Ketika Self Healing Malah Membuat Hati Semakin Sesak
Self healing kini menjadi istilah populer di banyak kalangan. Media sosial dipenuhi konten tentang healing: liburan ke alam, nongkrong sambil minum kopi, atau menonton berjam-jam demi “mengistirahatkan pikiran”. Namun, Psikolog Lilis Komariah mengingatkan bahwa tidak sedikit orang yang mengaku sedang melakukan self healing justru merasa hatinya semakin sesak. Mereka berharap pulang dari healing dalam kondisi tenang, tetapi yang muncul justru perasaan kosong, cemas, dan semakin lelah secara emosional.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Banyak orang salah memahami konsep self healing. Mereka mengira bahwa penyembuhan diri berarti menjauh dari masalah, melupakan luka, atau menunda beban. Padahal penundaan justru membuat beban semakin berat. Islam sendiri mengajarkan bahwa ketenangan sejati bukan datang dari pelarian, tetapi dari kemampuan menghadapi kenyataan dengan hati yang bertaut pada Allah. Allah menegaskan:
“Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Ayat ini memberi pelajaran bahwa penyembuhan bukan di luar masalah, tetapi di balik kemampuan menghadapi masalah itu sendiri. Ketika healing dimaknai sebagai lari, maka seseorang hanya menunda proses pemulihan. Ketika healing dimaknai sebagai kembali kepada Allah, barulah ketenangan sejati muncul.
Self Healing Bukan Pelarian
Salah satu kesalahan terbesar dalam praktik self healing masa kini adalah menganggap healing sebagai pelarian. Misalnya, seseorang yang sedang sedih memilih tidur sepanjang hari, atau seseorang yang gelisah memilih menonton drama berjam-jam untuk mengalihkan perhatian. Bahkan ada yang menunda shalat yang seharusnya menjadi sumber ketenangan dengan alasan ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Padahal setelah hiburan selesai, rasa gelisah itu tetap muncul, bahkan lebih kuat.
Pelarian tidak pernah menyembuhkan luka. Ia hanya menundanya. Psikolog Lilis menegaskan bahwa inti kecemasan justru berasal dari kebiasaan menunda hal yang seharusnya segera dilakukan, seperti menyelesaikan tugas, meminta maaf, atau mengerjakan ibadah. Semakin ditunda, semakin tinggi rasa cemas yang timbul. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk tidak menunda kebaikan. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:
“Bersegeralah kalian melakukan amal saleh…” (HR. Muslim)
Dari sudut pandang psikologi, tindakan penundaan (procrastination) adalah mekanisme pelarian yang memperburuk kondisi mental. Dari sudut pandang Islam, tindakan ini juga membuat seseorang jauh dari ketenangan spiritual yang datang dari ketaatan. Maka jelas, self healing bukanlah momen melarikan diri, tetapi momen mengajak jiwa kembali pada pusat ketenangannya.
Kesalahan 1, Menyamakan Self Healing dengan Hiburan
Banyak orang menganggap healing adalah liburan, belanja impulsif, makan enak, atau sekadar duduk di cafe dengan minuman mahal. Kegiatan ini tentu menyenangkan, namun bersifat sementara. Ia hanya memberikan rasa nyaman sesaat tanpa menyentuh akar masalah. Ketika efek hiburan hilang, rasa gelisah kembali muncul.
Islam memandang bahwa hiburan boleh saja, tetapi tidak bisa dijadikan pilar penyembuhan diri. Allah menyebut dunia sebagai hiburan yang sementara:
“Kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau.”
(QS. Al-An’am: 32)
Ketika self healing disamakan dengan hiburan, seseorang hanya memoles permukaan luka, tanpa menyembuhkannya secara mendalam. Psikolog Lilis mengingatkan bahwa penyembuhan sejati bersifat stabil, bukan temporer. Dan stabilitas psikologis hanya hadir ketika seseorang melakukan perjalanan batin melalui introspeksi, ibadah, dan dialog jujur dengan dirinya.
Dengan kata lain, hiburan mungkin membuat tubuh beristirahat, tetapi tidak selalu menyembuhkan hati. Hati yang tenang hanya datang dari kedekatan dengan Allah, bukan dari aktivitas duniawi yang sifatnya sementara.
Kesalahan 2, Berharap Hasil Instan
Kesalahan kedua yang sering dilakukan adalah berharap hasil cepat. Banyak orang menganggap bahwa cukup menarik napas panjang sekali, membaca istighfar sebentar, atau shalat satu kali, maka seluruh beban akan hilang. Ketika ketenangan tidak segera datang, mereka merasa gagal dan putus asa. Padahal self healing adalah proses bertahap, bukan tombol ajaib yang memberi hasil instan.
Allah sendiri menggambarkan proses perubahan sebagai perjalanan panjang:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan membutuhkan usaha dan kesabaran. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ juga menekankan pentingnya konsistensi:
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari)
Self healing yang benar harus dilakukan secara rutin, tenang, dan penuh kesadaran. Tidak ada proses penyembuhan yang instan, baik dalam psikologi maupun dalam spiritualitas. Luka batin yang bertahun-tahun tidak mungkin sembuh dalam satu hari. Maka, memahami ritme penyembuhan adalah kunci agar seseorang tidak kecewa atau berhenti di tengah jalan.
Kesalahan 3, Tidak Jujur pada Diri Sendiri
Kesalahan besar berikutnya adalah membohongi diri sendiri. Banyak orang menutupi lelahnya dengan berkata, “Aku baik-baik saja,” padahal hatinya pecah. Ada yang memaksa diri terlihat kuat, padahal ia kehabisan tenaga. Ada yang terus tersenyum, padahal ia justru memendam kesedihan yang dalam.
Psikolog Lilis menjelaskan bahwa self healing dimulai dari keberanian mengakui kenyataan. Kejujuran ini adalah pintu utama penyembuhan. Tanpa mengakui luka, seseorang tidak akan pernah mampu mengobatinya. Bahkan Rasulullah ﷺ pun mengajarkan transparansi perasaan kepada Allah dalam doa-doanya, termasuk ketika beliau sedih atau terluka.
Dalam Al-Qur’an, Nabi Ya‘qub pun tidak menyembunyikan kesedihannya. Allah mengabadikan ucapannya:
“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.”
(QS. Yusuf: 86)
Ayat ini mengajarkan bahwa mengakui rasa sakit bukan tanda kelemahan, tetapi bagian dari keimanan. Tanpa kejujuran, self healing hanya menjadi topeng yang menutupi luka, bukan memperbaikinya.
Kesalahan 4, Berdoa Tapi Tidak Ikhtiar
Banyak orang berkata, “Aku sudah berdoa, tapi kenapa Allah belum mengabulkan?” Psikolog Lilis menekankan bahwa sering kali masalahnya bukan pada doa, tetapi pada kurangnya ikhtiar. Sebagian orang menyamakan pasrah dengan menyerah. Mereka tidak mau berusaha, tetapi berharap hasil terbaik.
Dalam ajaran Islam, pasrah atau tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Justru tawakkul menuntut ikhtiar maksimal sebelum menyerahkan hasil kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ikatlah untamu terlebih dahulu, kemudian bertawakkallah.”
(HR. Tirmidzi)
Tanpa ikhtiar, doa hanya menjadi pelarian dari tanggung jawab. Self healing yang benar menggabungkan kerja keras, evaluasi diri, dan doa yang tulus. Allah pun menegaskan bahwa hasil mengikuti usaha:
“Dan manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
Maka, jika seseorang ingin sembuh dari luka batin, ia tidak cukup hanya berdoa. Ia perlu menguatkan niat, memperbaiki perilaku, dan bergerak menuju kebaikan.
Kembalikan Self Healing ke Titik Religius
Setelah memahami berbagai kesalahan tersebut, Psikolog Lilis mengajak umat untuk mengembalikan konsep self healing kepada fondasi religiusnya. Dalam Islam, penyembuhan jiwa tidak bersifat duniawi, tetapi spiritual. Cara-caranya sederhana: memperbarui niat, memperbanyak istighfar, meluangkan waktu untuk shalat dengan tenang, berdoa jujur, membaca ayat-ayat penyembuh, serta menuliskan syukur.
Al-Qur’an berkali-kali menyebut bahwa penyembuh terbaik bagi hati hanyalah kedekatan dengan Allah:
“Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Dengan pendekatan religius, seseorang tidak hanya menenangkan perasaannya, tetapi juga memperbaiki sikap dan perilaku. Self healing religius bukan sekadar menenangkan pikiran, tetapi menjernihkan hati, membersihkan dosa, dan meluruskan tujuan hidup.
Healing versi Islam membuat seseorang bukan hanya sembuh, tetapi juga tumbuh.
Penutup
Jika self healing yang Anda jalani selama ini justru membuat hati semakin kusut, mungkin bukan hidup Anda yang salah, tetapi caranya. Healing bukan pelarian, bukan hiburan, dan bukan upaya instan. Ia adalah perjalanan kembali kepada Allah dengan hati yang jujur, perlahan, dan penuh kesadaran.
Ketika seseorang kembali kepada Allah, ia tidak hanya menemukan ketenangan, tetapi juga menemukan dirinya yang paling utuh. Karena hati yang tenang bukan dicari di luar, melainkan dibangunkan dari dalam oleh cahaya iman.