MQFMNETWORK.COM | Bandung – Penindakan terhadap pelaku begal kerap menjadi perhatian publik setiap kali terjadi kasus yang meresahkan masyarakat. Berbagai operasi kepolisian, peningkatan patroli, hingga munculnya gagasan seperti sayembara tangkap begal menunjukkan adanya upaya untuk menekan angka kejahatan jalanan. Namun, berbagai kasus yang terus berulang mengindikasikan bahwa pemberantasan begal tidak dapat hanya mengandalkan langkah-langkah yang bersifat reaktif.
Dalam perspektif kriminologi, kejahatan merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Karena itu, penanganannya memerlukan strategi yang menyentuh akar persoalan, mulai dari aspek sosial, ekonomi, pendidikan, hingga penguatan sistem penegakan hukum.
Lantas, strategi jangka panjang apa yang perlu diperkuat agar aksi begal dapat ditekan secara berkelanjutan?
Penindakan Penting, Tetapi Pencegahan Harus Menjadi Prioritas
Penegakan hukum terhadap pelaku begal merupakan langkah yang diperlukan untuk memberikan kepastian hukum sekaligus melindungi masyarakat.
Namun, dalam kajian kriminologi, keberhasilan penanggulangan kejahatan tidak hanya diukur dari banyaknya pelaku yang ditangkap, tetapi juga dari kemampuan mencegah munculnya pelaku-pelaku baru.
Artinya, strategi yang hanya berfokus pada penindakan belum cukup apabila tidak diikuti dengan upaya pencegahan yang menyentuh akar persoalan.
Pencegahan tersebut mencakup penguatan lingkungan sosial, peningkatan pengawasan di ruang publik, hingga pembangunan sistem keamanan yang mampu mengurangi peluang terjadinya tindak kriminal.
Faktor Sosial dan Ekonomi Perlu Menjadi Perhatian
Fenomena begal tidak lahir dalam ruang yang kosong.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kriminalitas dipengaruhi oleh kombinasi faktor, seperti tekanan ekonomi, rendahnya akses terhadap pendidikan, pengangguran, pergaulan yang menyimpang, lemahnya kontrol sosial, hingga keberadaan kelompok-kelompok yang telah terbiasa melakukan tindak kriminal.
Meski demikian, faktor-faktor tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran atas tindakan melawan hukum.
Sebaliknya, kondisi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk merancang kebijakan yang mampu memperkuat kesejahteraan masyarakat, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kualitas pendidikan sebagai bagian dari upaya pencegahan kriminalitas.
Penanggulangan Kejahatan Harus Komprehensif
Dalam perbincangan Sudut Pandang MQFM, Yogo Tri Hendiarto, S.Sos., M.Si., Pengamat Kriminologi sekaligus Sekretaris Program Studi Sarjana Kriminologi FISIP Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa kejahatan begal merupakan persoalan yang kompleks sehingga penanganannya tidak dapat dilakukan melalui satu kebijakan saja.
Menurutnya, strategi jangka panjang harus dibangun melalui pendekatan yang komprehensif dengan melibatkan berbagai sektor, bukan hanya aparat penegak hukum.
Yogo menilai bahwa pemerintah, dunia pendidikan, masyarakat, hingga keluarga memiliki peran yang sama penting dalam membangun lingkungan sosial yang mampu mencegah lahirnya perilaku kriminal.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan penanggulangan kejahatan sangat bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam bekerja sama secara berkelanjutan, bukan hanya ketika suatu kasus menjadi perhatian publik.
Lingkungan yang Aman Mengurangi Peluang Terjadinya Kejahatan
Dalam teori kriminologi, lingkungan fisik memiliki pengaruh terhadap peluang terjadinya tindak kriminal.
Kawasan yang minim penerangan, kurang pengawasan, atau sepi aktivitas masyarakat cenderung lebih rentan dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan.
Karena itu, pemerintah daerah bersama aparat perlu terus memperkuat infrastruktur keamanan, seperti pemasangan lampu penerangan jalan, kamera pengawas (CCTV), peningkatan patroli di titik rawan, serta penataan ruang publik agar lebih aman bagi masyarakat.
Pendekatan ini bertujuan mengurangi kesempatan pelaku melakukan aksinya sekaligus meningkatkan rasa aman masyarakat.
Pendidikan Karakter dan Peran Keluarga Tidak Bisa Diabaikan
Selain faktor lingkungan, pembentukan karakter sejak dini juga menjadi bagian penting dalam mencegah kriminalitas.
Keluarga memiliki peran sebagai lingkungan pertama dalam membentuk nilai-nilai moral, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap hukum.
Di sisi lain, lembaga pendidikan juga berperan dalam menanamkan karakter, keterampilan sosial, serta kemampuan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Yogo menilai bahwa investasi pada pendidikan dan penguatan keluarga merupakan bagian dari strategi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak terlihat secara instan, tetapi memiliki dampak besar dalam mencegah lahirnya generasi yang rentan terlibat dalam tindak kriminal.
Kolaborasi Antarinstansi Perlu Diperkuat
Penanggulangan begal tidak dapat dilakukan oleh kepolisian semata.
Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, tokoh agama, komunitas, hingga media memiliki kontribusi dalam membangun budaya yang menolak kekerasan dan mendukung terciptanya keamanan.
Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui edukasi kepada masyarakat, pemberdayaan pemuda, peningkatan kesempatan ekonomi, hingga penyediaan ruang-ruang kegiatan positif bagi generasi muda.
Dengan pendekatan lintas sektor, upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.
Membangun Kepercayaan Publik terhadap Sistem Hukum
Strategi jangka panjang juga membutuhkan sistem penegakan hukum yang profesional dan dipercaya masyarakat.
Ketika warga yakin bahwa laporan mereka akan ditindaklanjuti secara cepat dan adil, partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan akan semakin meningkat.
Sebaliknya, rendahnya kepercayaan publik dapat mengurangi kemauan masyarakat untuk bekerja sama dengan aparat.
Karena itu, transparansi, akuntabilitas, dan konsistensi dalam penegakan hukum menjadi faktor penting dalam membangun sistem keamanan yang efektif.
Pencegahan Berkelanjutan Menjadi Kunci
Fenomena begal menunjukkan bahwa kejahatan jalanan tidak dapat diselesaikan hanya melalui tindakan represif. Sebagaimana disampaikan Yogo Tri Hendiarto, penanggulangan kejahatan memerlukan strategi yang komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak dan menyentuh akar persoalan yang melatarbelakangi munculnya kriminalitas.
Ke depan, penguatan penegakan hukum perlu berjalan beriringan dengan pembangunan lingkungan yang aman, peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan pendidikan karakter, pemberdayaan generasi muda, serta kolaborasi antara pemerintah, aparat, dunia pendidikan, dan masyarakat. Pendekatan yang menyeluruh ini diharapkan mampu menekan angka begal secara berkelanjutan sekaligus menciptakan ruang publik yang lebih aman bagi seluruh warga.
Pada akhirnya, keberhasilan mengatasi begal bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak pelaku yang berhasil ditangkap, tetapi juga oleh kemampuan seluruh elemen bangsa dalam membangun lingkungan sosial yang mampu mencegah kejahatan sebelum terjadi. Dengan demikian, rasa aman tidak hanya menjadi respons terhadap suatu peristiwa, melainkan menjadi bagian dari kualitas kehidupan masyarakat yang terus dijaga bersama.