MQFMNETWORK.COM | Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping kembali menjadi perhatian dunia. Hubungan kedua negara tersebut dinilai sangat menentukan arah ekonomi global karena Amerika Serikat dan China merupakan dua kekuatan utama dalam perdagangan, investasi, teknologi, dan geopolitik internasional.
Setiap dinamika hubungan antara Washington dan Beijing selalu membawa dampak luas terhadap pasar global, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan rivalitas dua negara besar tersebut, Indonesia dinilai perlu menyiapkan strategi ekonomi baru agar tidak hanya menjadi pihak yang terdampak, tetapi juga mampu memanfaatkan peluang yang muncul dari perubahan peta ekonomi global.
Indonesia Tidak Bisa Menghindari Dampak Global
Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Dyah Ayu, menjelaskan bahwa posisi Indonesia sangat terhubung dengan dinamika ekonomi global.
Dalam pembahasan mengenai dampak pertemuan Trump dan Xi Jinping, ia menjelaskan bahwa hubungan Amerika Serikat dan China berpengaruh langsung terhadap perdagangan internasional, investasi asing, hingga stabilitas pasar keuangan dunia.
Menurutnya, Indonesia sebagai negara berkembang dengan ekonomi terbuka akan ikut merasakan dampak dari perubahan kebijakan kedua negara tersebut.
Ketika hubungan Amerika Serikat dan China memburuk, tekanan terhadap pasar global biasanya ikut meningkat. Sebaliknya, ketika hubungan lebih stabil, pasar cenderung lebih kondusif dan kepercayaan investor meningkat.
Karena itu, ia menilai Indonesia perlu memiliki strategi yang lebih adaptif dalam menghadapi perubahan global.
Strategi Ekonomi Baru Dinilai Mendesak
Dyah Ayu menilai Indonesia tidak bisa terus bergantung pada pola ekonomi lama di tengah perubahan global yang semakin cepat.
Menurutnya, rivalitas Amerika Serikat dan China menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi dunia akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.
Karena itu, Indonesia dinilai perlu menyiapkan strategi ekonomi baru yang lebih berorientasi pada penguatan ketahanan domestik dan peningkatan daya saing nasional.
Ia menjelaskan bahwa penguatan industri dalam negeri menjadi langkah penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor maupun pasar luar negeri tertentu.
Selain itu, diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan nilai tambah produk nasional juga dinilai perlu diperkuat.
“Indonesia harus lebih siap menghadapi perubahan global, bukan hanya bereaksi ketika dampaknya sudah terasa,” ujarnya dalam pembahasan tersebut.
Peluang Relokasi Investasi Harus Dimanfaatkan
Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China, banyak perusahaan global mulai mempertimbangkan relokasi industri dan diversifikasi rantai pasok.
Menurut Dyah Ayu, kondisi tersebut sebenarnya membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi baru.
Ia menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan, seperti pasar domestik yang besar, posisi geografis strategis, dan sumber daya alam yang melimpah.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa peluang tersebut tidak akan otomatis datang tanpa pembenahan regulasi dan peningkatan kualitas iklim investasi.
Menurutnya, kepastian hukum, birokrasi yang efisien, dan infrastruktur yang memadai menjadi faktor penting agar Indonesia mampu bersaing dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Rupiah dan Pasar Domestik Tetap Perlu Dijaga
Selain sektor investasi dan perdagangan, stabilitas nilai tukar rupiah juga dinilai menjadi tantangan penting di tengah ketidakpastian global.
Dyah Ayu menjelaskan bahwa gejolak hubungan Amerika Serikat dan China sering kali memicu ketidakstabilan pasar keuangan global.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ia menilai penguatan ekonomi domestik menjadi langkah penting agar Indonesia tidak terlalu rentan terhadap tekanan eksternal.
Selain itu, peningkatan konsumsi dalam negeri dan penguatan sektor UMKM juga dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional ketika kondisi global sedang tidak menentu.
Persaingan Teknologi dan Industri Jadi Tantangan Baru
Rivalitas Amerika Serikat dan China saat ini tidak hanya terjadi di sektor perdagangan, tetapi juga teknologi dan industri strategis.
Menurut Dyah Ayu, perkembangan tersebut menjadi tantangan baru bagi Indonesia dalam meningkatkan daya saing nasional.
Ia menilai Indonesia perlu mempercepat transformasi industri dan pengembangan teknologi agar tidak tertinggal dalam persaingan global.
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga dinilai menjadi faktor penting agar Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan ekonomi dunia yang semakin berbasis teknologi dan inovasi.
“Kalau hanya mengandalkan pasar konsumsi, Indonesia akan sulit bersaing dalam jangka panjang,” katanya.
Pemerintah Diminta Lebih Antisipatif
Dalam pembahasan tersebut, Dyah Ayu menilai pemerintah perlu lebih antisipatif dalam menghadapi dampak perubahan ekonomi global.
Menurutnya, kebijakan ekonomi nasional tidak bisa hanya berorientasi jangka pendek, tetapi harus mampu membangun ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.
Ia menilai koordinasi kebijakan fiskal, moneter, industri, dan perdagangan perlu diperkuat agar Indonesia lebih siap menghadapi tekanan global.
Selain itu, pembangunan sektor produktif dan penguatan industri bernilai tambah juga dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi negara lain.
Antara Tantangan dan Kesempatan
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping menunjukkan bahwa arah hubungan dua kekuatan ekonomi dunia akan terus memengaruhi kondisi global.
Bagi Indonesia, situasi tersebut menghadirkan tantangan berupa ketidakpastian ekonomi dunia, tetapi juga peluang melalui relokasi investasi dan perubahan rantai pasok global.
Karena itu, seperti disampaikan Dyah Ayu, Indonesia perlu menyiapkan strategi ekonomi baru yang lebih kuat, adaptif, dan berorientasi pada penguatan sektor domestik agar mampu bertahan sekaligus bersaing di tengah perubahan ekonomi global.