Menatap Luasnya Jagat Raya dari Sudut Pandang Keimanan
Ketika memandang ke langit malam yang cerah, hamparan bintang-bintang sering kali terlihat bagaikan hiasan kecil yang gemerlap. Padahal, salah satu bintang tercerah yang bernama Sirius berada pada jarak yang sangat fantastis, yakni sekitar 8,6 tahun cahaya dari bumi tempat manusia berpijak. Cahaya yang ditangkap oleh mata pada malam hari ini sebenarnya merupakan pancaran energi yang sudah melesat sejak bertahun-tahun yang lalu dari kedalaman alam semesta.
Menyadari betapa luasnya ruang angkasa memberikan sebuah perspektif baru mengenai posisi manusia di hadapan Sang Pencipta yang Maha Agung. Bumi yang menjadi tempat tinggal miliaran jiwa ini ternyata tidak lebih dari sekadar satu titik debu yang nyaris tak terlihat di tengah galaksi. Sahabat MQ, jika seluruh jagat raya yang mahaluas ini berada dalam kendali penuh Allah, maka urusan penyakit yang diderita manusia tentu bukanlah hal yang rumit bagi-Nya.
Sering kali rasa cemas berlebihan muncul karena manusia terlalu fokus pada keterbatasan fisik dan melupakan kemahakuasaan Zat yang menciptakan ruang dan waktu. Merenungkan keteraturan orbit benda-benda langit dapat menumbuhkan keyakinan yang kokoh di dalam dada.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai keluasan ciptaan-Nya dalam Surah Ali ‘Imran ayat 191:
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
Mengapa Harus Ragu pada Kesembuhan Jika Allah Menguasai Langit dan Bumi?
Ketika vonis medis menyatakan sebuah penyakit sulit disembuhkan, hati manusia sering kali langsung diselimuti oleh kabut keputusasaan. Muncul pertanyaan-pertanyaan yang meragukan apakah keajaiban masih bisa terjadi di tengah keterbatasan obat-obatan modern saat ini. Sahabat MQ, saat kepasrahan mulai goyah, ingatan perlu dikembalikan pada hakikat bahwa Zat yang memelihara miliaran bintang di porosnya adalah Zat yang sama yang mengalirkan darah di dalam tubuh.
Segala istilah medis yang rumit dan menakutkan sebenarnya hanyalah pembatasan berdasarkan batas pengetahuan makhluk yang sangat dangkal. Ilmu manusia memiliki ujung, sedangkan kuasa Ilahi melampaui segala hukum alam yang berhasil dirumuskan oleh para ilmuwan di laboratorium. Menaruh kepercayaan penuh kepada Allah saat didera sakit merupakan langkah awal yang akan membuka pintu-pintu kemudahan yang tidak disangka-sangka.
Ketenangan hati yang lahir dari ketauhidan yang kokoh merupakan obat penawar yang paling mujarab bagi jasad yang sedang melemah. Tidak ada satu pun sel atau jaringan tubuh yang bergerak di luar pengetahuan dan izin dari Sang Pemilik Kehidupan.
Dalam Surah Al-An’am ayat 59, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan:
وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
Artinya: “Dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya.”
Mengikis Keraguan Medis dengan Keyakinan Tauhid yang Kokoh
Dunia kedokteran bekerja dengan melihat pola statistik dan hubungan sebab-akibat fisik yang dapat diukur oleh indra manusia. Namun, di balik hukum sebab-akibat tersebut, ada takdir dan kehendak mutlak dari Allah yang melandasi setiap peristiwa kedatangan penyakit maupun kesembuhan. Sahabat MQ, mengikis keraguan bukan berarti meninggalkan pengobatan medis, melainkan meletakkan harapan tertinggi hanya pada jaminan Allah, bukan pada resep dokter.
Saat menjalani terapi atau mengonsumsi obat, hati harus tetap terpaut pada keyakinan bahwa kesembuhan adalah hak prerogatif Ilahi semata. Ketika tauhid telah meresap ke dalam jiwa, vonis seberat apa pun tidak akan mampu meruntuhkan semangat hidup seorang mukmin. Keyakinan seperti inilah yang dahulu membuat para sahabat Nabi tetap tegar dalam menghadapi berbagai ujian fisik dan mental yang berat.
Menghidupkan rasa ketergantungan yang mutlak kepada Allah akan mengubah cara pandang terhadap rasa sakit yang sedang dialami. Rasa sakit tidak lagi dipandang sebagai hukuman, melainkan sebagai media untuk membersihkan dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Hal ini dipertegas oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis riwayat Al-Bukhari:
مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
Artinya: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia juga menurunkan obat penawarnya.”