Gerakan Menyingkirkan Gangguan di Jalan

Menyingkirkan duri atau sampah dari jalanan adalah cabang iman yang paling sederhana namun sering terlupakan. Dalam konteks modern, “gangguan” ini bisa berupa limbah plastik atau genangan air akibat drainase yang buruk. Dakwah berwawasan lingkungan mengajak kita untuk melihat pengelolaan sampah bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang amal saleh yang bisa dilakukan setiap detik.

Allah berfirman dalam (QS. Al-Baqarah: 60)

كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Artinya: “Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.”

Konsep Sedekah Sampah di Masjid

Dr. Dudung mendorong adanya inovasi dakwah melalui program-program berbasis masyarakat seperti “Sedekah Sampah”. Jamaah masjid diajak untuk mengumpulkan sampah anorganik yang dapat didaur ulang, kemudian hasilnya digunakan untuk kemaslahatan umat. Pola ini tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga memberdayakan ekonomi jamaah sekaligus memperkuat ukhuwah islamiyah.

Rasulullah bersabda (HR. Bukhari & Muslim)

إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

Artinya: “Menyingkirkan gangguan (seperti duri, batu, atau sampah) dari jalan adalah sedekah.”

Gaya Hidup Minim Limbah (Zero Waste)

Islam sangat melarang sikap berlebih-lebihan (*tabdzir*). Pola konsumsi yang menghasilkan banyak limbah merupakan bentuk dari perilaku boros yang dicela oleh agama. Dengan menerapkan gaya hidup hemat dan minimalis, kita sebenarnya sedang menjalankan sunnah Rasulullah dalam kesederhanaan. Dakwah lingkungan mengajarkan kita untuk kembali pada pola konsumsi yang secukupnya dan tidak merusak keseimbangan alam.