MQFMNETWORK.COM | Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping kembali memunculkan perhatian global. Hubungan dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut dinilai akan sangat memengaruhi arah ekonomi internasional, termasuk bagi Indonesia.

Selama beberapa tahun terakhir, rivalitas Amerika Serikat dan China telah berdampak pada perdagangan global, investasi, rantai pasok industri, hingga stabilitas pasar keuangan. Karena itu, setiap perkembangan hubungan kedua negara selalu menjadi perhatian pelaku pasar dan pemerintah berbagai negara.

Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbuka dinilai tidak bisa lepas dari dampak perubahan hubungan dua kekuatan global tersebut.

Salah satu yang paling menjadi sorotan adalah potensi pengaruh terhadap nilai tukar rupiah dan sektor perdagangan nasional.

Rupiah Dinilai Rentan terhadap Gejolak Global

Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Dyah Ayu, menjelaskan bahwa hubungan Amerika Serikat dan China memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas pasar keuangan dunia.

Dalam pembahasan mengenai dampak pertemuan Trump dan Xi Jinping, ia menjelaskan bahwa ketidakpastian global biasanya membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan modalnya di negara berkembang.

Menurutnya, ketika tensi hubungan kedua negara meningkat, investor cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar Amerika Serikat.

Kondisi tersebut dapat memberi tekanan terhadap nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ia menilai fluktuasi rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga memengaruhi harga barang impor, inflasi, hingga daya beli masyarakat.

“Ketika rupiah melemah, dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan,” ujarnya dalam pembahasan tersebut.

Perdagangan Indonesia Berpotensi Terdampak

Selain nilai tukar, sektor perdagangan juga dinilai menjadi area yang sangat rentan terhadap perubahan hubungan Amerika Serikat dan China.

Dyah Ayu menjelaskan bahwa kedua negara tersebut merupakan mitra dagang utama Indonesia.

Menurutnya, perubahan kebijakan tarif, pembatasan perdagangan, maupun perang dagang dapat memengaruhi ekspor dan impor Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa ketika rantai pasok global terganggu, sektor industri nasional juga dapat terkena dampaknya, terutama industri yang bergantung pada bahan baku impor.

Selain itu, perlambatan ekonomi global akibat ketegangan dua negara besar juga dapat menurunkan permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.

Karena itu, Indonesia dinilai perlu mencermati setiap perkembangan hubungan Amerika Serikat dan China secara serius.

Peluang Relokasi Industri Dinilai Terbuka

Meski ketegangan global membawa risiko, beberapa pihak melihat adanya peluang bagi Indonesia.

Dyah Ayu menilai rivalitas Amerika Serikat dan China dapat mendorong perusahaan global mencari lokasi alternatif untuk investasi dan produksi.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang untuk menarik relokasi industri apabila mampu menyediakan kepastian regulasi dan iklim investasi yang kompetitif.

Ia menjelaskan bahwa posisi strategis Indonesia, pasar domestik yang besar, dan sumber daya alam yang melimpah menjadi modal penting dalam menarik investasi global.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa peluang tersebut tidak akan otomatis datang tanpa pembenahan birokrasi dan peningkatan kualitas infrastruktur.

Ketahanan Ekonomi Domestik Jadi Kunci

Dalam pembahasan tersebut, Dyah Ayu menilai Indonesia perlu memperkuat ketahanan ekonomi domestik agar tidak terlalu rentan terhadap guncangan global.

Menurutnya, penguatan industri dalam negeri menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dan fluktuasi ekonomi dunia.

Ia juga menilai diversifikasi pasar ekspor perlu dilakukan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada negara tertentu.

Selain itu, peningkatan konsumsi domestik dan penguatan sektor UMKM dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Ekonomi domestik yang kuat akan membuat Indonesia lebih tahan menghadapi tekanan eksternal,” katanya.

Persaingan Amerika Serikat dan China Diprediksi Berlanjut

Hubungan Amerika Serikat dan China diperkirakan akan terus menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi ekonomi global.

Persaingan kedua negara tidak hanya terjadi di sektor perdagangan, tetapi juga teknologi, energi, dan geopolitik internasional.

Menurut Dyah Ayu, kondisi tersebut membuat negara-negara berkembang harus lebih adaptif dalam menyusun strategi ekonomi.

Ia menilai Indonesia perlu menjaga keseimbangan hubungan dengan kedua negara tanpa terlalu bergantung pada salah satu pihak.

Selain itu, penguatan daya saing nasional juga dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi mampu memperoleh manfaat lebih besar dari dinamika ekonomi global.

Pemerintah Dinilai Harus Siapkan Antisipasi

Di tengah ketidakpastian global, pemerintah dinilai perlu menyiapkan langkah antisipasi agar dampak gejolak ekonomi dunia tidak terlalu besar terhadap masyarakat.

Dyah Ayu menilai stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, dan perlindungan terhadap sektor industri nasional harus menjadi perhatian utama.

Menurutnya, pemerintah juga perlu memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter agar ekonomi domestik tetap stabil di tengah tekanan eksternal.

Selain itu, peningkatan kualitas investasi dan penguatan sektor produktif dinilai penting agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang dari perubahan peta ekonomi dunia.

Antara Ancaman dan Kesempatan

Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping memperlihatkan bahwa hubungan dua kekuatan ekonomi dunia akan terus memberi pengaruh besar terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia, dinamika tersebut menghadirkan dua sisi sekaligus: ancaman berupa tekanan terhadap rupiah dan perdagangan nasional, serta peluang melalui relokasi investasi dan diversifikasi ekonomi.

Karena itu, seperti disampaikan Dyah Ayu, penguatan ketahanan ekonomi domestik menjadi langkah penting agar Indonesia tidak mudah terdampak gejolak global dan mampu memanfaatkan peluang di tengah perubahan ekonomi dunia.