Menghitung Sisa Umur Sebelum Menutup Mata

Kehidupan di atas dunia ini laksana sebuah panggung sandiwara singkat di mana setiap manusia hanya mampir sejenak untuk mengumpulkan bekal pulang. Detik demi detik yang terlewati tanpa disadari terus mengikis jatah usia yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa taala sejak di dalam kandungan. Banyak orang yang terlalu asyik menyusun rencana masa depan duniawi hingga melupakan kenyataan kepastian datangnya malaikat maut. Sahabat MQ, setiap napas yang berembus bisa jadi merupakan kesempatan terakhir yang diberikan sebelum pintu tobat tertutup rapat.

Sangat boleh jadi momen-momen indah yang dinikmati saat ini, baik berkumpul bersama keluarga maupun beribadah, tidak akan pernah terulang lagi di masa mendatang. Oleh karena itu, memanfaatkan sisa umur yang ada agar bernilai mulia di jalan yang Allah ridai adalah sebuah urgensi yang tidak bisa ditunda-tunda. Mempersiapkan diri untuk menghadapi momen sakaratulmaut agar bisa berakhir dengan kondisi husnul khatimah harus menjadi cita-cita tertinggi dalam hidup.

Kesadaran akan kepastian datangnya kematian ini merupakan pengingat terbaik agar manusia tidak terlena oleh buaian duniawi yang menipu. Allah Subhanahu wa taala telah mengingatkan seluruh hamba-Nya mengenai realitas ini.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Definisi Kesuksesan yang Hakiki Menurut Kacamata Langit

Dunia sering kali mengonstruksikan definisi kesuksesan dengan indikator-indikator materi seperti rumah mewah, perusahaan besar, dan jabatan mentereng. Namun, standar yang dibuat oleh manusia tersebut akan kehilangan nilainya sama sekali ketika tubuh sudah terbujur kaku di dalam liang kubur. Kesuksesan yang sesungguhnya dan mutlak menurut pandangan Allah adalah ketika seorang hamba berhasil diselamatkan dari siksa api neraka dan diizinkan melangkah masuk ke dalam surga. Sahabat MQ, inilah visi utama yang harus dikejar dengan sungguh-sungguh.

Apalah artinya di dunia ini dipuja dan dikagumi oleh jutaan pasang mata karena prestasi yang luar biasa, jika pada akhirnya harus menjadi bahan bakar api neraka. Setiap orang tua hendaknya tidak hanya fokus menyukseskan anak dalam urusan karier keduniawian, melainkan berpikir keras bagaimana agar seluruh anggota keluarga bisa berkumpul kembali di dalam surga. Menyelaraskan seluruh aktivitas harian dengan orientasi akhirat akan membuat hidup menjadi lebih terarah dan penuh ketenangan.

Definisi tentang keberuntungan yang sejati dan kemenangan yang besar ini telah termaktub dengan sangat indah di dalam ayat suci Al-Qur’an.

فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Peringatan Keras Bagi Jiwa yang Enggan Berkorban

Mengejar keselamatan akhirat menuntut adanya pengorbanan yang nyata dalam bentuk konsistensi menjalankan perintah agama dan menjauhi segala larangan-Nya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam semasa hidupnya di Madinah telah memberikan keteladanan nyata tentang bagaimana mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi. Beliau bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas bagi orang-orang yang memiliki keluasan rezeki namun enggan untuk berbagi melalui ibadah kurban. Sahabat MQ, kepelitan harta hanya akan membuahkan kesengsaraan batin.

Harta yang ditumpuk tanpa pernah disucikan dengan zakat, infak, dan kurban kelak akan berubah menjadi beban berat yang menyiksa di hari pertanggungjawaban. Mengikuti ego hawa nafsu untuk terus menuruti kemauan duniawi adalah jebakan setan yang halus agar manusia lalai dari mengingat hari pembalasan. Kebahagiaan sejati didapatkan saat tangan ini ringan untuk memberi dan membantu meringankan beban penderitaan sesama hamba Allah.

Ancaman spiritual bagi orang-orang yang enggan berkorban padahal memiliki kemampuan finansial yang cukup telah disabdakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadis yang perlu direnungkan.

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barang siapa yang memiliki kelapangan (harta) namun tidak mau berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).