Apa hubungan antara meneliti aib diri dengan bahagia? Sungguh, sangat berhubungan. Bahagia tak bisa diraih dengan dunia seisinya, tapi dengan Taqwa, memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah. Tak bisa yakin kepada Allah, jika tak mengenal-Nya. Tak bisa mengenal-Nya, jika mata hati tertutup oleh dosa, sehingga tak merasakan kehadiran-Nya.
Rasullullah SAW bersabda, artinya:
“Sesungguhnya seorang hamba itu, apabila melakukan suatu kesalahan, maka akan dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Jika ia meninggalkannya, memohon ampunan, dan bertaubat, maka hatinya akan dibersihkan. Jika ia kembali melakukan (dosa), maka akan ditambahkan titik hitam tersebut, sehingga menutupi seluruh hatinya. Itulah ar-ran yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Allah SWT, berfirman:
كَلَّا بَلْࣝ رَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ١٤
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 14)
Jika hati sudah tertutup oleh ar-ran, maka akan sulit untuk menerima kebaikan, nasihat, dan petunjuk. Orang tersebut juga tidak akan merasa takut lagi melakukan dosa, tak bisa menikmati ibadah, ujungnya menderita walau punya dunia dengan segala aksesorinya.
Setiap melakukan maksiat buahnya jasad berlumur dosa dan hati berpenyakit Malu dan sangat takut diketahui orang. Itulah aib, yang menyesakkan dada, takut ketauan orang lain. Pasti tak bahagia.
Rasulullah SAW bersabda, artinya:
“Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.” (HR..Muslim)
Kenyataannya tak ada manusia yang tak berdosa,
Rasulullah SAW bersabda, artinya:
“Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Jika ingin bahagia, maka segera teliti aib diri, lalu mohon ampunan kepada Allah. Allah akan menutupi aib sebagai konsekuensi dari pengampunan. Jika tak ada waktu meneliti aib diri maka tak kan bisa memperbaiki diri. Sementara bahagia bisa diraih jika menjadi orang baik. Menjadi baik karena siap menerima nasihat dan siap memperbaiki kekurangan diri.
Meneliti aib diri, harus ikhlas lillahita’ala berharap ridho Allah, jujur menilai kekurangan diri. Jika tidak, maka tak tau aib apa yg harus dihilangkan atau diperbaiki, merasa benar, tenggelam dalam dosa, hilang rasa malu, secara nafsu puas. tapi batin sangat menderita.
Jujur meneliti aib, bukan membuka kepada orang lain yang sudah Allah tutupi & merasa bangga. Tapi bagaimana menyadari & mengakui dosa, lalu bertaubat. Meneliti aib diri harus diiringi dengan pengakuan dosa.
Tahapannya:
1. Punya llmu, agar bisa tau kebenaran.
2. Amalkan ilmu.dengan ikhlas
3. Punya cita2 selamat dunia akhirat.
Tahapan tersebut, akan bisa dilakukan jika, rendah hati, tak merasa berjasa, tidak sibuk dengan aib orang, bisa kendalikan nafsu & tak cinta dunia.
Dalam prakteknya menemukan aib diri,
1. Minta tolong kepada Allah, dibimbing untuk menemukan aib diri
2. Belajar & berguru untuk minta nasihat, yang bersumber dari al-Quran & hadist. Karena Ilmu.yang dipahami akan membuat seseorang sibuk meneliti aibnya sndiri bukan sibuk dengan aib orang.
3. inta masukan dari orang terdekat secara jujur & harus siap menerma dengan hati lapang, tidak membela diri.
4. Kalau ada ucapan dan sikap orang yang menyakitkan, menjadi bahan evaluasi, bisa jadi itu benar, tapi selama ini tak.disadari.
5. Kalau ada kejadian yang dilihat atau didengar jadikan cermin, apakah “saya seperti itu?”
6. Perbanyaklah membaca doa Sayyidul Istighfar.
اَللّٰهُمَّ اَنْتَ رَبِّىْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اَنْتَ خَلَقْتَنِىْ وَاَنَا عَبْدُكَ وَاَنَا عَلٰى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. اَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. اَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَاَبُوْءُ بِذَنْبِىْ فَاغْفِرْلِىْ فَاِنَّهٗ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ.
Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas perjanjian-Mu dan janji-Mu (untuk selalu taat kepada-Mu) semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya, tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”
Program: Inspirasi Keluarga – Langkah Kecil Untuk Bahagia
Narasumber: Ibu Khairati