MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Fenomena El Nino merupakan bagian dari siklus iklim global yang ditandai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Ketika intensitasnya sangat kuat, fenomena ini dikenal sebagai Super El Nino. Dalam sejarah, Super El Nino pernah terjadi pada tahun 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016, yang memicu berbagai bencana seperti kekeringan ekstrem, kebakaran hutan, gagal panen, hingga krisis air di sejumlah negara. 

Memasuki tahun 2026, sejumlah lembaga iklim dunia dan nasional kembali mengingatkan potensi berkembangnya El Nino kuat yang dapat memengaruhi berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan adanya peluang 50–80 persen terjadinya El Nino pada paruh kedua tahun 2026 yang dapat memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan. 

Dampak Super El Nino bagi Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat rentan terhadap dampak El Nino karena sebagian besar sektor pertanian dan sumber daya air masih bergantung pada curah hujan.

Menurut BMKG, ketika El Nino terjadi, curah hujan di banyak wilayah Indonesia dapat berkurang signifikan sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering dibanding kondisi normal. Kondisi ini berpotensi mengganggu berbagai sektor kehidupan masyarakat. 

Ancaman Kekeringan dan Krisis Air Bersih

Kekeringan menjadi dampak paling langsung yang dirasakan masyarakat. Berkurangnya curah hujan menyebabkan debit sungai, waduk, dan sumber air tanah menurun.

Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, pernah menjelaskan bahwa pengalaman Indonesia pada tahun 1997, 2015, dan 2019 menunjukkan El Nino dapat memicu kekeringan yang berdampak pada sektor pertanian, kesehatan, hingga kualitas udara. 

Bagi masyarakat pedesaan yang mengandalkan sumur dangkal dan mata air, kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan memperoleh air bersih. Di daerah perkotaan, tekanan terhadap sistem penyediaan air minum juga berpotensi meningkat.

Ketahanan Pangan di Tengah Super El Nino

Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak oleh El Nino. Berkurangnya pasokan air untuk irigasi dapat mengganggu musim tanam, menurunkan produktivitas tanaman pangan, dan meningkatkan risiko gagal panen.

Penelitian mengenai dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan Indonesia menunjukkan bahwa kekeringan akibat El Nino menyebabkan perubahan musim tanam, peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman, serta penurunan hasil produksi pertanian. 

Pengamat pertanian menilai bahwa tantangan terbesar bukan hanya penurunan produksi, tetapi juga stabilitas harga pangan. Ketika produksi menurun sementara permintaan tetap tinggi, harga beras, jagung, cabai, dan komoditas lainnya berpotensi meningkat.

Meski demikian, sejumlah pihak optimistis Indonesia memiliki kesiapan yang lebih baik dibanding beberapa tahun lalu. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut pemerintah telah memperkuat infrastruktur irigasi, program pompanisasi, serta cadangan beras nasional sebagai langkah mitigasi menghadapi musim kering ekstrem. 

Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan

Setiap kali El Nino terjadi, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selalu menjadi perhatian utama.

BMKG memperingatkan bahwa kondisi cuaca yang lebih kering dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia. 

Pengamat kehutanan dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Fiqri Ardiansyah, menjelaskan bahwa El Nino membuat vegetasi dan lahan gambut menjadi lebih kering sehingga mudah terbakar. Namun, ia menegaskan bahwa faktor manusia, terutama praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, tetap menjadi penyebab dominan terjadinya kebakaran besar.

Apabila kebakaran meluas, dampaknya tidak hanya berupa kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat dan transportasi.

Dampak terhadap Kesehatan Masyarakat

Super El Nino juga dapat membawa berbagai risiko kesehatan.

Cuaca panas berkepanjangan dapat meningkatkan kasus dehidrasi, heat stress, dan penyakit terkait suhu ekstrem. Kualitas udara yang memburuk akibat kebakaran hutan juga berpotensi meningkatkan gangguan pernapasan seperti ISPA, terutama pada anak-anak dan lansia. 

Selain itu, keterbatasan akses terhadap air bersih dapat meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan kebersihan lingkungan.

Kesiapsiagaan Pemerintah dan Masyarakat

Menghadapi potensi Super El Nino, kesiapsiagaan menjadi faktor kunci untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.

BMKG terus melakukan pemantauan kondisi iklim dan mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat untuk memperkuat langkah-langkah antisipatif. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Menghemat penggunaan air sejak dini.
  2. Menyiapkan cadangan air bersih di wilayah rawan kekeringan.
  3. Mengoptimalkan sistem irigasi pertanian.
  4. Melakukan penyesuaian pola tanam sesuai prediksi musim.
  5. Memperketat pengawasan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
  6. Memperkuat edukasi masyarakat mengenai risiko cuaca ekstrem. 

Menurut pengamat kebijakan lingkungan, keberhasilan menghadapi El Nino tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga sumber daya air dan mencegah aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Perubahan Iklim dan Fenomena Cuaca Ekstrem

Para ilmuwan mengingatkan bahwa dampak El Nino saat ini tidak dapat dipisahkan dari perubahan iklim global. Pemanasan global menyebabkan suhu rata-rata bumi terus meningkat sehingga efek El Nino berpotensi menjadi lebih kuat dan lebih merusak dibanding masa lalu. 

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, bahkan mengingatkan bahwa El Nino dapat menjadi “bahan bakar tambahan” bagi dunia yang sudah semakin panas akibat perubahan iklim, sehingga diperlukan sistem peringatan dini dan langkah adaptasi yang lebih kuat. 

Di Indonesia, perubahan iklim juga diperkirakan akan meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem yang berdampak pada sektor energi, pertanian, sumber daya air, dan kesehatan masyarakat. 

Pandangan Para Pengamat

BMKG

BMKG menilai peluang berkembangnya El Nino pada paruh kedua 2026 perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan musim kemarau lebih panjang, kekeringan, dan peningkatan risiko kebakaran hutan serta lahan. 

Pengamat Kehutanan UGM

Fiqri Ardiansyah menegaskan bahwa El Nino meningkatkan kerentanan hutan terhadap kebakaran, namun faktor manusia tetap menjadi penentu utama sehingga pencegahan pembakaran lahan harus diperketat. 

Pengamat Pertanian

Kalangan akademisi dan peneliti ketahanan pangan menilai El Nino berpotensi mengganggu produksi pangan melalui perubahan musim tanam, kekurangan air, dan meningkatnya serangan hama sehingga strategi adaptasi pertanian harus diperkuat. 

Pengamat Iklim Global

Sejumlah pakar iklim internasional mengingatkan bahwa Super El Nino yang terjadi bersamaan dengan tren pemanasan global dapat memperparah kekeringan, krisis pangan, dan bencana kebakaran di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia.

Penutup

Potensi Super El Nino bukan sekadar isu cuaca, melainkan tantangan besar yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari ketersediaan air, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, hingga kelestarian lingkungan. Dengan memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan mempercepat langkah adaptasi terhadap perubahan iklim, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh fenomena cuaca ekstrem ini.