MUSUH TERUS MENANG ?

Ketika Kita Mengira Kebatilan Selalu Menang

Di berbagai belahan dunia, umat Islam sering melihat ketidakadilan menumpuk tanpa henti. Penindasan, penjajahan, hilangnya hak, dan kemenangan musuh membuat sebagian orang bertanya-tanya: “Apakah kebenaran sudah tidak punya kekuatan lagi?” Fenomena ini seolah mengulang sejarah, dan keraguan muncul ketika kebatilan tampak begitu dominan di permukaan. Namun dalam kajian Inspirasi Qur’an MQFM Bandung, Ustadz Suherman Ar-Razi menjelaskan bahwa apa yang kita lihat tidak selalu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

Al-Qur’an telah membongkar rahasia ini jauh sebelum umat Islam menghadapi realitas modern. Dalam QS. Ath-Thariq ayat 15–17, Allah menyingkap formula penting tentang bagaimana musuh merancang tipu daya, dan bagaimana Allah membalas rencana itu dengan cara yang jauh lebih tinggi, lebih luas, dan lebih sempurna. Ini menunjukkan bahwa kemenangan musuh sering kali bersifat sementara, tidak lebih dari fatamorgana yang kelak akan runtuh ketika Allah telah menentukan waktunya.

Dalam perspektif Al-Qur’an, kemenangan hakiki tidak diukur dari keadaan sesaat, tetapi dari bagaimana skenario Allah berjalan secara menyeluruh. Apa yang tampak sebagai kemenangan musuh, sesungguhnya hanyalah bagian kecil dari rencana besar Allah yang sedang mempersiapkan kemenangan sejati bagi orang-orang beriman.

Ribuan Tahun Lalu, Al-Qur’an Sudah Mengungkap Skenario Tersembunyi

Dalam QS. Ath-Thariq, Allah berfirman:

اِنَّهُمْ يَكِيْدُوْنَ كَيْدًاۙ ١٥ وَّاَكِيْدُ كَيْدًاۖ ١٦ فَمَهِّلِ الْكٰفِرِيْنَ اَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا ࣖ ١٧ 

 “Sesungguhnya mereka merencanakan tipu daya, dan Aku pun membuat rencana. Maka berilah kesempatan kepada orang-orang kafir itu; berilah mereka waktu sebentar.”
(QS. Ath-Thariq: 15–17)

Ayat ini menjawab keresahan umat: musuh memang memiliki strategi, tetapi rencana Allah selalu lebih tinggi dan meliputi rencana mereka. Ustadz Suherman menjelaskan bahwa sejak masa Nabi Muhammad ﷺ, kaum musyrik menggencarkan berbagai rencana gelap: pembunuhan, embargo, intimidasi, dan teror. Namun semua rencana itu kandas oleh ketetapan Allah yang jauh lebih kuat.

Salah satu contoh paling nyata adalah peristiwa hijrah. Kaum Quraisy merencanakan untuk membunuh Rasulullah ﷺ secara kolektif. Mereka menyusun strategi besar, namun Allah menggagalkan semuanya. Beliau berhasil hijrah ke Madinah dan membangun kekuatan umat. Dari sinilah fase kemenangan dimulai. Sepuluh tahun kemudian, Mekah kembali dikuasai kaum Muslimin, berhala dihancurkan, dan seluruh wilayah itu menjadi pusat cahaya Islam.

Al-Qur’an ingin mengajarkan bahwa kemenangan kebatilan tidak pernah absolut. Mereka menang sebentar, tetapi Allah memegang kendali sepenuhnya. Rencana mereka hanyalah serpihan kecil dari rencana Allah yang lebih besar.

Sejarah Membuktikan, Kebatilan Memiliki Masa Kadaluarsa

Ustadz Suherman mengingatkan bahwa setiap bentuk kezaliman baik pada masa lalu maupun kini memiliki batas waktu. Tidak ada satupun kekuatan batil yang langgeng. Sejarah menjadi saksi besar dari hukum Allah ini. Kerajaan-kerajaan besar yang dulu menindas, memerintah, dan menebar ketakutan satu per satu tumbang oleh skenario Allah.

Lihatlah perjalanan Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan. Dengan kekuasaan dan tentaranya, ia tampak tak terkalahkan. Namun ia tenggelam dalam sekejap di Laut Merah oleh ketetapan Allah. Kekaisaran Romawi yang menjajah wilayah luas dunia akhirnya hancur dan lenyap. Demikian pula Persia yang gagah perkasa, yang pernah menjadi kekuatan adidaya, runtuh oleh badai sejarah. Bahkan kerajaan besar Nusantara pun satu per satu bergeser dan hilang.

Semua ini membuktikan satu hal, kebatilan tidak pernah bertahan selamanya. Sekuat apa pun mereka, ada titik di mana skenario Allah mengambil alih dan menghancurkan seluruh kekuatan itu dalam hitungan waktu yang Allah kehendaki.

Dengan demikian, kemenangan musuh yang tampak saat ini bukanlah akhir cerita. Ia hanya episode kecil dari cerita panjang yang penuh hikmah. Dan Allah tidak pernah mengingkari janji bahwa kebenaran pasti menang.

Sabar Bukan Tanda Lemah Tetapi Tanda Bahwa Kita Yakin Rencana Allah Sedang Bekerja

Ayat terakhir dalam QS. Ath-Thariq menjelaskan sesuatu yang sangat penting: perintah Allah kepada Nabi untuk bersabar. Bukan karena kebenaran lemah, bukan karena musuh lebih kuat, tetapi karena Allah sedang menyiapkan panggung bagi kehancuran mereka.

Dalam bahasa Al-Qur’an, sabar bukan sikap pasif. Sabar adalah bentuk kekuatan ruhani yang memastikan kita tetap pada jalur wahyu, tidak terprovokasi, dan tidak kehilangan arah. Menurut Ustadz Suherman, sabar berarti yakin bahwa skenario Allah sedang berjalan even when we don’t see it.

Karena itu, ketika kezaliman tampak menang:

  1. bukan karena Allah membiarkan,
  2. bukan karena Allah tidak adil,
  3. tetapi karena Allah sedang menunggu waktu terbaik untuk menjatuhkan mereka.

Kemenangan hakiki hadir di akhir, bukan di awal. Sebagaimana tanaman yang tumbuh pelan sebelum berbuah, rencana Allah berjalan perlahan tetapi pasti, mengantar umat menuju kemenangan yang dijanjikan.

Kemenangan Musuh Hanya Sementara Rencana Allah yang Kekal

Melalui siaran MQFM Bandung, Ustadz Suherman Ar-Razi menegaskan bahwa apa yang tampak hari ini tidak selalu menggambarkan kenyataan sesungguhnya. Kebatilan yang terlihat menang sebenarnya berada di dalam jebakan rencana Allah yang jauh lebih besar. Tugas umat hanyalah:

  1. bersabar,
  2. teguh,
  3. memperkuat iman,
  4. dan terus berpegang kepada petunjuk Al-Qur’an.

Kebenaran tidak pernah kalah ia hanya menunggu saat yang tepat untuk tampil. Dan ketika rencana Allah tiba, semua tipu daya musuh akan runtuh seketika.