Bahaya Terselubung dari Ucapan yang Sia-sia
Banyak yang sering mempertanyakan mengapa untaian doa yang dipanjatkan setiap hari seolah-olah berlalu begitu saja tanpa ada tanda-tanda kesembuhan atau jalan keluar. Sahabat MQ perlu menyisir kembali lembaran aktivitas harian, terutama mengenai seberapa sering lisan ini mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna. Kebiasaan celetak-celetuk, gemar berkomentar negatif di media sosial, serta kesenangan dalam membicarakan urusan orang lain merupakan kerikil tajam yang menyumbat aliran berkah. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai hamba-Nya yang banyak bicara tanpa ada nilai kebaikan di dalamnya, dan sebagai dampaknya, ketenangan hati akan dicabut.
Ketika lisan dibiarkan liar tanpa kendali, hati manusia secara perlahan akan mengeras laksana batu yang sulit ditembus oleh hidayah. Akibatnya, saat melakukan ibadah seperti salat atau berdoa, pikiran akan melayang ke mana-mana dan kehilangan fokus utamanya. Sahabat MQ yang mendambakan kedekatan dengan Sang Khalik tentu harus menyadari bahwa kebersihan lisan mencerminkan kesucian jiwa yang ada di dalam. Ruang lingkup doa yang mustajab hanya akan tercipta ketika hamba tersebut benar-benar selektif dalam memilih setiap patah kata yang keluar dari mulutnya dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan mengenai dampak buruk dari banyaknya ucapan yang tidak mengandung rida Allah ini telah disampaikan oleh baginda Nabi dalam sebuah pesan yang sarat makna.
لاَ تُكْثِرُوا الْكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ
Artinya: Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara tanpa berzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa berzikir kepada Allah membuat hati menjadi keras. (HR. Tirmidzi). Hati yang keras inilah yang kemudian menjauhkan manusia dari terkabulnya doa.
Mengikis Penyakit Hati Melalui Jaga Lisan
Perjalanan menuju pembersihan jiwa atau pemulihan dari kondisi qolbun marid (hati yang sakit) senantiasa menuntut adanya pengorbanan dalam bentuk mujahadah yang kuat. Mengendalikan lisan bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga seperti saat berpuasa, melainkan menahan ego untuk tidak selalu merasa paling tahu dan paling benar. Sahabat MQ yang mampu melewati ujian ini akan mendapati bahwa lingkungan sekitar, mulai dari lingkup keluarga hingga masyarakat, akan bertransformasi menjadi tempat yang sangat nyaman. Kedamaian komunal selalu berakar dari kemampuan anggotanya dalam menyaring ucapan agar tidak melukai perasaan orang lain.
Setiap patah kata yang diucapkan secara ceroboh berpotensi mengubah suasana yang awalnya penuh kehangatan menjadi penuh permusuhan dalam sekejap mata. Oleh karena itu, penting untuk selalu memastikan bahwa sebelum berbicara, niat di dalam hati sudah lurus, perkataan yang dipilih benar, dan manfaatnya nyata. Jika ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi, maka pilihan terbaik yang mendatangkan kemuliaan adalah memilih untuk diam. Sahabat MQ akan merasakan bahwa dengan mengadopsi prinsip ini, waktu yang dimiliki akan menjadi jauh lebih produktif untuk berzikir dan bermunajat kepada-Nya.
Keselarasan antara lisan dan kelurusan iman seorang hamba memiliki kaitan erat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut.
لاَ يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلاَ يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ
Artinya: Tidak akan istikamah iman seorang hamba hingga istikamah hatinya, dan tidak akan istikamah hatinya hingga istikamah lisannya. (HR. Ahmad). Istikamah inilah yang menjadi kunci pembuka pintu-pintu langit.
Menghidupkan Jiwa yang Mati dengan Zikrullah
Seseorang yang membiarkan hari-harinya berlalu tanpa adanya kesadaran untuk menjaga lisan sering kali berakhir dalam kondisi jiwa yang gersang dan mati. Untuk menghidupkannya kembali, tidak ada jalan lain selain melakukan hijrah besar-besaran dengan memenuhi sisa usia dengan lantunan ayat suci dan zikir yang tulus. Sahabat MQ dapat memulai langkah ini dengan membaca Al-Qur’an secara rutin serta merenungi setiap makna yang terkandung di dalamnya dengan saksama. Kedekatan dengan kitab suci ini laksana air hujan yang membasahi tanah kering, menumbuhkan kembali rasa harap dan takut hanya kepada Allah.
Ketika seseorang sudah terbiasa membasahi lidahnya dengan zikrullah, maka secara otomatis ketertarikan terhadap obrolan yang tidak bermutu akan hilang dengan sendirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan penyertaan yang sangat istimewa bagi setiap hamba yang senantiasa mengingat-Nya dalam setiap keadaan. Kesadaran akan kehadiran-Nya yang maha dekat dan maha melihat inilah yang menjadi benteng pertahanan terkuat dari godaan maksiat. Sahabat MQ akan menikmati indahnya berdua dengan Pencipta dalam keheningan malam, tempat segala keluh kesah berubah menjadi kedamaian yang hakiki.
Penyertaan dan pembelaan Allah yang luar biasa bagi hamba yang gemar berzikir telah ditegaskan dalam sebuah hadis qudsi yang sangat menentramkan jiwa.
أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ
Artinya: Aku bersama hamba-Ku selama dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku. (HR. Ibnu Majah). Dengan penyertaan-Nya, tidak ada lagi ruang bagi kecemasan dalam kehidupan.