Memahami Kedahsyatan Doa Ya Hayyu Ya Qayyum
Wasiat Rasulullah kepada putri tercintanya, Fatimah, adalah harta karun yang juga bisa kita amalkan. Sahabat MQ, doa ini mengandung nama Allah yang paling agung, yang jika kita memohon dengannya, niscaya akan dikabulkan.
Asma Al-Hayyu dan Al-Qayyum mencakup seluruh kesempurnaan sifat Allah. Allah berfirman:
ٱللَّهُ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ
Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).” (QS. Al-Baqarah: 255).
Membaca doa ini secara rutin akan menanamkan keyakinan bahwa kita selalu dalam pengawasan dan pemeliharaan Allah. Sahabat MQ tidak perlu lagi merasa cemas berlebihan dalam menjalani rutinitas harian. Terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Al-Jawabul Kafi Liman Saala’Anid Dawaaisy-syafi’i, dari Abu Hurairah, ia berkata,
“Apabila Rasulullah SAW menghadapi suatu masalah, beliau mengangkat kepalanya ke langit, jika bersungguh-sungguh dalam berdoa, beliau mengucapkan Ya Hayyu, Ya Qayyum.” (Jami’ Tirmidzi)
Masih dalam sumber yang sama, disebutkan bahwa Rasulullah SAW juga mengucapkan Ya Hayyu Ya Qayyum apabila beliau ditimpa hal yang menyedihkan.
Seperti dalam hadits dari Anas bin Malik, ia berkata, “Jika Rasulullah SAW tertimpa suatu perkara yang menyedihkan, beliau mengucapkan, Ya Hayyu, Ya Qayyum birahmatika astaghitsu (Wahai Yang Mahahidup dan Maha Penegak dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan).” (HR at-Tirmidzi dalam Jami’)
Meminta Perbaikan Seluruh Urusan Hidup
Dalam doa tersebut, kita meminta agar Allah memperbaiki seluruh urusan kita (aslihli sya’ni kullah). Sahabat MQ, mencakup urusan rumah tangga, pekerjaan, kesehatan, hingga urusan akhirat kita.
Kita menyadari bahwa tanpa pertolongan-Nya, kita bukanlah siapa-siapa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ
Artinya: “Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal (dikabulkan, disimpan di akhirat, atau dijauhkan dari keburukan).” (HR. Ahmad).
Jadikan doa ini sebagai sandaran harian, Sahabat MQ. Biarkan Allah yang mengambil alih kemudi hidup kita, sementara kita fokus menjalankan perintah-Nya dengan sebaik mungkin. Demikianlah semestinya keadaan kita bila memohon sesuatu kepada Allah. Pasrahkan kepada-Nya, bukan mendikte-Nya. Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi kita, dan akan mengatur pemberian itu sebaik mungkin.
Namun, yang sering terjadi tidaklah seperti itu. Kita mengaku pasrah dan menyerahkan segalanya kepada Allah, padahal hati dan pikiran kita masih memaksakan ini dan itu. Dan ketika pemberian-Nya turun, kita kecewa bahkan merasa tidak diperhatikan oleh-Nya, hanya karena spesifikasinya tidak persis sama dengan harapan kita.
Jangan Lepaskan Pandangan Allah Darimu Walau Sekejap
Kalimat penutup dalam doa tersebut adalah pengakuan akan kelemahan diri: “Jangan serahkan urusanku kepadaku walau sekejap mata.” Sahabat MQ, ini adalah bentuk ketundukan tertinggi seorang hamba kepada Tuhannya.
Jika kita merasa mampu mengurus diri sendiri tanpa Allah, itulah awal dari kebinasaan. Allah berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
Artinya: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).
Dengan senantiasa memohon penjagaan Allah, Sahabat MQ akan terhindar dari sifat ujub dan sombong. Hidup akan menjadi lebih berkah karena setiap langkah yang kita ambil selalu berada dalam bimbingan cahaya Ilahi. Selain adab-adab lahiriah ketika berdoa, diantara hal lain yang menunjukkan murninya kepasrahan adalah sikap batin kita sendiri. Apakah kita protes bila pemberian Allah tidak seperti yang kita harapkan, atau justru berprasangka baik kepada hikmah di baliknya?
Apakah kita menggugat kebijaksanan-Nya, atau menerimanya dengan penuh rasa syukur? Sesungguhnya, keikhlasan seorang mukmin diuji pada titik ini, yakni bagaimana ia menyikapi pemberian dan pilihan Allah untuknya.
Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzab: 36)
Ketulusan dan prasangka baik merupakan kunci keselamatan dalam mengarungi pasang-surut kehidupan. Dengan ketulusan maka hati kita tidak disibukkan oleh amarah, sementara prasangka baik akan membimbing kita untuk selalu berpikir positif.