el nino

MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Potensi terjadinya Super El Nino kembali menjadi perhatian berbagai pihak karena dampaknya yang dapat meluas ke berbagai sektor kehidupan. Selain meningkatkan risiko kekeringan dan mengganggu ketahanan pangan, fenomena iklim ini juga berpotensi memperbesar ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.

Pengalaman dari berbagai peristiwa El Nino sebelumnya menunjukkan bahwa musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering sering kali berkorelasi dengan meningkatnya jumlah titik panas serta kejadian kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga hubungan lintas negara akibat kabut asap.

Di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem yang dipengaruhi perubahan iklim global, kesiapan Indonesia dalam menghadapi risiko karhutla menjadi semakin penting. Pertanyaannya, sejauh mana Indonesia siap menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan apabila Super El Nino benar-benar terjadi?

Super El Nino dan Musim Kering yang Lebih Panjang

El Nino merupakan fenomena iklim yang ditandai oleh meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Dampaknya terhadap Indonesia umumnya berupa penurunan curah hujan dan musim kemarau yang berlangsung lebih lama dari biasanya.

Ketika fenomena tersebut berkembang menjadi Super El Nino, intensitas dampaknya dapat meningkat secara signifikan. Curah hujan yang berkurang dalam waktu panjang menyebabkan vegetasi menjadi lebih kering, kadar air di tanah menurun, dan risiko kebakaran semakin tinggi.

Dalam kondisi tersebut, lahan gambut menjadi salah satu kawasan yang paling rentan. Gambut yang mengering sangat mudah terbakar dan api dapat menyebar hingga ke lapisan bawah tanah sehingga sulit dipadamkan.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena Indonesia memiliki kawasan gambut yang cukup luas, terutama di Sumatra dan Kalimantan.

Ancaman Karhutla yang Berulang

Kebakaran hutan dan lahan bukanlah persoalan baru bagi Indonesia. Hampir setiap periode kemarau panjang, ancaman karhutla kembali muncul dan menimbulkan dampak yang tidak sedikit.

Selain menyebabkan kerusakan lingkungan, kebakaran juga mengakibatkan hilangnya habitat satwa liar, menurunkan kualitas udara, mengganggu aktivitas masyarakat, dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.

Kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan bahkan dapat menyebar hingga ke wilayah lain, memengaruhi sektor transportasi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga persoalan sosial, ekonomi, dan kesehatan yang memerlukan penanganan lintas sektor.

Daerah Rawan Perlu Mendapat Perhatian Khusus

Sejumlah wilayah di Indonesia memiliki tingkat kerawanan yang lebih tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan, terutama daerah yang memiliki kawasan gambut luas dan mengalami penurunan curah hujan secara signifikan saat El Nino terjadi.

Wilayah Sumatra bagian selatan, Kalimantan, sebagian Sulawesi, serta beberapa daerah di Nusa Tenggara sering kali menjadi kawasan yang mendapat perhatian khusus ketika musim kemarau berlangsung.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa perubahan iklim menyebabkan pola cuaca semakin dinamis sehingga wilayah yang sebelumnya tidak terlalu rentan pun tetap perlu meningkatkan kewaspadaan.

Karena itu, pemantauan kondisi cuaca dan iklim menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan karhutla.

Ketua Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG), Dr. Deni Septiadi, M.Si., menegaskan bahwa fenomena cuaca dan iklim ekstrem harus dipahami berdasarkan data ilmiah dan hasil pemantauan yang akurat.

Menurutnya, perubahan kondisi iklim seperti El Nino memang dapat meningkatkan risiko berbagai bencana hidrometeorologi, termasuk kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan. Oleh karena itu, pemanfaatan informasi meteorologi dan klimatologi menjadi sangat penting dalam mendukung langkah-langkah mitigasi.

Dr. Deni menilai bahwa sistem peringatan dini harus dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah daerah, instansi terkait, maupun masyarakat untuk mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami kondisi kering ekstrem.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan literasi iklim agar masyarakat memahami bahwa risiko kebakaran tidak hanya dipengaruhi oleh faktor cuaca, tetapi juga aktivitas manusia.

Menurutnya, kesiapsiagaan yang baik harus dibangun melalui kolaborasi antara informasi ilmiah, kebijakan yang tepat, dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Dampak Karhutla terhadap Kesehatan Masyarakat

Salah satu dampak terbesar dari kebakaran hutan dan lahan adalah menurunnya kualitas udara akibat asap yang dihasilkan.

Paparan asap dalam jangka waktu tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, gangguan pernapasan, serta masalah kesehatan lainnya.

Kelompok yang paling rentan meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas masyarakat juga ikut terganggu. Sekolah dapat menghentikan kegiatan tatap muka sementara, aktivitas luar ruangan dibatasi, dan produktivitas masyarakat mengalami penurunan.

Karena itu, pencegahan karhutla tidak hanya penting untuk menjaga lingkungan, tetapi juga untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Upaya Pencegahan yang Harus Diperkuat

Menghadapi ancaman Super El Nino, strategi utama yang perlu dikedepankan adalah pencegahan.

Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan perlu memperkuat pemantauan titik panas, patroli kawasan rawan kebakaran, serta pengelolaan sumber daya air di wilayah yang rentan mengalami kekeringan.

Restorasi gambut dan perlindungan kawasan hutan juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran di masa mendatang.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan perlu terus dilakukan. Sebagian kejadian karhutla masih dipicu oleh aktivitas manusia, sehingga perubahan perilaku menjadi bagian penting dalam strategi mitigasi.

Perubahan Iklim Menambah Kompleksitas Tantangan

Para ahli menilai bahwa perubahan iklim global membuat berbagai fenomena cuaca ekstrem menjadi semakin sulit diprediksi.

Peningkatan suhu rata-rata bumi dapat memperburuk kondisi kekeringan ketika El Nino terjadi, sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Kondisi ini menuntut adanya pendekatan yang lebih adaptif dalam pengelolaan lingkungan dan kebencanaan.

Indonesia perlu memperkuat kapasitas pemantauan iklim, meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana, serta membangun sistem mitigasi yang mampu merespons perubahan kondisi secara cepat dan efektif.

Kesiapan Menjadi Kunci Mengurangi Risiko

Ancaman kebakaran hutan dan lahan saat Super El Nino bukanlah sesuatu yang dapat diabaikan. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa dampaknya dapat meluas hingga memengaruhi lingkungan, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Sebagaimana disampaikan Dr. Deni Septiadi, kesiapsiagaan yang berbasis data dan informasi ilmiah menjadi faktor penting dalam menghadapi berbagai risiko yang muncul akibat fenomena iklim ekstrem.

Melalui sistem peringatan dini yang kuat, pengawasan yang lebih intensif, perlindungan kawasan rawan, serta partisipasi aktif masyarakat, Indonesia memiliki peluang untuk meminimalkan dampak kebakaran hutan dan lahan di masa mendatang.

Super El Nino memang membawa tantangan besar, tetapi dengan perencanaan yang matang dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat, risiko yang ditimbulkan dapat dikelola dengan lebih baik. Upaya pencegahan yang dilakukan hari ini akan menjadi investasi penting untuk menjaga lingkungan dan keselamatan masyarakat di masa depan.