Mengapa Memahami Takdir Menjadi Kunci Kebahagiaan?
Banyak orang merasa cemas akan masa depan atau tenggelam dalam penyesalan masa lalu. Dalam pembukaan kajian akidah di MQFM Bandung, Ustaz Abu Yahya menjelaskan bahwa kegalauan tersebut sering kali berakar dari ketidakpahaman kita terhadap hakikat takdir. Takdir bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan bagian dari desain besar Allah Swt. yang sempurna. Untuk memahaminya, para ulama merumuskan empat tingkatan iman kepada takdir yang wajib diketahui oleh setiap muslim agar memiliki mental yang tangguh.
Rasulullah saw. dalam sabdanya:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، يَقُولُ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ» ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
Artinya: “Amr bin Ash mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kalbu Bani Adam berada di antara dua jemari dari jari jemari ar-Rahman. Dia membolak-balikkannya sebagaimana Dia kehendaki.” Kemudian Rasulullah saw. berdoa, (Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubanaa ‘ala tho’atik.) Ya Allah, Dzat Yang Memalingkan Hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!”(H.R. Muslim)
Tingkatan pertama adalah Al-Ilmu, yaitu meyakini bahwa Allah Swt. mengetahui segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi dengan detail yang sempurna. Tidak ada satu butir pasir pun yang berpindah tanpa pengetahuan-Nya. Dengan meyakini ini, kita tidak perlu merasa sendirian dalam menghadapi masalah, karena Allah sudah mengetahui setiap tetes air mata dan perjuangan kita jauh sebelum hal itu terjadi.
Penulisan dan Kehendak: Rahasia di Balik Setiap Kejadian
Tingkatan kedua dan ketiga adalah Al-Kitabah (Penulisan) dan Al-Masyiah (Kehendak). Segala sesuatu yang diketahui Allah telah dituliskan di Lauhulmahfuz 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Namun, Ustaz Abu Yahya meluruskan sebuah kesalahpahaman: penulisan ini tidak berarti kita tidak perlu berusaha. Justru, doa dan usaha kita adalah bagian dari takdir yang sudah tertulis tersebut.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Qur’an Surat An-Najm – Ayat 39:
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ
Artinya: “bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,”
Selanjutnya, tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam semesta ini melainkan atas kehendak Allah. Jika Allah berkehendak sesuatu terjadi, maka tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menghalanginya. Memahami poin ini akan membuat kita menjadi pribadi yang rendah hati saat sukses dan tidak mudah putus asa saat gagal. Kita sadar bahwa kita hanyalah pemeran, sementara Allah adalah sebaik-baik penentu skenario. Pemahaman inilah yang menjadi obat paling ampuh untuk penyakit “overthinking” atau galau berlebihan.
Al-Khalqu: Allah adalah Pencipta Segala Sebab dan Akibat
Tingkatan terakhir adalah Al-Khalqu (Penciptaan), yaitu meyakini bahwa Allah-lah yang menciptakan segala perbuatan hamba-Nya. Di sinilah peran iman kepada malaikat masuk sebagai pelaksana takdir. Ustaz Abu Yahya menjelaskan bahwa Allah mengutus para malaikat untuk mengatur urusan alam semesta, mulai dari membagi rezeki, menurunkan hujan, hingga menjaga manusia, sesuai dengan apa yang telah ditetapkan.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Qur’an Surat Hud – Ayat 6:
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَاۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Artinya: ”Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”
Malaikat adalah pelaksana yang jujur dan tidak pernah salah perintah. Dengan mengimani empat tingkatan ini (Ilmu, Penulisan, Kehendak, dan Penciptaan), hidup seorang mukmin akan menjadi sangat stabil. Ia akan bersyukur saat mendapat nikmat karena tahu itu adalah pemberian Allah melalui perantara malaikat-Nya, dan ia akan bersabar saat mendapat ujian karena tahu itu adalah kehendak Allah yang pasti mengandung hikmah. Inilah rahasia hidup tenang: meletakkan seluruh beban harapan hanya kepada Sang Pemegang Takdir.