Transformasi Materi Dakwah di Mimbar
Selama ini, isu lingkungan sering dianggap sebagai domain aktivis atau ilmuwan saja. Namun, Dr. Dudung dari PP Persis menegaskan bahwa para dai memiliki peran strategis untuk menyisipkan pesan pelestarian alam dalam setiap ceramahnya. Mimbar-mimbar masjid harus menjadi pusat edukasi ekologi yang menyentuh sisi spiritualitas umat sehingga kesadaran lingkungan muncul dari niat karena Allah.
Menanam Pohon Sebagai Sedekah Jariyah
Salah satu poin menarik adalah konsep menanam pohon yang bernilai pahala abadi. Dalam sebuah hadis, Rasulullah menekankan pentingnya menanam bibit pohon meskipun kiamat sudah di depan mata. Hal ini menunjukkan betapa Islam sangat menghargai upaya pelestarian lingkungan. Jika seorang dai mampu menggerakkan jamaahnya untuk menanam satu pohon, maka ia telah membuka keran pahala yang terus mengalir bagi umatnya.
Allah berfirman dalam (QS. Al-Qashas: 77)
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ بَغْيَ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ
Artinya: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.”
Da’i Ekologis Sebagai Teladan Masyarakat
Seorang pendakwah tidak hanya dituntut pandai bicara, tetapi juga harus menjadi contoh nyata dalam perilaku ramah lingkungan. Dengan membawa botol minum sendiri (tumbler) saat berceramah atau memelopori pengelolaan sampah di pondok pesantren, seorang dai memberikan efek dakwah yang jauh lebih kuat. Keteladanan ini akan memudahkan transformasi budaya di masyarakat menuju gaya hidup yang lebih hijau.
Rasulullah bersabda (HR. Ahmad)
إِنَّ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
Artinya: “Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit pohon, maka apabila ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.”