Meneropong Upaya Reformasi Polri
MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Sahabat MQ, desakan publik untuk melakukan reformasi Polri kembali menguat. Hal ini tidak terlepas dari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian yang saat ini masih berada pada posisi rawan. Survei Civil Society for Police Watch menunjukkan, kepercayaan publik terhadap Polri hanya berada di angka 48,1%, atau masih di bawah separuhnya.
Wacana reformasi Polri sebenarnya sudah lama digaungkan. Namun, jika kita cermati, pemberitaan terkait institusi ini justru lebih banyak memunculkan pertanyaan publik tentang rasa keadilan. Keluhan masyarakat mengenai penggunaan kekerasan yang berlebihan, lambannya penanganan laporan, kurangnya transparansi dalam proses internal, hingga kasus-kasus yang melibatkan oknum polisi, terus menjadi alasan kuat bagi publik untuk menuntut perubahan.
Bambang Rukminto menegaskan bahwa reformasi bukanlah sebuah revolusi yang serta-merta membalik keadaan, melainkan proses panjang yang membutuhkan waktu. Setelah 23 tahun, dinamika sosial-politik dan perkembangan teknologi informasi sudah jauh berubah, sehingga Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 pun perlu disesuaikan.
Namun, hingga kini Polri dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab harapan masyarakat sejak agenda reformasi 1998. Misalnya, pada tahun lalu muncul isu terkait partai cokelat. Banyak pelanggaran etik, disiplin, hingga pemerasan yang dilakukan oknum polisi ternyata tidak direspons dengan sanksi maksimal. Hal ini menunjukkan akuntabilitas dalam penegakan disiplin dan kode etik di internal Polri masih lemah.
Desakan publik pun semakin kuat, salah satunya datang dari Gerakan Nurani Bangsa yang mendorong Presiden untuk membentuk Komisi Reformasi Polri. Di sisi lain, Polri juga mengumumkan upaya reformasi internal. Ini menunjukkan adanya perhatian serius dari negara, meskipun tarik ulur kepentingan politik tetap sangat besar.
Pada akhirnya, reformasi Polri tidak bisa hanya dibebankan kepada internal kepolisian semata, melainkan membutuhkan dukungan dan pengawasan dari seluruh elemen bangsa. Tujuan utamanya bukan sekadar mengganti kepemimpinan, tetapi melakukan perubahan yang lebih substansial demi terwujudnya Polri yang profesional, transparan, dan dipercaya publik.
Program : Inspirasi Pagi – Sudut Pandang
Narasumber : Bambang Rukminto
Penyiar : Muhammad Huda – Syida Khoirun Nisa