakan salah satu rukun iman yang tidak bisa dipisahkan dari iman kepada Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah sering menghubungkan keduanya. Misalnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 177, Allah menegaskan bahwa hakikat kebaikan bukan hanya menghadap ke timur atau barat, melainkan iman kepada Allah dan hari akhir. Ini menunjukkan betapa erat kaitannya antara tauhid dan keyakinan akan adanya kehidupan setelah mati.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa makna yaumiddin adalah hari kiamat, hari hisab, atau hari pembalasan. Ibnu Katsir menafsirkan sebagai hari kiamat, Syekh Abdul Muhsin menyebutnya hari hisab, dan Syekh Abu Bakar Al-Jazairi menafsirkannya sebagai hari pembalasan (yaumul jaza’). Semuanya mengarah pada satu makna: hari di mana Allah memberikan balasan atas setiap amal manusia, baik atau buruk.

Menariknya, lafaz Malik dalam ayat ini memiliki dua qiraah: dibaca panjang “Māliki” yang berarti Maha Pemilik, atau dibaca pendek “Maliki” yang berarti Maha Raja. Kedua bacaan ini benar adanya. Hikmahnya, Allah bukan hanya pemilik segala sesuatu, tetapi juga raja yang menguasai sepenuhnya. Di dunia, bisa saja ada orang yang menjadi pemilik tetapi bukan penguasa, atau berkuasa tetapi bukan pemilik. Namun Allah adalah Pemilik sekaligus Raja, yang menguasai apa yang dimiliki dan memiliki apa yang dikuasai.

Dari sini kita belajar dua hal. Pertama, semua yang kita miliki sebenarnya hanyalah titipan Allah. Harta, kesehatan, keluarga, ilmu, bahkan usia adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Kedua, Allah adalah Raja yang akan mengadili setiap manusia di pengadilan-Nya yang Maha Adil. Jika di dunia masih ada orang zalim yang lolos dari hukum atau orang lemah yang dikalahkan di pengadilan, maka di akhirat semua akan diadili dengan sangat teliti. Sekecil apapun kebaikan akan mendapat balasan pahala, dan sekecil apa pun kebaikan akan dibalas dengan setimpal.

Ayat ini juga memiliki hubungan erat dengan ayat sebelumnya, ar-Rahmanir-Rahim. Kasih sayang Allah adalah bentuk targhib, motivasi untuk berharap rahmat-Nya. Sementara Maliki yaumiddin adalah tarhib, peringatan bahwa ada hari pembalasan yang penuh keadilan. Dengan kata lain, seorang mukmin harus hidup dengan dua sayap: rasa harap (raja’) kepada kasih sayang Allah, dan rasa takut (khauf) terhadap keadilan-Nya.

Karena itulah, iman kepada hari akhir adalah kunci kebahagiaan. Ia membuat kita sadar bahwa dunia bukan tujuan akhir, tetapi ladang untuk menanam amal. Ia juga menumbuhkan semangat untuk berbuat baik meski kecil, serta mencegah kita meremehkan dosa meski tampak ringan. Sebab, pada hari itu mulut kita dikunci, tangan dan kaki akan bersaksi, dan semua amal akan dihadapkan pada Allah.

Bagaimana cara mengimani dan mengamalkannya?
– Meyakini sepenuh hati bahwa Allah adalah Pemilik dan Raja pada hari pembalasan.
– Menyadari semua milik Allah. Apa yang ada pada diri kita hanyalah titipan, dan suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.
– Menggunakan nikmat sesuai syariat. Harta, kesehatan, ilmu, keluarga—semuanya harus diarahkan untuk kebaikan.

Maka, ketika kita membaca “Maliki yaumiddin”, mari kita renungkan bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu dan Raja pada hari pembalasan. Semua yang kita miliki hanyalah titipan, dan semua yang kita lakukan akan kembali kepada-Nya. Dengan keyakinan itu, kita akan menemukan kebahagiaan sejati, hidup penuh tanggung jawab di dunia, dan berharap penuh rahmat Allah di akhirat.

Program: Inspirasi Quran – Kajian Tadabbur
Narasumber: Ustadz Firman Afifudin Saleh, M.Ag
Penyiar: Muhammad Huda