Kecenderungan Manusia yang Hanya Datang di Kala Sempit
Sudah menjadi rahasia umum bahwa manusia sering kali memiliki ingatan yang sangat kuat kepada Allah Swt. hanya ketika dirundung masalah berat. Di kala air mata menetes dan jalan buntu menghadang, untaian doa dan zikir mengalir dengan sangat fasih dari bibir. Namun, pemandangan tersebut sering kali berubah drastis sewaktu awan mendung kehidupan telah berganti dengan cerahnya kesuksesan.
Sahabat MQ, ketika kenyamanan hidup dan fasilitas duniawi terpenuhi, ada bahaya laten berupa sifat sombong yang perlahan merayap ke dalam hati. Kelalaian ini membuat jiwa merasa bahwa segala keberhasilan yang diraih adalah murni hasil kerja keras dan kecerdasan pribadi. Melupakan peran Allah saat kondisi lapang merupakan awal dari petaka spiritual yang mengancam ketenangan.
Hubungan dengan Sang Pencipta seharusnya dijaga agar tetap hangat dalam segala fluktuasi kondisi kehidupan, baik suka maupun duka. Allah Swt. memberikan sindiran yang sangat tajam mengenai sifat manusia yang mudah berpaling ini melalui firman-Nya dalam Surah Yunus ayat 12:
وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ
Artinya: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia kembali (melalui jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.”
Menjaga Komunikasi Spiritual Dua Arah di Setiap Fase Kehidupan
Menjadikan Allah Swt. sebagai pusat tujuan hidup berarti bersedia melibatkan-Nya dalam setiap embusan napas dan keputusan yang diambil. Saat kebahagiaan datang menghampiri, respons pertama yang harus muncul dari seorang mukmin adalah sujud syukur yang tulus. Rasa syukur ini menjadi jangkar pelindung agar hati tidak terbang melayang terbawa arus pujian makhluk.
Sahabat MQ, komunikasi yang sehat dengan Allah adalah komunikasi yang konsisten, bukan hubungan yang bersifat oportunis semata. Datang kepada Allah saat bahagia menunjukkan kualitas cinta seorang hamba yang tidak bersyarat pada kedukaan. Efek domino dari kebiasaan ini adalah lahirnya kestabilan emosi yang membuat jiwa tidak mudah stres saat badai ujian kembali datang.
Prinsip dasar ini telah diajarkan sejak zaman dahulu agar umat Islam memiliki ketahanan mental yang kokoh di segala zaman. Rasulullah saw. memberikan wasiat berharga mengenai pentingnya mengingat Allah di waktu luang agar dikenal di waktu sempit, sebagaimana sabda beliau:
تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
Artinya: “Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalimu di waktu sempit.”
Keberkahan yang Berlipat Ganda bagi Hamba yang Pandai Bersyukur
Melibatkan Allah saat meraih prestasi atau kenikmatan justru akan menjadi pembuka bagi pintu-pintu kemudahan hidup yang jauh lebih besar. Nikmat yang disyukuri tidak akan berubah menjadi istidraj atau azab yang menyengsarakan di kemudian hari. Justru melalui jalur syukur inilah, nilai kemanfaatan sebuah nikmat dapat dirasakan oleh lingkungan sekitar.
Sahabat MQ, ketenangan hidup yang sejati diperoleh sewaktu diri menyadari bahwa setiap embusan napas adalah pemberian gratis dari-Nya. Tidak ada ruang untuk menyombongkan diri jika kesadaran akan kefanaan dunia telah tertanam kuat di dalam benak. Mari terus merawat hubungan dengan Allah Swt. agar setiap langkah kaki selalu berada di bawah naungan rida-Nya.
Janji Allah Swt. untuk menambah kenikmatan bagi hamba yang bersyukur adalah kepastian hukum langit yang tidak akan pernah meleset. Allah Swt. menegaskan komitmen ini demi menjaga motivasi beribadah hamba-hamba-Nya, sesuai Surah Ibrahim ayat 7:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”