Bahaya Fatamorgana Kesalehan Pribadi

 Seringkali seseorang merasa sudah aman karena sudah rajin tahajud, sedekah, dan mengaji. Namun, Aa Gym memperingatkan agar kita tidak tertipu oleh amalan lahiriah semata. Jika amalan tersebut justru melahirkan perasaan “paling benar” dan memandang rendah orang lain yang belum melakukan hal yang sama, maka amalan itu justru menjadi hijab (penghalang) antara diri kita dengan Allah.

Membedakan Antara Benar dan Merasa Benar

 Ada perbedaan besar antara melakukan kebenaran dan merasa menjadi pemilik kebenaran. Orang yang benar akan selalu rendah hati dan merasa penuh kekurangan, sedangkan orang yang merasa benar akan arogan dan sulit menerima masukan. Kebenaran yang hakiki akan melahirkan kedamaian, bukan permusuhan. Jika hidup kita penuh dengan konflik karena selalu ingin diakui benar, maka saatnya kita mengevaluasi kualitas hati kita.

Memohon Petunjuk di Setiap Langkah

Dalam setiap salat, kita mengulang permintaan “Ihdinas shiratal mustaqim.” Ini menunjukkan bahwa kita selalu butuh bimbingan Allah setiap saat agar tidak tersesat dalam rasa bangga diri. Jangan pernah bosan untuk beristigfar dan memohon agar Allah membersihkan niat kita. Hanya dengan pertolongan Allah-lah kita bisa keluar dari jebakan “merasa benar” dan menjadi hamba yang dicintai-Nya.

QS. Yusuf: 53

اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّا رَةٌۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”

Pesan: Mengingatkan kita bahwa nafsu selalu ingin merasa “paling suci” dan “paling benar”, sehingga kita harus selalu waspada.