Momentum Pergantian Pasukan Langit di Waktu Fajar

Rasa kantuk yang berat saat azan subuh berkumandang sering kali menjadi ujian terbesar bagi seorang mukmin. Namun, jika kita memahami apa yang terjadi di balik tirai gaib pada waktu tersebut, niscaya kita akan bergegas bangkit dari tempat tidur. Dalam kajian akidah di MQFM, Ustaz Abu Yahya menjelaskan bahwa waktu subuh bukan sekadar pergantian malam ke siang, melainkan momen istimewa di mana terjadi pergantian “shift” atau tugas pasukan malaikat penjaga manusia.

Rasulullah bersabda:

عن بريدة الأسلمي رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم قال : بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ



Artinya: “Dari Buraidah al-Aslami dari Nabi Muhammad, sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)”

Berdasarkan hadis sahih, malaikat yang bertugas menjaga manusia di malam hari belum beranjak pergi, sementara malaikat yang bertugas di siang hari sudah mulai berdatangan di waktu subuh. Alhasil, pada saat salat subuh berjamaah ditegakkan, terjadi perkumpulan dua rombongan besar malaikat yang memenuhi majelis-majelis ibadah. Fenomena ini membuat doa dan zikir yang dipanjatkan di waktu fajar memiliki bobot spiritual yang jauh lebih tinggi karena diamini oleh ribuan makhluk suci tersebut.

Makna “Masyhuda”: Ibadah yang Disaksikan secara Khusus

Al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan keutamaan waktu ini dalam Surah Al-Isra ayat 78: “Sesungguhnya salat fajar (Subuh) itu disaksikan (oleh malaikat).” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa para malaikat benar-benar hadir untuk memberikan kesaksian di hadapan Allah Swt. mengenai hamba-hamba-Nya yang rela meninggalkan kehangatan tempat tidur demi bersujud kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Qur’an Surat Al – Isra Ayat 78:

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا

Artinya: “Dirikanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh! Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”

Ustaz Abu Yahya menekankan bahwa para malaikat ini kemudian akan melapor kepada Allah Swt. Ketika Allah bertanya (meskipun Dia Maha Mengetahui), “Dalam keadaan apa kalian meninggalkan hamba-Ku?” Para malaikat menjawab, “Kami mendatangi mereka saat mereka sedang salat, dan kami meninggalkan mereka saat mereka juga sedang salat.” Bayangkan betapa mulianya nama kita disebut-sebut oleh penduduk langit karena kedisiplinan kita menjaga waktu subuh di tengah kantuk yang melanda.

Melawan Kantuk dengan Visi Akidah yang Kuat

Memahami eksistensi malaikat yang senantiasa menyertai manusia (Raqib dan Atid) seharusnya menjadi motivasi kuat untuk mengalahkan rasa malas. Ustaz Abu Yahya mengingatkan bahwa malaikat tidak pernah merasa lelah atau bosan dalam melaksanakan perintah Allah. Dengan meneladani ketaatan mereka, seorang muslim diajak untuk lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Rasa kantuk adalah tanda kelemahan fisik manusia, namun visi akidah yang tajam akan memberikan energi tambahan untuk melangkahkan kaki ke masjid.

Rasulullah bersabda:

 ركعتا الفجر خيرٌ من الدنيا وما فيها

Artinya: “Dua rakaat (shalat sunah qabliyah) subuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya. (HR. Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah)”

Selain itu, keberkahan di waktu subuh tidak hanya terbatas pada pahala, tetapi juga ketenangan batin. Kehadiran malaikat membawa sakinah (ketenangan) dan rahmat yang melimpah. Jadi, saat esok pagi rasa kantuk kembali menyerang, ingatlah bahwa ada ribuan malaikat yang sedang menunggu untuk menyaksikan kesungguhan Anda dan membawa laporan kebaikan Anda langsung ke Arsy Allah Swt. Jangan sampai kita melewatkan “absensi” langit hanya karena menuruti keinginan sesaat untuk tidur kembali.