Menemukan Hikmah Spiritual di Balik Kekurangan Pasangan Hidup
Pernikahan itu sebenarnya sebuah perjalanan spiritual yang seru untuk mendewasakan ego kita masing-masing. Di awal-awal masa pernikahan, mungkin pesona fisik atau kesamaan sifat yang bikin kita merasa cocok banget dengan pasangan. Namun, sebagaimana yang disampaikan oleh Ummi Yusdiana dalam program Inspirasi Keluarga – Keluarga Bahagia, seiring berjalannya waktu, tirai ketidaksempurnaan pasti akan mulai terbuka satu demi satu dan memperlihatkan kelemahan yang dulu tidak kelihatan. Nah, di fase inilah kedewasaan iman kita diuji untuk bisa melihat ada hikmah indah apa sih di balik kekurangan pasangan kita itu.
Daripada kita memandang kelemahan pasangan sebagai batu sandungan yang bikin kesal, coba deh kita balik sudut pandangnya dengan menjadikannya cermin buat diri sendiri. Boleh jadi, kekurangan yang ada pada pasangan sengaja Allah hadirkan untuk melatih sifat sabar, pemaaf, dan ikhlas kita yang selama ini belum teruji. Lewat cara pandang yang positif ini, setiap rasa kecewa yang muncul bisa berubah jadi peluang emas untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Menemukan hikmah di balik kekurangan bikin jalinan cinta yang ada tumbuh jadi lebih tulus dan kuat.
Kesediaan untuk menerima pasangan apa adanya dengan segala dinamikanya adalah jalan yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang Allah Swt. Di balik hal-hal yang tampaknya kurang menyenangkan di mata kita, sering kali tersimpan kebaikan yang berlimpah kalau kita mau bersabar.
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ Fَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19).
Menghidupkan Sesi Evaluasi Diri Bersama Tanpa Saling Menyalahkan
Supaya roda rumah tangga kita tetap berjalan di jalur yang benar, kita butuh waktu sejenak untuk ngobrol santai sambil mengevaluasi perjalanan bersama. Sesi evaluasi diri atau muhasabah bareng pasangan ini idealnya dilakukan dalam suasana yang rileks, ditemani teh hangat, dan jauh dari ketegangan. Tujuan utamanya jelas bukan untuk membuat daftar dosa atau kesalahan pasangan, melainkan untuk melihat sejauh mana kontribusi kita masing-masing dalam membangun kebahagiaan keluarga. Kalau keterbukaan ini didasari rasa sayang, proses memperbaiki diri pasti terasa indah.
Dalam sesi ngobrol ini, cobalah mulai dengan memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas segala kebaikan serta perjuangan yang sudah dilakukan pasangan selama ini. Setelah itu, baru sampaikan hal-hal yang dirasa perlu diperbaiki bersama dengan pilihan kata yang adem dan fokus pada solusi ke depan. Hindari banget kata-kata yang menyudutkan supaya pasangan kita merasa aman dan tidak refleks membela diri secara berlebihan. Budaya evaluasi yang sehat seperti ini pelan-pelan akan menumbuhkan rasa saling percaya yang dalam antara suami dan istri.
Sikap yang suka memperbaiki diri dan tidak merasa paling benar sendiri adalah ciri dari hamba-hamba yang dicintai oleh Allah Swt. Berlapang dada menerima masukan demi kebaikan bersama terbukti bisa mendatangkan ketenteraman jiwa yang sejati di dalam rumah.
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang sering bertobat (memperbaiki diri).” (HR. Tirmidzi).
Mengubah Niat, Cara Sederhana Membuat Pekerjaan Rumah Bernilai Surga
Banyak dari kita yang tidak sadar kalau peluang untuk mendapatkan tiket ke surga itu sebenarnya bertebaran di setiap sudut rumah kita lewat aktivitas sehari-hari. Mulai dari menyiapkan sarapan, menyapu lantai, memperbaiki keran yang rusak, sampai memandikan anak, semuanya adalah ladang pahala yang luar biasa besar. Sayangnya, potensi pahala ini sering menguap begitu saja karena kita lupa menata niat di dalam hati sejak awal. Melakukan perubahan kecil pada niat kita adalah kunci untuk mengubah rutinitas lelah jadi ibadah.
Sebelum mulai beres-beres atau mengurus keperluan rumah, ambil waktu satu detik saja untuk berbisik dalam hati kalau pekerjaan ini kita lakukan demi menjaga amanah dari Allah Swt. Kesadaran spiritual yang sederhana ini seketika menaikkan kelas pekerjaan yang tadinya terasa remeh jadi amalan yang berbobot di timbangan akhirat nanti. Rasa lelah fisik yang muncul tidak akan lagi bikin kita dongkol atau mengeluh, tapi justru berubah jadi rasa syukur karena kita masih diberi kekuatan untuk beramal saleh. Rumah pun terasa lebih adem dan nyaman.
Setiap usaha yang kita kerahkan untuk menjaga, melindungi, dan membahagiakan anggota keluarga dinilai sebagai kebaikan yang sangat tinggi di sisi Allah Swt. Keikhlasan dalam berbuat baik di lingkungan terdekat kita sendiri adalah cerminan dari indahnya iman seseorang.
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِيْعُ اَجْرَ مَنْ اَحْسَنَ عَمَلًا
“Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nYiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatannya dengan baik.” (QS. Al-Kahfi: 30).