Sumpah Istimewa Sang Pencipta dalam Surah Al-Fajr

Malam yang tenang dan penuh berkah senantiasa menyimpan rahasia besar yang jarang disadari oleh banyak kaum muslimin. Banyak di antara kita yang mengira bahwa Hari Raya Idul Fitri adalah puncak perayaan terbesar dalam Islam, padahal ada keutamaan yang jauh lebih besar pada Hari Raya Idul Adha. Ustadz Abu Yahya dalam kajiannya menjelaskan bahwa keagungan Idul Adha bahkan diabadikan langsung melalui sumpah Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an. Sumpah ini menandakan ada sesuatu yang sangat luar biasa dan bernilai tinggi di mata-Nya pada hari yang agung tersebut.

Sahabat MQ yang dirahmati Allah, mari kita merenungkan bagaimana Sang Pencipta memberikan perhatian khusus pada waktu fajar dan sepuluh malam pertama di bulan Dzulhijjah. Hal ini menunjukkan bahwa momen ini bukanlah waktu biasa, melainkan waktu emas untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْفَجْرِۙ وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ

“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2).

Berdasarkan penjelasan para ahli tafsir, fajar yang dimaksud dalam ayat tersebut secara khusus merujuk pada fajar hari Nahar atau fajar Idul Adha. Ketika fajar tersebut menyingsing, pintu-pintu keberkahan dibuka lebar bagi hamba-hamba-Nya yang bersiap melaksanakan salat dan menyembelih kurban. Oleh karena itu, sungguh merugi bagi siapa saja yang melewatkan momentum suci ini tanpa adanya peningkatan amal saleh yang berarti.

Rangkaian Hari Raya Panjang yang Penuh Kebahagiaan

Keutamaan lain yang membuat Idul Adha begitu istimewa dibandingkan Idul Fitri adalah durasi perayaannya yang jauh lebih panjang dan dinamis. Jika Idul Fitri hanya memiliki satu hari raya utama tanpa adanya amalan khusus setelah khotbah selesai, Idul Adha justru sebaliknya. Setelah salat Id ditunaikan, kaum muslimin memasuki rangkaian hari-hari tasyrik yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Ini adalah waktu yang Allah berikan secara luas agar umat Islam dapat menikmati hidangan dan terus mengagungkan nama-Nya.

Sahabat MQ, atmosfer kebahagiaan pada Idul Adha terasa begitu kental karena ada aktivitas sosial dan ibadah yang berjalan beriringan tanpa henti. Dari tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah, gema takbir terus dikumandangkan di setiap penjuru masjid dan musala sebagai bentuk syukur yang nyata. Tidak ada ruang untuk kesedihan, sebab hari-hari ini adalah waktu makan, minum, dan berzikir yang telah ditetapkan oleh syariat.

Setiap detik di hari tasyrik adalah kesempatan berharga untuk mencicipi keberkahan rezeki yang Allah tebarkan melalui hewan sembelihan. Kegembiraan ini tidak hanya dirasakan oleh pemilik kurban, tetapi juga mengalir merata kepada kerabat, tetangga, hingga fakir miskin. Hal inilah yang membuat Idul Adha menjadi sebuah manifestasi nyata dari indahnya kebersamaan dalam ikatan ukhuwah islamiyah.

Keberkahan Hidangan yang Disembelih karena Allah

Mengapa daging kurban terasa begitu nikmat dan memiliki tempat tersendiri di hati umat muslim? Jawabannya terletak pada hakikat penyembelihannya yang murni diniatkan sebagai bentuk pendekatan diri atau taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap tetes darah yang mengalir dari hewan kurban membawa nilai ibadah yang sangat tinggi, berbeda dengan penyembelihan hewan untuk sekadar komoditas dagang sehari-hari.

Para ulama menjelaskan bahwa makanan yang paling berkah adalah makanan yang dihasilkan dari ketaatan kepada syariat. Sahabat MQ dipersilakan, bahkan disunahkan, untuk ikut mencicipi dan memakan sebagian dari daging hewan kurban yang telah dikurbankan sendiri. Kegembiraan saat menikmati hidangan kurban ini merupakan bentuk perayaan atas keberhasilan melawan sifat kikir dan ego pribadi. Melalui konsumsi daging kurban ini, ada rasa syukur mendalam yang tertanam di dalam dada setiap mukmin yang ikhlas. Hidangan ini menjadi simbol bahwa segala harta yang kita miliki pada hakikatnya adalah milik Allah yang harus dikembalikan dalam bentuk kemaslahatan umat. Dengan demikian, menikmati makanan di hari raya ini menjadi bernilai pahala yang mengalirkan ketenteraman batin.