Menjadi Ahlul Qur’an, Jalan Menuju Keluarga Allah
Ahlul Qur’an adalah sebutan bagi orang-orang yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya. Interaksi ini tidak terbatas hanya pada membaca, melainkan juga mencakup mempelajari, memahami, menghafalkan, mentadabburi, mengamalkan, mengajarkan, hingga mendakwahkan Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah memiliki keluarga di antara manusia.”
Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahlul Qur’an. Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
Tidak hanya para penghafal Al-Qur’an (ḥuffāẓ) yang berhak menyandang gelar ini. Ahlul Qur’an juga mencakup orang-orang yang:
– Senantiasa membacanya secara rutin, meski tidak menghafal penuh.
– Menjadikan tilawah sebagai amalan harian sebagaimana shalat dan ibadah wajib lainnya.
– Berusaha memahami makna ayat, baik melalui terjemahan, kajian tafsir, maupun majelis ilmu.
– Menjaga akhlaknya agar sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
Bahkan seorang yang lanjut usia, meski tidak mampu menghafal, bisa menjadi Ahlul Qur’an jika istiqomah membaca beberapa juz setiap hari.
Al-Qur’an semestinya tidak dijadikan bacaan musiman, misalnya hanya di bulan Ramadhan atau saat acara tertentu. Ia harus menjadi ibadah yaumiyah (harian), sebagaimana shalat lima waktu. Dengan kata lain, setiap hari seorang muslim dianjurkan menyisihkan waktu untuk membaca, mengulang hafalan, atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an.
Interaksi dengan Al-Qur’an bisa dilakukan di mana saja:
– Di rumah bersama keluarga.
– Di masjid atau musholla.
– Di majelis ilmu dan halaqah tahfiz.
– Bahkan di perjalanan, melalui mushaf kecil atau aplikasi Al-Qur’an di ponsel.
Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah teman hidup seorang muslim yang menyertainya di setiap keadaan.
Ada beberapa alasan penting mengapa seorang muslim dianjurkan untuk menjadi Ahlul Qur’an:
1. Kedudukan mulia di sisi Allah – Ahlul Qur’an disebut sebagai “keluarga Allah” dan orang-orang pilihan-Nya.
2. Al-Qur’an sebagai sahabat hidup – Ia menjadi penenang dalam kesendirian, penghibur di saat gelisah, serta pelindung dari kelalaian.
3. Peringatan terhadap kelalaian – Melupakan hafalan Al-Qur’an dianggap sebagai bentuk kelalaian yang bisa menjadi dosa atau minimal perkara makruh, karena berarti menyia-nyiakan amanah besar.
4. Akhlak Qur’ani – Rasulullah ﷺ adalah teladan yang akhlaknya Qur’an, sehingga para pengemban Al-Qur’an pun seharusnya mencerminkan akhlak yang mulia, tidak larut dalam emosi, kebodohan, atau hal-hal sia-sia.
Langkah-langkah praktis yang bisa ditempuh adalah:
1. Belajar dari dasar – Mengenal huruf, tajwid, dan cara membaca yang benar.
2. Mendawamkan tilawah – Membaca secara rutin setiap hari meski hanya beberapa ayat.
3. Memahami kandungan ayat – Melalui terjemahan atau kajian tafsir.
4. Menghafal sesuai kemampuan – Bisa mulai dari surah-surah pendek atau juz tertentu.
5. Murāja‘ah (mengulang hafalan) – Menjaga hafalan agar tidak hilang seperti unta yang
Program: Inspirasi Quran – Menjadi Ahlul Quran, Jalan Menuju Keluarga Allah
Narasumber: Ustadz Dadan Hamdani, S.Pd., Alhafizh
Penyiar: Rizqi Alfaris