Indikator Takwa Pasca-Ramadhan

Banyak orang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga tanpa perubahan perilaku yang berarti. Prof. Miftah Faridh mengingatkan bahwa esensi puasa adalah la’allakum tattaquun (agar kalian bertakwa). Salah satu ciri utama keberhasilan ibadah di bulan Syawal ini adalah meningkatnya kemampuan kita dalam mengendalikan emosi, karena marah adalah pintu masuk setan untuk merusak amal ibadah kita.

Rasulullah bersabda:

    رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya:    (Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar.) (HR. An-Nasa’i)

    Mengendalikan Marah: Ujian Sejati Seorang Mukmin

Seorang yang puasanya sukses tidak akan menjadi pendendam, melainkan menjadi pribadi yang jiwanya besar dan siap memaafkan. Meneladani Rasulullah SAW yang justru mendoakan hidayah bagi orang yang menzaliminya adalah puncak dari kemuliaan akhlak. Jika setelah Ramadhan kita masih sulit memaafkan dan mudah meledak karena masalah sepele, maka kita perlu mengevaluasi kembali kualitas ibadah ritual yang telah dilakukan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an (Surah Ali Imran: 134):

    وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

 Artinya:   (…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.)

    Menjadi Pribadi yang Pemaaf dan Rendah Hati

Selain itu, ketakwaan harus berbuah pada kejujuran dalam menepati janji dan kesabaran menghadapi kesulitan. Pribadi yang bertakwa tidak akan bangga dengan kesalahan atau dosa yang dilakukan, melainkan segera beristigfar saat tergelincir. Mari jadikan bulan Syawal ini sebagai momentum untuk membuktikan bahwa puasa kita telah melahirkan “manusia baru” yang lebih teduh, tenang, dan memberikan manfaat bagi orang di sekitar.