Asal Usul Keyakinan Kesialan

Sahabat MQ tentu sering mendengar desas-desus mengenai bulan yang dianggap kurang baik untuk melangsungkan hajatan. Masyarakat zaman dahulu memiliki keyakinan turun-temurun bahwa ada waktu tertentu yang dipenuhi dengan bala dan musibah. Keyakinan semacam ini sudah mengakar kuat dan terus diwariskan dari generasi ke generasi tanpa proses penyaringan informasi.

Hal ini biasanya bermula dari kebiasaan orang-orang sebelum datangnya risalah Islam yang paripurna ke muka bumi. Mereka enggan melakukan aktivitas penting karena dihantui perasaan takut akan tertimpa keburukan jika memaksakan diri. Ketakutan inilah yang kemudian membentuk pola pikir irasional di tengah kehidupan sosial bermasyarakat.

Namun, seiring berkembangnya pemikiran, hal semacam ini perlahan mulai dikritisi oleh para ulama dan cendekiawan muslim. Edukasi tiada henti terus dilakukan demi meluruskan pandangan yang keliru tersebut agar tidak menimbulkan keresahan massal. Pemahaman yang benar sangat diperlukan agar tidak ada lagi yang terbelenggu oleh ketakutan tak beralasan.

Pandangan Islam terhadap Mitos Bala

Islam datang sebagai cahaya yang menghapus segala bentuk kebodohan dan keyakinan tak berdasar mengenai sebuah waktu. Nabi secara tegas membantah adanya kesialan yang menempel dan bersemayam pada sebuah periode kalender. Bulan Safar memiliki kedudukan yang sama mulianya dengan bulan-bulan hijriah lainnya di mata sang pencipta.

Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis yang sangat populer mengenai larangan memercayai kesialan pada hari atau bulan tertentu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

“Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada kesialan, tidak ada burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mematahkan segala argumen yang menyebutkan bahwa ada bulan tertentu yang diciptakan untuk membawa bencana. Segala ketetapan mengenai kebaikan maupun ujian mutlak berada dalam genggaman sang penguasa alam semesta. Tidak ada satu detik pun waktu yang diciptakan khusus untuk membawa kemudaratan bagi hamba yang beriman.

Sikap Optimis yang Harus Dimiliki

Daripada merasa cemas berlebihan, Sahabat MQ dianjurkan untuk terus memupuk rasa optimis dan positif di dalam dada. Islam senantiasa mengajarkan umatnya untuk memiliki pandangan baik terhadap segala skenario kehidupan yang sedang bergulir. Sikap berprasangka baik kepada Allah akan mendatangkan ketenangan batin yang luar biasa dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Berprasangka baik ini sering disebut dengan istilah tafaul yang amat dianjurkan untuk terus diaplikasikan dalam kehidupan. Ketika seseorang memiliki harapan yang besar terhadap pertolongan yang Mahakuasa, maka jalan keluar akan selalu terbuka. Pikiran yang jernih juga membuat seseorang lebih produktif dalam merajut asa dan menata cita-cita ke depan.

Mari buang jauh-jauh segala bentuk kecemasan yang sama sekali tidak memiliki landasan kokoh dalam ajaran agama. Teruslah berbuat kebaikan dan sebarkan energi positif kepada seluruh sanak keluarga di sekitar lingkungan tempat tinggal. Kunci dari segala kebahagiaan sejati adalah kepasrahan dan rida terhadap seluruh ketetapan yang telah digariskan.