Yang lalai (kadang-kadang) Seorang karyawan yang rajin shalat Jumat, tapi untuk shalat Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya sering bolong-bolong
Yang Terpaksa (karena aturan/disuruh) Karena aturan perusahaan/sekolah, disuruh ortu/calon mertua)
Yang Menunda (karena sibuk dunia) “Nanti saja maaasih ada waktu, kan ini kerjaan penting)
Yang Formalitas (gugur kewajiban) Seseorang yang shalat hanya untuk menggugurkan kewajiban (syarat formal agar tidak berdosa)
Yang Buru-buru (gugur kewajiban) “Yang penting sudah shalat, biar gak dosa.”
Yang Riya’ (jika ada yang mengetahui) Bacaan shalat panjang bila ada orang, sedekah besar bila diumumkan)
Yang Ujub (merasa hebat) “Orang lain mana sanggup seperti aku. Aku lebih baik dari mereka.”
Yang ikut-ikutan (bagaimana lingkungan) Seorang remaja yang tadinya jarang shalat berjamaah, tapi karena pindah ke lingkungan pesantren atau kosan yang rajin shalat berjamaah, ia ikut-ikutan. Ketika pulang ke kampung halaman yang masyarakatnya longgar dalam ibadah, ia kembali malas- malasan.
Yang Maksimalis Sesaat (emosional) Setelah mendengar ceramah yang menyentuh hati atau setelah selamat dari musibah, seseorang menjadi super rajin: shalat malam, puasa sunah, sedekah besar-besaran. Namun semangat itu hanya bertahan 1–2 minggu, lalu kembali ke kebiasaan lama bahkan lebih longgar.
Yang Membutuhkan (hati yang butuh) Seorang yang sedang dilanda masalah berat sakit, hutang, atau kehilangan tiba- tiba menjadi sangat tekun beribadah. Ia shalat dengan air mata, berdoa lama, dan dekat dengan Allah. Ibadahnya karena merasa bahwa tidak ada tempat bergantung selain Allah. Namun ketika masalah selesai, kadang ibadahnya berkurang.
Yang Bersyukur (hati yang bersyukur) Seorang yang miskin, sakit-sakitan, atau biasa-biasa saja dalam hidup, tetapi setiap selesai shalat ia tersenyum. Ia berkata, “Alhamdulillah, Allah masih memberi saya kesempatan untuk sujud kepada-Nya.” Ia tidak pernah membandingkan ibadahnya dengan orang lain. Ibadahnya ringan, konsisten, dan penuh ketenangan karena lahir dari rasa syukur, bukan beban.
TIPS SUKACITA BERIBADAH
Niatkan Ibadah kebutuhan hati “Me Time” dengan Allah Ubah persepsi: ibadah bukan rutinitas, tapi momen istimewa bersama Yang Maha Cinta. Rasakan shalat sebagai “panggilan telepon dari Allah.”
Pahami Makna Baca terjemahan doa dan surah. Ketika sujud, hayati bahwa posisi ini adalah yang terdekat dengan Allah. Rasa manis ibadah akan muncul.
Buat Suasana Aman dan Nyaman a. Shalat di tempat bersih, wangi, dan tenang. b. Gunakan pakaian favorit yang sopan dan rapi. c. Dengarkan lantunan Al-Qur’an dengan tartil.
Selingi dengan Ibadah yang Ringan a. Baca satu ayat dengan renungan. b. Sedekah kecil dengan senyum. c. Dzikir sambil jalan kaki.
Ajak Keluarga atau Teman Ibadah berjamaah atau saling mengingatkan dengan cara lembut akan menumbuhkan energi gembira. Bisa juga ikut kajian yang ringan
Doa Mohon agar Hati Gembira Beribadah Allahumma a’inni ‘ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibadatika. Ya Allah, bantu aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan membaguskan ibadah kepada-Mu. Aamiin.
Rayakan Kemenangan Setelah selesai ibadah, ucapkan dalam hati: “Alhamdulillah, aku berhasil lagi.” Apresiasi diri akan memunculkan rasa senang dan motivasi.
• Live Streaming
102.7 MQFM Bandung
Assalamu'alaykum Sahabat MQ, silahkan dapat menyampaikan pertanyaan disini melalui WhatsApp MQFM
Iklan yang tampil di website ini merupakan layanan pihak ketiga melalui Google AdSense yang dapat disesuaikan dengan preferensi masing-masing pengguna. MQFM berupaya menghadirkan konten yang sejalan dengan nilai-nilai kebaikan dan kebermanfaatan, namun tidak memiliki kendali langsung atas materi iklan yang ditampilkan.