Masa Kegelapan Eropa dan Cahaya Ilmu di Baghdad
Sahabat MQ, seringkali kita merasa minder dan menganggap kedokteran modern adalah milik bangsa lain. Padahal, sejarah mencatat bahwa saat Eropa berada dalam masa kegelapan (Dark Age), dunia Islam di bawah kekhalifahan Harun Ar-Rasyid justru telah membangun rumah sakit modern pertama yang disebut Bimaristan. Di sana sudah ada pemisahan bangsal antara penyakit menular dan kebidanan—sebuah konsep yang baru diadopsi Barat berabad-abad kemudian. Ilmu ini kemudian diterjemahkan ke bahasa Yunani dan Ibrani setelah kejayaan Islam di Baghdad meredup.
Azzahrawi: Bapak Bedah Muslim yang Menginspirasi Dunia
Dr. Asep mengingatkan kita pada sosok Al-Zahrawi (Albucasis), ilmuwan muslim yang menciptakan lebih dari 200 alat bedah, mulai dari pisau bedah hingga alat penjepit pembuluh darah. Prinsip alat-alat tersebut masih digunakan di ruang operasi seluruh dunia hingga hari ini. Jadi, saat Sahabat MQ melihat peralatan medis di rumah sakit, ketahuilah bahwa itu adalah “warisan kakek moyang” kita yang dikembangkan oleh ilmuwan Barat. Operasi medis bukanlah hal asing, melainkan kelanjutan dari kejayaan intelektual muslim. Dua Saintis Muslim Besar Islam
Sebut saja Ali bin Isa al-Kahal yang merupakan seorang dokter spesialis mata terbesar dalam abad pertengahan dengan keahliannya. Ia mengarang buku al-Tazdzkirah yang merupakan karya terbesarnya.
Selain itu, juga terdapat Saintis-saintis Muslim lain yang berkontribusi besar di bidang kedokteran. Sebut saja spesialis Bedah Abu Qasim Az-Zahrawi dan Ibnu Sina yang banyak memberikan sumbangsih bagi umat manusia, yaitu menemukan berbagai macam penyakit yang ada terus sampai sekarang.
Berikut saya paparkan biografi singkat keduanya:
Abu Qasim Az-Zahrawi
Az-Zahrawi termasuk salah seorang penemu pertama alat-alat bedah, seperti pisau bedah dan alat bedah. Dia juga meletakkan dasar dan rumus atau aturan bedah untuk mengikat organ tubuh untuk mencegah pendarahan. Ia membuat benang untuk menjahit bekas bedah, sehingga dapat menghentikan pendarahan agar lekas membeku.
Az-Zahrawi juga orang pertama yang menemukan teori pembedahan dengan menciptakan dan menggunakan suntik dan alat-alat bedah. Ia pun mendirikan tempat praktik dengan pemeriksaan statistik tempat melipat (memberikan tanda) yang menyerupai tempat cermin muka teleskop pada masa mendatang. Dia juga orang pertama yang menggunakan cermin muka (teleskop ringan).
Disebutkan dalam bukunya At-Tashrif Liman Ajiza’ an Ta’ lif yang diterjemahkan ke Bahasa Latin negara ltalia oleh Gerardo dengan sebutan Al-Tasrif. Bahkan seorang pakar ilmuan besar di bidang anatomi tubuh Hallery mengakuinya dan mengatakan “Seluruh pakar bedah Eropa sesudah abad ke-16 menimba ilmu dan berpatokan pada pembahasan ini (buku Az-Zahrawi).”
Perintah Menuntut Ilmu Tanpa Batas
Islam memerintahkan kita untuk tidak fanatik buta pada satu metode jika ada metode lain yang lebih efektif dalam menyelamatkan nyawa. Rasulullah saw. bersabda:
الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا
Artinya: “Hikmah (ilmu yang bermanfaat) itu adalah barang hilang milik orang mukmin. Di mana pun ia menemukannya, maka ia lebih berhak mengambilnya.” (HR. Tirmidzi). Sahabat MQ, ilmu kedokteran modern adalah “barang hilang” kita yang harus kita ambil kembali dengan niat ibadah.