Hilangnya Apresiasi dan Munculnya Tuntutan yang Merusak Kebahagiaan
Mengucapkan terima kasih atas hal-hal kecil yang dilakukan oleh pasangan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting setelah bertahun-tahun hidup bersama. Padahal, hilangnya rasa apresiasi di dalam rumah tangga adalah pintu masuk utama bagi munculnya rasa tidak puas dan kekecewaan yang mendalam. Melalui program Inspirasi Keluarga – Keluarga Bahagia bersama narasumber Iip Saripudin, S.H., MM. selaku Konselor Puspaga Kota Bandung, dipaparkan betapa krusialnya sebuah penghargaan dalam menjaga keutuhan cinta.
Saat usaha suami dalam mencari nafkah atau pengorbanan istri dalam mengurus rumah tangga dianggap sebagai kewajiban biasa yang tidak perlu dipuji, maka motivasi untuk berbuat baik akan menurun. Suasana rumah yang tadinya hangat bisa berubah menjadi dingin karena dipenuhi oleh tuntutan yang tinggi serta keluhan yang tiada habisnya. Sahabat MQ perlu menyadari bahwa ego manusia selalu membutuhkan pengakuan dan penghargaan, terutama dari orang yang paling dicintainya.
Menghargai kebaikan pasangan adalah wujud nyata dari rasa syukur kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas karunia jodoh yang telah diberikan. Seseorang tidak akan pernah bisa dikatakan bersyukur kepada Pencipta jika dirinya masih enggan untuk berterima kasih kepada sesama manusia yang telah berbuat baik kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita semua akan hakikat ini melalui sebuah sabda yang tegas:
لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
Artinya: “Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Dampak Buruk Hilangnya Sentuhan Fisik dan Kedekatan Emosional
Jarak emosional antara suami dan istri sering kali diawali dari berkurangnya intensitas kedekatan fisik dalam kehidupan sehari-hari. Kesibukan dengan pekerjaan, kelelahan mengurus anak, hingga kebiasaan asyik dengan gawai masing-masing sebelum tidur membuat sentuhan fisik menjadi hal yang langka. Pegangan tangan, pelukan hangat, atau sekadar usapan lembut di kepala mulai terlupakan seiring berjalannya waktu pernikahan.
Padahal, sentuhan fisik yang tulus memiliki kekuatan magis untuk meredakan stres, menurunkan ego, serta mengembalikan koneksi emosional yang sempat merenggang akibat konflik harian. Ketika sentuhan fisik menghilang, pasangan akan mulai merasa asing satu sama lain meskipun mereka tinggal di bawah atap yang sama dan tidur di ranjang yang sama. Sahabat MQ tidak boleh membiarkan formalitas usia atau lamanya pernikahan menghapus kemesraan fisik yang halal ini.
Menjaga kemesraan fisik bukan hanya urusan biologis semata, melainkan bagian dari seni merawat cinta yang sangat dicontohkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menunjukkan sikap romantis dan kehangatan fisik kepada para istri beliau guna menjaga keharmonisan. Sebuah pernikahan yang kokoh adalah pernikahan yang mampu memadukan kedekatan spiritual dengan kehangatan fisik secara seimbang.
Bahaya Meremehkan dan Mengabaikan Keluhan Perasaan Pasangan
Sikap egois yang paling sering melukai hati pasangan adalah ketika salah satu pihak mulai meremehkan atau enggan mendengarkan keluhan perasaan dari pasangannya. Saat istri sedang merasa lelah atau suami sedang mengalami tekanan emosional, mereka membutuhkan telinga yang mau mendengar dengan empati, bukan penolakan atau penghakiman. Mengatakan bahwa pasangan terlalu sensitif atau berlebihan dalam merespons masalah adalah bentuk pengabaian emosional yang sangat menyakitkan.
Ketika perasaan seseorang terus-menerus diabaikan di dalam rumahnya sendiri, dia akan mulai mencari kenyamanan dan tempat bercerita di luar rumah. Kondisi rapuh inilah yang sering kali menjadi celah bagi masuknya pihak ketiga atau munculnya pemikiran untuk mengakhiri hubungan pernikahan. Sahabat MQ harus melatih diri untuk menjadi pendengar yang baik, penuh perhatian, dan menghargai setiap dinamika emosi pasangan.
Mendengarkan pasangan dengan penuh perhatian adalah bagian dari pilar keadilan dan pemenuhan hak di dalam kehidupan berumah tangga. Pernikahan yang berkah adalah pernikahan yang di dalamnya terdapat ruang aman bagi setiap anggota keluarga untuk mengekspresikan diri tanpa takut disalahpahami. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengenai kewajiban berbuat baik kepada pasangan hidup:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Artinya: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19).