Pernahkah Sahabat MQ merasa gemas saat melihat ada sesuatu yang kurang tepat di lingkungan sekitar, lalu muncul keinginan kuat untuk langsung menegur? Niatnya tentu sangat mulia, yaitu ingin mengajak pada kebaikan atau amar makruf. Namun, sering kali kita mendapati kenyataan bahwa nasihat yang kita sampaikan justru “masuk telinga kiri, keluar telinga kanan,” atau malah memicu perdebatan yang tidak perlu.
Sebenarnya, ada satu kunci rahasia yang sering kali kita lewatkan dalam berdakwah. Kunci itu bukan terletak pada seberapa keras suara kita atau seberapa pintar kita merangkai kata, melainkan pada seberapa jauh kita sudah mempraktikkan apa yang kita sampaikan. Di sinilah pentingnya konsep ibda’ binafsik atau memulai dari diri sendiri sebelum melangkah kepada orang lain.
Sahabat MQ, mari kita bedah lebih dalam hasil dialog inspiratif bersama Ustadz Muhammad Ramdan, M.Pd., dari Tim Lajnah Syariah Daarut Tauhiid. Kita akan melihat mengapa “berkaca” adalah langkah pertama yang paling menentukan keberhasilan sebuah ajakan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Menakar Kredibilitas Pesan: Alasan Nasihat Sering Kali Terabaikan
Mungkin Sahabat MQ pernah bertanya-tanya, “Padahal isi nasihat saya sudah benar secara syariat, tapi kok dia tidak mau dengar ya?” Jawabannya sering kali sederhana: orang lain tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi mereka juga melihat apa yang kita lakukan. Ketika ada jarak yang lebar antara ucapan dan perbuatan, pesan yang ingin disampaikan akan kehilangan ruh dan kekuatan spiritualnya.
Dalam Islam, Allah Swt. memberikan peringatan yang sangat lembut namun tegas bagi siapa pun yang gemar menyuruh orang lain berbuat baik tetapi lupa pada kualitas dirinya sendiri. Hal ini menjadi pengingat agar Sahabat MQ selalu menjaga keselarasan antara hati, ucapan, dan tindakan. Tujuannya agar apa yang keluar dari lisan kita memiliki bobot yang mampu menggerakkan hati orang lain.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 44:
أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (pandai memberi nasihat tetapi kamu sendiri tidak mengamalkannya), padahal kamu membaca Al-Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?”
Jadi, sebelum Sahabat MQ mulai menyusun kalimat untuk mengajak orang lain, ada baiknya kita bertanya sejenak pada diri sendiri: “Sudahkah saya melakukan hal yang sama?” Dengan memulai dari diri sendiri, Sahabat MQ sebenarnya tidak sedang sekadar berbicara, melainkan sedang menunjukkan jalan melalui bukti nyata yang tak terbantahkan.
Manifestasi Konsep Ibda’ Binafsik: Mengajak Tanpa Harus Menghakimi
Ustadz Muhammad Ramdan sering menekankan bahwa dakwah yang paling efektif adalah dakwah yang menyejukkan hati. Sahabat MQ, bayangkan jika kita diajak pada sebuah kebaikan oleh seseorang yang hidupnya sudah mencerminkan kebaikan tersebut. Pasti kita akan merasa lebih segan, hormat, dan terinspirasi, bukan? Inilah yang disebut dengan dakwah bil hal atau berdakwah melalui keteladanan perilaku.
Memulai dari diri sendiri juga menjauhkan Sahabat MQ dari jebakan sikap merasa paling benar (self-righteousness). Ketika kita sibuk memperbaiki kekurangan diri, kita akan sadar sepenuhnya bahwa proses berubah itu memang tidak mudah. Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan rasa empati yang besar saat mengajak orang lain, sehingga bahasa yang digunakan bukan lagi bahasa perintah yang kaku, melainkan bahasa ajakan yang penuh kasih sayang.
Rasulullah saw. telah memberikan fondasi yang kuat mengenai pentingnya memprioritaskan perbaikan diri sebelum melangkah ke lingkaran yang lebih luas:
اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ ثُمَّ بِمَنْ تَعُوْلُ
“Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian kepada orang yang menjadi tanggung jawabmu.” (HR. Muslim)
Dengan memegang teguh prinsip ini, Sahabat MQ akan merasa lebih ringan dalam menjalankan misi amar makruf. Fokusnya bukan lagi pada keinginan untuk “mengontrol orang lain,” melainkan pada upaya “memperbaiki diri agar bisa menjadi wasilah hidayah bagi sesama.” Percayalah Sahabat MQ, perubahan yang tulus dari dalam diri akan memiliki dampak yang jauh lebih luas dan permanen bagi lingkungan.
Menjadi Magnet Kebaikan: Saat Perubahan Pribadi Mulai Menginspirasi Sekitar
Pernahkah Sahabat MQ memperhatikan bagaimana sebuah lilin yang menyala mampu menyalakan lilin-lilin lain di sekitarnya tanpa perlu banyak suara? Seperti itulah gambaran seseorang yang memulai amar makruf dari dirinya sendiri. Sahabat MQ akan secara alami menjadi “magnet” yang menarik orang lain untuk ikut berbuat baik tanpa mereka merasa sedang dipaksa atau didikte oleh aturan yang kering.
Ketika Sahabat MQ mulai konsisten memperbaiki kualitas salat, menjaga kesantunan lisan, atau rajin berbagi, orang-orang di sekitar—baik di kantor maupun di rumah—pasti akan memperhatikannya. Tanpa perlu Sahabat MQ memberikan ceramah yang panjang lebar, mereka akan mulai merasa tertarik atau bahkan langsung meniru kebiasaan positif tersebut. Inilah tingkat tertinggi dari sebuah ajakan kebaikan: menginspirasi lewat aksi.
Ingatlah Sahabat MQ, esensi dari amar makruf adalah merangkul, bukan memukul. Dengan memulai dari diri sendiri, kita sedang membangun jembatan kepercayaan yang kokoh. Orang lain akan percaya pada apa yang kita sampaikan karena mereka melihat integritas yang nyata dalam keseharian kita. Perjalanan dakwah ini pun menjadi terasa jauh lebih indah karena kita semua bertumbuh bersama dalam ketaatan.
Sebagai penutup perenungan kita, mari kita ingat kembali pesan Rasulullah saw. yang mengingatkan kita semua tentang pentingnya menjaga lisan dan sikap:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)
Semoga Sahabat MQ senantiasa dimudahkan oleh Allah Swt. untuk menjadi pribadi yang tidak hanya pandai mengajak, tetapi juga menjadi orang pertama yang mengamalkan kebaikan tersebut. Yuk, kita mulai langkah kecil ini dari diri sendiri, sekarang juga!