Memahami Esensi Pengobatan Nabi Secara Luas

Sahabat MQ, selama ini banyak di antara kita yang memahami Thibbun Nabawi secara sempit, seolah-olah hanya terbatas pada penggunaan madu, jintan hitam (habbatussauda), atau bekam saja. Namun, Dr. dr. H. Asep Hermana mengajak kita untuk melihat lebih dalam. Beliau menjelaskan bahwa esensi dari pengobatan Nabi adalah penggunaan ikhtiar terbaik yang tersedia pada zamannya. Rasulullah adalah sosok yang sangat terbuka terhadap kemajuan teknologi yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia. hibb nabawi adalah metode pengobatan yang bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan kata lain, sumber pengetahuan tentang metode thibb nabawi adalah wahyu (dalil syar’i), baik yang didapatkan dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,

طب النبي صلى الله عليه وسلم متيقن البرء لصدوره عن الوحي وطب غيره أكثره حدس أو تجربة

Artinya: “Pengobatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diyakini mendatangkan kesembuhan karena bersumber dari wahyu. Sedangkan pengobatan lainnya, kebanyakan berdasarkan praduga atau eksperimen.” (Fathul Baari, 10: 170)

Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafidzahullahu Ta’ala berkata,

“Sesungguhnya istilah “thibb nabawi” dimaksudkan untuk semua petunjuk valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan masalah pengobatan, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berobat dengannya atau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam gambarkan (jelaskan) kepada orang lain, baik (bersumber dari) ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits-hadits yang mulia.

Hal itu mencakup metode yang bersifat pencegahan (preventif) atau pengobatan (kuratif) yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; atau yang beliau kabarkan; atau beliau memotivasi untuk berobat dengannya; atau wasiat-wasiat beliau yang berkaitan dengan kesehatan manusia dalam berbagai kondisi kehidupannya, baik berupa makan, minum, berpakaian, tempat tinggal, pernikahan; dan mencakup pula ajaran syariat yang berkaitan dengan perkara pengobatan dan pencegahan penyakit, atau ruqyah syar’iyyah, atau adab berobat dan praktek pengobatan.” (Ath-Thibb Nabawi: Wahyun am Tajribat, hal. 5-6)

Logika Kuda dan Jet Tempur dalam Dunia Medis

Dalam kajian tersebut, sebuah analogi cerdas diberikan: Jika dahulu Bilal bin Rabah mendaki tempat tinggi untuk azan agar suaranya terdengar luas, apakah hari ini muazin harus tetap naik ke menara meski sudah ada mikrofon? Tentu tidak. Begitu pula dengan pengobatan. Jika dahulu belum ada teknologi bedah canggih untuk batu empedu, maka hari ini operasi laparoskopi adalah “kendaraan tercanggih” yang selaras dengan semangat Nabi dalam mencari kesembuhan maksimal. Menolak teknologi medis yang sudah teruji keamanannya justru bisa menjauhkan kita dari tujuan utama syariat, yaitu menjaga jiwa (hifzun nafs).

Dalil Islam Mengenai Ikhtiar Kesembuhan

Islam sangat menekankan pentingnya berikhtiar secara ilmiah dan profesional sebelum berserah diri sepenuhnya. Rasulullah saw. bersabda:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Artinya: “Semua penyakit ada obatnya. Jika obat itu sesuai dengan penyakitnya, niscaya ia akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim). Sahabat MQ, hadis ini memotivasi kita untuk terus mencari “obat yang sesuai” melalui kemajuan sains kedokteran saat ini.