Jebakan Ketakutan yang Diembuskan oleh Setan

Perasaan takut akan kekurangan harta sering kali menjadi momok yang menakutkan dan memenjarakan hati banyak orang dalam sifat bakhil atau pelit. Sahabat MQ perlu menyadari bahwa sifat pelit ini sebetulnya lahir dari sebuah kekeliruan besar dalam mempercayai jaminan makhluk dibanding jaminan Sang Pencipta. Setan senantiasa bekerja keras mengembuskan bisikan halus bahwa setiap harta yang dikeluarkan untuk kebaikan akan mengurangi saldo dan mendatangkan kemiskinan. Akibat dari mempercayai tipu daya tersebut, jiwa manusia akan selalu diselimuti oleh rasa tidak puas dan ketakutan yang tidak pernah ada ujungnya.

Seseorang yang terjebak dalam lingkaran bakhil cenderung memandang segala sesuatu dari kacamata hitung-hitungan matematika duniawi yang kaku. Mereka mengira dengan menahan harta kuat-kuat, masa depan mereka akan terjamin dan terbebas dari segala macam kesulitan hidup. Padahal, sahabat MQ, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kenyamanan materi tanpa adanya keberkahan justru sering kali mengundang berbagai penyakit hati dan kegelisahan. Ketidakmampuan untuk berbagi dengan sesama merupakan indikator nyata dari rapuhnya tingkat keyakinan seseorang terhadap sifat Allah Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki.

Skenario penyesatan psikologis yang dilancarkan oleh setan untuk menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan ini telah dikupas tuntas di dalam Al-Qur’an.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا

Artinya: Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir); sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. (QS. Al-Baqarah: 268). Pilihan berada di tangan manusia, apakah ingin mempercayai sang penipu atau mempercayai Penciptanya.

Transformasi Jiwa Menjadi Dermawan Sejati

Berhijrah dari sifat pelit menuju pribadi yang gemar bersedekah merupakan salah satu tanda utama dari tingkat ketakwaan yang sejati dalam diri seorang mukmin. Sedekah tidak boleh dipandang secara sempit hanya sebatas mengeluarkan uang dalam jumlah besar, melainkan mencakup segala bentuk kebaikan yang membawa manfaat bagi orang lain. Sahabat MQ dapat memulainya dari hal yang paling sederhana seperti memberikan senyuman tulus, mengucapkan perkataan yang menyejukkan hati, hingga meringankan beban sesama. Konsep sedekah yang menyeluruh ini akan membentuk karakter pribadi yang aman, menyenangkan, dan senantiasa dirindukan oleh lingkungan sekitar.

Ketika tindakan berbagi ini sudah bertransformasi menjadi sebuah gaya hidup yang melekat, maka keajaiban demi keajaiban akan mulai berdatangan menghampiri. Harta yang dikeluarkan di jalan kebaikan tidak akan pernah berkurang esensinya, melainkan akan disucikan dan dikembangkan oleh Allah dengan kelipatan yang tidak terduga. Sahabat MQ akan merasakan kelapangan dada yang luar biasa, di mana rasa cemas terhadap urusan rezeki digantikan oleh rasa tenang yang menghanyutkan. Kedermawanan sejati melatih mental manusia untuk menjadi penguasa atas hartanya, bukan justru menjadi budak yang diperintah oleh tumpukan materinya.

Janji suci mengenai kepastian bahwa harta tidak akan pernah menyusut akibat digunakan untuk berbagi telah ditegaskan langsung oleh baginda Nabi.

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Artinya: Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. (HR. Muslim). Keyakinan atas kebenaran sabda inilah yang membedakan antara seorang ahli iman dan orang yang ragu.

Meraih Keberkahan Hidup yang Melimpah Ruah

Keberkahan hidup merupakan sebuah konsep abstrak yang tidak dapat diukur semata-mata dengan angka-angka nominal di atas kertas rekening bank. Orang yang gemar bersedekah akan mendapati bahwa meskipun secara hitungan kasat mata hartanya berkurang, namun kebutuhan hidupnya selalu tercukupi dengan cara yang indah. Sahabat MQ akan melihat bagaimana kesehatan yang terjaga, anak-anak yang saleh, serta waktu yang produktif merupakan bentuk-bentuk karunia non-materi yang nilainya jauh melampaui emas permata. Sedekah bertindak sebagai magnet yang menarik datangnya rida Allah serta menjauhkan diri dari berbagai bala bencana.

Untuk meraih tingkat kedermawanan yang konsisten, diperlukan latihan yang berkesinambungan tanpa harus menunggu diri menjadi kaya raya terlebih dahulu. Bersedekah dalam kondisi lapang maupun sempit merupakan ujian keimanan yang akan menyaring siapa saja hamba yang benar-benar tulus dalam mencintai Penciptanya. Sahabat MQ yang berhasil menembus batas ketakutan ini akan dituntun menuju kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan jauh dari rasa stres. Setiap butir kebaikan yang ditanam di dunia ini pasti akan membuahkan hasil manis yang dapat dipetik, baik di alam dunia maupun di alam akhirat kelak.

Perumpamaan yang sangat indah mengenai pertumbuhan pahala bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah telah diabadikan dalam ayat berikut.

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

Artinya: Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. (QS. Al-Baqarah: 261). Kelimpahan inilah yang menjadi jaminan bagi para pencinta sedekah.