Muhammad Al-Fatih, salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan kerajaan romawi timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Sultan Muhammad Al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa.  Termasuk jasanya yang paling penting adalah ia berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.

Ketika menaklukkan Konstamtinopel, Al-Fatih menyiapkan lebih dari empat juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.

Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar romawi ini terlihat sejak awal. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung tanduk emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad Al Fatih menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran kiev yang menyerang bizantium di abad ke-10, para pangeran kiev menarik kapalnya keluar selat Bosporus, mengelilingi galata, dan meluncurkannya kembali di tanduk emas. Akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi.

Lalu, Sultan Muhammad AL Fatih melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang. Mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad Al Fatih dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya, dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan, akan tetapi itulah yang terjadi.

Peperangan dahsyat pun terjadi. Benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin.

Keberanian dan ketangguhan Muhammad Al-Fatih. Usianya masih muda namun berpengaruh terhadap peradaban Islam.