Pentingnya Menyadari Sifat Waktu yang Terus Berpaling
Waktu merupakan salah satu aset paling berharga yang diberikan kepada setiap manusia, namun sering kali disadari setelah ia berlalu begitu saja. Banyak di antara manusia yang terjebak dalam rutinitas harian tanpa menyadari bahwa bertambahnya usia sebenarnya bisa menjadi sebuah kerugian jika tidak diisi dengan nilai-nilai spiritual. Sahabat MQ, setiap detik yang berdentang tidak akan pernah bisa diputar kembali, sehingga penting bagi kita untuk selalu waspada terhadap bagaimana cara kita menghabiskan hari demi hari.
Melalui untaian Surah Al-Asr, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai hakikat waktu ini. Manusia secara umum berada dalam kondisi merugi apabila menyia-nyiakan kesempatan hidup yang sangat singkat di dunia ini.
وَالْعَصْرِ ۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ
Artinya: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Asr: 1-2). Ayat ini menjadi alarm bagi kita semua agar tidak terlena oleh buaian urusan duniawi yang sifatnya hanya sementara semata.
Ilmu sebagai Fondasi Utama untuk Memperkuat Keimanan
Kerugian hidup hanya dapat ditangkal apabila kita memiliki fondasi iman yang kokoh di dalam dada, dan iman tersebut tidak akan pernah tegak tanpa adanya ilmu. Sahabat MQ, belajar dan memperdalam pemahaman tentang agama, terutama mengenal Allah (makrifatullah), merupakan jalan utama agar ibadah kita tidak hambar. Tanpa ilmu yang memadai, seseorang yang rajin beribadah sekalipun rentan melakukan kekeliruan yang dapat menghapus pahala amalnya.
Dalam kajiannya, Aa Gym mengingatkan bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam selalu memprioritaskan permohonan ilmu yang bermanfaat di setiap pagi hari sebelum memohon rezeki. Hal ini menunjukkan bahwa orientasi hidup seorang mukmin sejati harus senantiasa berbasis pada pemahaman yang benar.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah). Ilmu inilah yang nantinya akan membimbing kita dalam membedakan mana yang membawa rida dan mana yang mendatangkan murka-Nya.
Menghindari Tragedi Perilaku Buruk Akibat Minimnya Pemahaman Agama
Sering kali dijumpai fenomena di mana seseorang tampak rajin secara ritual, namun hubungan sosialnya dengan sesama makhluk hidup justru berantakan. Perilaku buruk yang muncul di tengah-tengah masyarakat sering kali berakar dari iman yang keropos akibat enggan menambah ilmu agama. Sahabat MQ tentu pernah mendengar kisah klasik tentang seseorang yang taat salat malam, namun justru berakhir di neraka hanya karena menzalimi seekor binatang.
Hal ini menjadi teguran keras agar kita tidak mengabaikan akhlak dalam kehidupan sehari-hari akibat merasa puas dengan ibadah ritual belaka. Keseimbangan antara hubungan kepada Allah (hablun minallah) dan hubungan sesama makhluk (hablun minannas) harus dijaga dengan ilmu.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda mengenai pentingnya menjaga kelakuan kita agar tidak merugikan pihak lain di sekitar kita:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: “Seorang muslim yang baik adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti muslim lainnya.” (HR. Bukhari). Dengan terus belajar, hati akan menjadi lebih lembut dan peka terhadap hak-hak makhluk lain.