Menghidupkan Sepertiga Malam Terakhir dengan Tangisan Tobat
Kecemasan yang sering kali melanda hati manusia di zaman modern ini kerap kali muncul tanpa alasan fisik yang jelas. Meskipun secara materi segala kebutuhan telah terpenuhi dan fasilitas hidup tergolong mewah, namun rasa hampa tetap saja menyelimuti sanubari. Ditinjau dari sudut pandang spiritual, kegelisahan batin semacam ini pada umumnya merupakan alarm yang menandakan bahwa jiwa kita sedang merindukan kedekatan dengan Sang Pencipta akibat tumpukan dosa-dosa masa lalu.
Jalan keluar yang paling efektif untuk memulihkan kesehatan rohani tersebut adalah dengan memanfaatkan momen sepertiga malam terakhir untuk bertobat. Di saat sebagian besar manusia sedang terlelap dalam tidurnya, langit dunia terbuka lebar mengundang hamba-hamba-Nya yang ingin mengadukan keluh kesah. Sahabat MQ yang bersedia meluangkan waktu untuk mendirikan salat tahajud dan menumpahkan air mata penyesalan akan merasakan beban emosionalnya perlahan-lahan luruh. Pengakuan akan segala kelemahan diri di hadapan-Nya merupakan gerbang menuju ketenangan sejati.
Kesempatan emas untuk mendapatkan ampunan dan pengabulan doa di waktu malam ini telah digambarkan secara eksplisit oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
Artinya: “Tuhan kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, kemudian Dia berfirman: ‘Barang siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, barang siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, dan barang siapa yang memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keajaiban Istigfar sebagai Pembuka Pintu Rezeki dan Ketenangan
Rutinitas membaca istigfar bukan hanya sekadar kalimat lisan yang diucapkan saat seseorang menyadari telah berbuat kesalahan besar. Lebih dari itu, kalimat Astagfirullahal’adzim merupakan sebuah wirid harian yang memiliki daya kekuatan spiritual luar biasa jika dilazimkan secara konsisten. Hamba yang lidahnya senantiasa basah oleh permohonan ampun akan dijaga oleh Allah dari sifat gampang panik dan mudah tersinggung dalam menghadapi dinamika sosial.
Sahabat MQ perlu memahami bahwa setiap hambatan hidup yang kita hadapi, seperti sulitnya mendapatkan pekerjaan atau seretnya perputaran modal usaha, bisa jadi berakar dari timbunan dosa yang menghalangi turunnya rahmat. Dengan memperbanyak istigfar di sepanjang waktu, kita secara aktif sedang meruntuhkan tembok penghalang tersebut. Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang akan menggantikan rasa sesak di dalam dada hamba-Nya dengan kelapangan hati serta jalan keluar yang tidak pernah terlintas dalam analisis logika manusia.
Keutamaan dari pembiasaan melazimkan istigfar ini dijanjikan secara pasti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah sabdanya:
مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمَنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Barang siapa yang senantiasa melazimkan istigfar, niscaya Allah akan memberikan kelapangan dari setiap kegelisahannya, memberikan jalan keluar dari setiap kesempitannya, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (HR. Abu Dawud).
Menjaga Kebersihan Hati dari Penyakit Kesombongan Duniawi
Hati manusia diibaratkan seperti sepotong daging yang menjadi penentu baik atau buruknya seluruh organ tubuh beserta perilaku pemiliknya. Ketika hati tersebut dijangkiti oleh penyakit kesombongan, merasa diri lebih mulia, atau merasa paling berjasa atas sebuah kesuksesan, maka penderitaan batin akan segera dimulai. Orang yang sombong akan selalu merasa haus akan pujian makhluk dan menjadi sangat rapuh apabila posisinya digantikan atau opininya tidak dihargai oleh lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu, penting bagi sahabat MQ sekalian untuk senantiasa melakukan evaluasi diri secara mendalam setiap harinya. Sadarilah dengan penuh kerendahan hati bahwa kita ini adalah makhluk yang sangat lemah dan tidak memiliki daya kekuatan sedikit pun tanpa adanya pertolongan dari Allah. Segala bentuk kecerdasan, kekayaan, maupun jabatan yang melekat pada diri kita saat ini hanyalah titipan sementara yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya secara detail di hadapan mahkamah ilahi.
Larangan keras mengenai kepemilikan sifat sombong ini telah disampaikan secara tegas oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demi keselamatan umatnya:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim). Mari kita bersihkan hati kita agar ketenteraman sejati yang bersumber dari keikhlasan dapat kita rasakan sepenuhnya.