Konsep Ifadah dan Istifadah dalam Hubungan Sosial

Keutamaan paling puncak dari sifat Al-Ulfah atau persatuan adalah terciptanya siklus ifadah (memberikan manfaat) dan istifadah (mengambil manfaat). Manusia secara kodrati diciptakan saling membutuhkan kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Persatuan yang kokoh akan mengubah potensi individu menjadi kekuatan kolektif yang dahsyat.

Sahabat MQ dapat merenungkan bagaimana indahnya ketika yang kaya membantu yang miskin, dan yang berilmu mengajari yang belum tahu. Tidak ada ruang bagi sikap egois atau mementingkan diri sendiri dalam masyarakat yang mempraktikkan ajaran kitab Taisirul Kholaq. Hidup akan terasa lebih berkah saat keberadaan diri mendatangkan solusi bagi orang lain.

Prinsip saling memberi kegunaan dan manfaat antarmanusia ini diperintahkan secara tegas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Kolaborasi positif inilah yang melahirkan peradaban gemilang.

Menghadirkan Keadilan yang Proporsional dalam Kehidupan

Saling menolong dalam bingkai persatuan secara otomatis akan melahirkan sikap adil di tengah masyarakat. Keadilan dalam pandangan Islam bukan berarti membagi segala sesuatu secara sama rata, melainkan menempatkan sesuatu proporsional sesuai porsinya. Ustadz Olis Abdul Kholis memberikan contoh konkret mengenai pemberian uang saku anak sekolah yang disesuaikan dengan jenjang pendidikannya.

Ketika keadilan proporsional ini diterapkan dalam kehidupan sosial dan ekonomi, kecemburuan sosial yang memicu perpecahan dapat ditekan. Setiap orang akan merasa dihargai dan dipenuhi hak-haknya sesuai dengan kebutuhan riil mereka. Persatuan pun akan tumbuh secara alami dari rasa puas dan aman yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk selalu bersikap adil dalam segala situasi karena kedekatannya dengan ketakwaan:

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8). Keadilan sosial adalah buah manis dari persatuan yang didasari oleh iman.

Meraih Surga Bersama Lewat Semangat Saling Menguatkan

Tujuan akhir dari seluruh rangkaian perbaikan akhlak dan penjagaan persatuan di dunia adalah agar dapat berkumpul kembali di surga-Nya kelak. Keberhasilan sejati seorang muslim adalah ketika mampu menyelamatkan diri dan mengajak orang di sekitarnya berjalan di atas rida Allah. Semangat saling menguatkan dalam ibadah adalah modal utama meraih cita-cita mulia ini.

Sahabat MQ jangan pernah lelah untuk menjadi pelopor kedamaian, agen pemersatu, dan penyebar kasih sayang di lingkungan masing-masing. Ketika persatuan umat terwujud di dunia, jalan menuju rida dan ampunan Allah akan terbuka lebar. Semoga seluruh ikhtiar dalam mengamalkan isi Kitab Taisirul Kholaq ini menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan kunci utama untuk mendapatkan kasih sayang dari sang Pencipta alam semesta:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh zat yang Maha Pengasih. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Menjadi pribadi pemersatu adalah bukti nyata dari sifat penyayang ini.