Penjelasan aqidah yang disampaikan oleh Imam Al Muzani itu salah seorang murid utama dari Imam Asyafi’i. Imam Syafi’i punya tiga murid utama, salah satunya adalah Imam Al-Muzani. Imam Almuzani ketika ditanya prinsip-prinsip aqidah yang beliau yakini, beliau menguraikannya dalam suatu risalah singkat yang diberi judul Syarhusunah.
Kemudian syarhusunah ini di syarah lagi, dijelaskan lagi dalam kitab Tamamul Minnah. Nabi Adam diuji di surga boleh merasakan nikmat yang ada di surga itu, tapi diuji untuk tidak mendekati dan memakan buah dari pohon yang dilarang.
Imam Ibnu Qayyim dalam kitab lain yaitu kitab Al-Fawaid menyebutkan ee ternyata nikmat yang diberikan kepada Nabi Adam tadi yaitu di surga lalu kemudian diturunkan ke bumi dan itu sebagai takdir Allah yaitu telah ditetapkan sebelum Nabi Adam diciptakan bahwa dia akan menjadi khalifah di bumi.
Sementara ada qada atau qadar yang bersifat syar’i, maka yang syari’i ini pasti dicintai Allah walaupun belum tentu terjadi. Ya, kalau tidak membedakan kauni dan syari biasanya orang salah dalam memahami takdir.
Yang pertama ada qada yang bersifat kauni, tidak ada seorang pun yang bisa keluar darinya. Itu pasti terjadi sesuai kehendak Allah sesuai yang tertulis di lauhul mahfud. Namun tidak ada kaitannya antara qada yang bersifat kauni dengan mahabbah.
Firman Allah Taala waquka all’udu illa iyahu wabil ihsana :
Surat Al-Isra ayat 23
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ٢٣
Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
Surat An-Nisa ayat 36
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ٣
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.
Di dalam surat Al-Isra Allah telah menetapkan agar kamu hanya beribadah kepadanya saja serta berbuat baiklah kepada kedua orang tua, ini adalah qada yang bersifat syari yang diridai oleh Allah. Jadi Allah rida kalau kita mentauhidkannya dalam beribadah. Sedangkan dalam surat An-Nisa beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukannya dengan sesuatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.
Banyak ayat-ayat yang menggandengkan antara tauhid dengan berbuat baik kepada kedua orang tua menunjukkan pentingnya untuk berbuat baik kepada kedua orang tua yaitu jangan durhaka.
Bagaimana cara mendapat ampunan Allah?
- Tauhid
- Bersabar
- Beristighfar
- Yang bisa menghapuskan membuat kita diampuni
Wa shihan fahu yatubu allahi, siapa yang tobatnya itu diikuti dengan beramal saleh maka itu orang yang sungguh-sungguh tobatnya dan Allah akan menerima tobatnya.
Surat ke-11 ayat 114 “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan jadi enggak usah takut ee dosa kita tidak akan diampuni kalau kita belajar bagaimana cari cara untuk diampuni dosa.”
Program: Inspirasi Malam-Kajian Akidah
Narasumber: Ustadz Abu Yahya