uang

Pentingnya Menjaga Pikiran Positif ke Pencipta di Tengah Badai Ekonomi

Sering kali kita merasa sudah memeras keringat dari pagi hingga malam, namun isi dompet rasanya begitu-begitu saja. Keadaan ini tidak jarang membuat hati mulai diliputi rasa cemas, gelisah, bahkan menyalahkan keadaan. Melalui program Inspirasi Quran dalam pembahasan Kajian Kitab Al Hikam, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) mengajak Sahabat MQ untuk sejenak berhenti dan memeriksa kembali bagaimana kondisi hati kita masing-masing. Apakah kita selama ini sedang terlalu fokus pada besarnya masalah keuangan atau justru lupa pada Mahabesar yang mengatur segala urusan?

Aa Gym mengingatkan bahwa fondasi utama dalam menghadapi impitan ekonomi adalah menjaga husnuzan atau prasangka baik kepada Allah. Rezeki setiap makhluk di bumi ini sudah dijamin dengan sangat sempurna dan tidak akan pernah tertukar. Ketika kita membiarkan kesulitan membuat kita meragukan jaminan-Nya, di situlah iman kita sedang diuji.

Pikiran positif kepada Allah adalah kunci pembuka ketenangan. Menjaga keyakinan ini bukan berarti kita mengabaikan realitas, melainkan meyakinkan diri bahwa ada hikmah besar di balik setiap ujian yang hadir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, Sahabat MQ, mari kita perbaiki prasangka kita agar pintu kemudahan mulai terbuka lebar.

Amalan Langit Penggugur Kesulitan Hidup Lewat Gerakan Salat yang Benar

Banyak yang mengira jalan keluar dari masalah keuangan adalah dengan mencari pinjaman atau bekerja tanpa henti hingga melupakan waktu beribadah. Padahal, bagi seorang mukmin, pertolongan pertama justru datang dari atas sajadah. Memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah melalui ibadah salat adalah langkah awal yang mutlak dilakukan jika ingin urusan duniawi kita ikut dipermudah.

Sahabat MQ disarankan untuk tidak hanya mencukupkan diri dengan salat fardu yang lima waktu saja. Cobalah untuk mulai memperbanyak sujud dengan mendirikan salat sunah secara istikamah. Shalat sunah rawatib, tahajud di sepertiga malam, serta salat duha di pagi hari merupakan paket lengkap amalan yang bisa memperluas jalan rezeki kita.

Dengan memperbanyak sujud, kita sedang merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Sang Pemilik Semesta, sekaligus meninggikan derajat spiritual kita. Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai kedekatan seorang hamba saat bersujud:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim).

Logika Sedekah yang Membingungkan, Mengapa Memberi Justru Membuat Kaya?

Secara hitungan matematika manusia, mengeluarkan sebagian harta saat kondisi keuangan sedang kritis adalah sebuah kerugian. Logika awam akan mengatakan bahwa saldo tabungan akan berkurang jika terus-menerus dibagikan kepada orang lain. Namun, Sahabat MQ harus paham bahwa matematika Allah sangat berbeda dengan kalkulator duniawi yang kita miliki.

Sedekah di kala sempit justru menjadi pembuka sumbatan rezeki yang paling ampuh. Ketika kita berani berbagi di tengah keterbatasan, kita sedang membuktikan kepada Allah bahwa kita tidak diperbudak oleh harta. Amalan mulia ini justru mengundang keberkahan yang bentuknya bisa berupa kesehatan, ketenangan, maupun peluang usaha baru.

Jangan pernah takut miskin karena gemar menolong sesama yang kesusahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan jaminan yang sangat tegas melalui sabdanya:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim).

Janji ini yang harus kita pegang erat-erat, Sahabat MQ, agar jemari kita tidak lagi ragu untuk mengulurkan bantuan demi menjemput rida-Nya.