Ketika Cemas dan Malas Shalat Dianggap Dosa, Padahal Ada Faktor Psikologis di Baliknya
Bagi sebagian besar umat Islam, rasa malas shalat dan kecemasan berlebihan kerap dianggap sebagai dosa semata. Banyak yang merasa bersalah, takut dimarahi, atau terjebak dalam lingkaran “aku harus shalat, tapi kenapa tidak kunjung shalat juga?”. Namun Psikolog Lilis Komariah dalam program Inspirasi Keluarga MQFM menjelaskan bahwa rasa malas dan cemas tersebut tidak selalu berasal dari kemalasan spiritual. Dalam banyak kasus, ini justru merupakan tanda ketidakstabilan mental yang bisa diobati, bukan hanya disalahkan.
Di balik perasaan malas itu, sering kali ada ketakutan yang tidak diucapkan. Ada orang yang merasa tidak layak menghadap Allah, ada yang takut tidak khusyuk, ada pula yang terbebani oleh kesalahan masa lalu. Semua perasaan tersebut membuat seseorang justru menjauh dari salat, padahal shalat sendiri adalah obatnya. Allah berfirman:
“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
(QS. Al-Baqarah: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan hanya kewajiban, tetapi penolong. Sholat bukan beban yang menambah stres, tetapi jalan keluar dari stres itu sendiri. Maka memahami akar masalahnya menjadi langkah awal untuk mengembalikan hubungan sehat antara seorang hamba dengan ibadahnya.
Menunda Karena Cemas
Menurut Psikolog Lilis, salah satu penyebab terbesar malas salat adalah kecemasan. Bukan karena seseorang tidak peduli dengan ibadah, tetapi karena ia terlalu banyak memikirkan standar yang ingin dicapai. Ia takut tidak khusyuk, takut shalatnya tidak diterima, atau takut hatinya tidak hadir. Ironisnya, ketakutan ini justru membuatnya menunda-nunda.
Penundaan ini semakin memperburuk kondisi. Ketika seseorang berkata dalam hati “nanti saja, aku belum siap”, ia merasa sedikit lega untuk sesaat. Namun setelah beberapa menit, gelisah itu kembali muncul bahkan lebih kuat. Inilah yang disebut dalam psikologi sebagai anxiety cycle: semakin ditunda, semakin kuat rasa cemasnya. Islam sejak awal sudah mengantisipasi fenomena ini. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya.”
(HR. Bukhari)
Keterangan ini bukan hanya perintah ibadah, tetapi juga sebuah resep psikologis: jangan memberi kesempatan pada pikiran cemas untuk menguasai diri. Dengan menyegerakan shalat, seseorang memutus mata rantai kecemasan sebelum ia tumbuh menjadi beban mental yang berat.
Penundaan juga diperparah oleh perasaan bersalah. Semakin seseorang merasa dirinya buruk, ia semakin enggan menghadap Allah, seolah-olah shalat hanya untuk orang yang “sudah siap”. Padahal dalam hadis Qudsi, Allah berfirman:
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku.”
(HR. Bukhari)
Artinya, seseorang tidak perlu menunggu dirinya sempurna untuk kembali kepada Allah. Justru Allah memanggil hamba saat ia sedang rapuh.
Gabungkan Religi + Rasio
Lilis menawarkan teknik sederhana namun efektif: gabungkan pendekatan keagamaan dengan logika rasional. Ketika rasa malas muncul, ia menyarankan melakukan dialog diri:
“Nanti juga aku shalat. Kenapa tidak sekarang?”
“Kalau sekarang selesai, aku tenang. Kalau nanti, aku gelisah.”
Dialog ini bekerja karena pikiran manusia bergerak berdasarkan asumsi. Dengan memberikan alasan logis, seseorang mengalihkan fokus dari rasa cemas menuju tindakan. Teknik ini dikenal dalam psikologi sebagai cognitive restructuring, yaitu mengubah pola pikir untuk mengubah perilaku.
Islam pun menggunakan pendekatan ini. Dalam satu hadis Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik amalan adalah yang paling cepat dilakukan.”
(HR. Baihaqi)
Hadis ini mengajarkan bahwa ketika muncul dorongan untuk berbuat baik, jangan beri kesempatan bagi pikiran negatif untuk menghalangi.
Dengan memadukan logika dan ibadah, seseorang bukan hanya mengurangi kecemasan, tetapi juga memperkuat kontrol diri (self-regulation). Ia belajar bahwa ketenangan bukan ditunggu, tetapi diciptakan melalui tindakan kecil yang konsisten.
Mulai dari Kualitas? Tidak! Mulai dari Ketepatan Waktu
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah menuntut diri sendiri untuk langsung khusyuk. Banyak orang berkata, “Aku ingin shalat, tapi aku takut tidak khusyuk, jadi nanti saja.” Padahal Psikolog Lilis menegaskan bahwa langkah pertama bukan khusyuk, melainkan konsistensi tepat waktu.
Khusyuk adalah buah, bukan akar. Ia tumbuh dari kebiasaan, bukan dari kesempurnaan tiba-tiba. Allah pun tidak memerintahkan khusyuk secara mutlak, tetapi memuji mereka yang berupaya khusyuk. Artinya, Allah melihat usaha, bukan hasil. Dalam surah Al-Mu’minun, Allah berfirman:
“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyu dalam shalatnya.”
(QS. Al-Mu’minun: 1–2)
Ayat ini bukan tuntutan, tapi motivasi. Ia menunjukkan bahwa khusyuk adalah capaian, bukan syarat awal. Jika seseorang memaksa dirinya sempurna sejak awal, ia justru akan merasa gagal dan menyerah.
Ketika seseorang mulai tepat waktu meskipun belum khusyuk, ia sedang membangun pondasi kedisiplinan. Dari disiplin akan muncul rasa nyaman, dari kenyamanan muncul ketenangan, dan dari ketenangan tumbuh kekhusyukan. Karena itu, mulailah dari yang paling mungkin, tepat waktu, bukan sempurna.
Gerakkan Fisik, Bukan Hanya Pikiran
Menurut Psikolog Lilis, salah satu kunci mengatasi malas shalat adalah menggerakkan fisik sebelum pikiran sempat mencari alasan. Begitu mendengar azan atau teringat waktu salat, tubuh harus bergerak dulu bangun, berdiri, ambil wudhu baru kemudian pikiran menyusul.
Prinsip ini dikenal dalam psikologi sebagai behavior activation: ketika perasaan tidak mendukung, gerakan fisik menjadi kunci memutus siklus kemalasan. Rasulullah ﷺ pun mencontohkan bahwa jika waktu salat tiba, beliau berdiri seolah tidak mengenal siapapun di sekitarnya tanda bahwa tindakan lebih dahulu daripada pertimbangan.
Dalam Al-Qur’an, perintah shalat juga diawali dengan perintah berdiri:
“Dirikanlah shalat…”
(QS. Al-Baqarah: 43)
Kata “dirikanlah” menunjukkan tindakan, bukan pikiran. Allah memerintahkan untuk melakukan gerakan terlebih dahulu, karena gerakan itulah yang memulai proses penyembuhan jiwa.
Dengan mempraktekkan prinsip “bergerak dulu, rasanya menyusul”, seseorang bisa keluar dari pusaran malas yang selama ini menghambatnya. Gerakan fisik kecil dapat mengubah keadaan mental secara drastis.
Penutup
Cemas dan malas salat bukan akhir segalanya, dan bukan tanda bahwa seseorang buruk atau jauh dari Allah. Ini adalah fenomena manusiawi yang dapat dipahami dan diatasi. Dengan memahami mekanisme psikologis seperti kecemasan, penundaan, dan tekanan diri serta menggabungkannya dengan pendekatan religius seperti shalat, doa, dan niat yang jujur, seseorang dapat menemukan kembali jalan menuju ketenangan.
Self healing dalam Islam tidak membutuhkan biaya. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk memulai, kesadaran untuk jujur pada diri sendiri, dan keyakinan bahwa Allah selalu membuka pintu-Nya bagi siapa pun yang ingin kembali. Karena pada akhirnya, ketenangan sejati tidak datang dari pelarian, tetapi dari kedekatan dengan Allah.