sampah bandung

MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Perayaan kemenangan Persib Bandung kembali dipadati ribuan warga di berbagai ruas jalan Kota Bandung. Namun di balik euforia tersebut, tumpukan sampah yang berserakan di sejumlah titik menjadi sorotan publik.

Botol plastik, bungkus makanan, kantong sekali pakai, hingga sampah sisa perayaan terlihat memenuhi jalanan usai konvoi dan keramaian massa. Kondisi tersebut kembali memunculkan pertanyaan lama: apakah persoalan sampah di Bandung lebih disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat, atau justru lemahnya sistem pengelolaan sampah kota?

Tema Bandung bebas sampah kembali ramai diperbincangkan karena persoalan tersebut dinilai terus berulang setiap kali muncul kegiatan besar yang melibatkan massa dalam jumlah besar.

Persoalan Sampah Dinilai Tidak Bisa Hanya Menyalahkan Warga

Manager Divisi Pendidikan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Barat, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat, M. Jefry Rohman, menilai persoalan sampah di Bandung tidak bisa dilihat secara sederhana hanya sebagai masalah perilaku masyarakat.

Dalam pembahasan mengenai kesadaran Bandung bebas sampah pasca euforia kemenangan Persib, ia menjelaskan bahwa persoalan sampah merupakan gabungan antara budaya konsumsi masyarakat dan kesiapan sistem pengelolaan sampah kota.

Menurutnya, kebiasaan membuang sampah sembarangan memang masih menjadi tantangan besar. Namun di sisi lain, sistem pengelolaan sampah yang belum optimal juga membuat persoalan terus berulang.

“Kalau hanya menyalahkan masyarakat tanpa memperbaiki sistem, maka masalah ini akan terus terjadi,” ujarnya dalam pembahasan tersebut.

Budaya Konsumtif Dinilai Jadi Penyumbang Besar Sampah

M. Jefry Rohman menjelaskan bahwa meningkatnya volume sampah saat perayaan besar tidak lepas dari pola konsumsi masyarakat yang masih bergantung pada produk sekali pakai.

Botol minuman plastik, kemasan makanan instan, dan kantong plastik dinilai menjadi jenis sampah yang paling mendominasi saat keramaian berlangsung.

Menurutnya, budaya konsumtif masyarakat perkotaan membuat produksi sampah terus meningkat setiap hari, terutama ketika ada kegiatan massal seperti perayaan kemenangan Persib.

Ia menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan kegiatan bersih-bersih setelah acara selesai.

“Persoalannya ada pada pola konsumsi yang memang menghasilkan banyak sampah sejak awal,” katanya.

Sistem Pengelolaan Sampah Dinilai Belum Maksimal

Selain faktor kebiasaan masyarakat, WALHI Jawa Barat juga menyoroti kesiapan sistem pengelolaan sampah di Kota Bandung.

Menurut M. Jefry Rohman, pengelolaan sampah seharusnya tidak hanya fokus pada pengangkutan dan pembuangan akhir, tetapi juga pengurangan sampah dari sumbernya.

Ia menjelaskan bahwa kapasitas pengelolaan sampah kota masih menghadapi banyak tantangan mulai dari keterbatasan fasilitas, pengolahan, hingga edukasi publik.

Selain itu, pola penanganan sampah yang masih bertumpu pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dinilai membuat persoalan semakin berat ketika volume sampah meningkat drastis.

“Sistem kita masih lebih banyak menangani sampah setelah menumpuk, bukan mencegah sampah sejak awal,” ujarnya.

Dampak Sampah Dinilai Tidak Hanya Soal Kebersihan

Dalam pembahasan tersebut, M. Jefry Rohman menegaskan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan estetika kota atau kebersihan lingkungan.

Menurutnya, tumpukan sampah juga berdampak pada kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, hingga aktivitas ekonomi warga.

Sampah yang menumpuk dapat memicu pencemaran air, bau tidak sedap, hingga meningkatkan risiko penyakit di lingkungan padat penduduk.

Selain itu, kondisi lingkungan yang kotor juga dinilai dapat memengaruhi kenyamanan ruang publik dan citra Kota Bandung sebagai kota wisata.

“Dampak sampah itu sangat luas, bukan hanya membuat kota terlihat kotor,” katanya.

Peran Komunitas Lingkungan Dinilai Penting

Di tengah persoalan tersebut, berbagai komunitas lingkungan di Bandung mulai aktif mengedukasi masyarakat mengenai pengurangan sampah dan pentingnya menjaga lingkungan.

M. Jefry Rohman menilai gerakan komunitas memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat secara langsung.

Menurutnya, perubahan perilaku tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan warga dan komunitas akar rumput.

Ia menjelaskan bahwa edukasi mengenai pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, hingga pola konsumsi berkelanjutan perlu terus diperkuat.

“Kesadaran lingkungan harus dibangun bersama, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah,” ujarnya.

Bandung Bebas Sampah Dinilai Perlu Perubahan Kolektif

Persoalan sampah pasca euforia kemenangan Persib Bandung kembali menunjukkan bahwa tantangan mewujudkan Bandung bebas sampah masih sangat besar.

Di satu sisi, kebiasaan masyarakat dalam menghasilkan dan membuang sampah dinilai masih perlu diperbaiki. Namun di sisi lain, sistem pengelolaan sampah kota juga dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi peningkatan volume sampah dalam skala besar.

Karena itu, seperti disampaikan M. Jefry Rohman, penyelesaian persoalan sampah tidak bisa dilakukan secara parsial.

Diperlukan perubahan pola konsumsi masyarakat, penguatan sistem pengelolaan sampah, serta keterlibatan komunitas dan pemerintah secara bersama-sama agar Bandung benar-benar mampu bergerak menuju kota yang lebih bersih dan berkelanjutan.