Bahaya Menuntut Pasangan di Luar Batas Kemampuan
Dalam perjalanan membangun mahligai rumah tangga, banyak pasangan yang tanpa sadar membawa segudang ekspektasi idealis yang didapatkan dari fiksi atau media sosial. Ketika realitas kehidupan pernikahan tidak berjalan seindah fantasi tersebut, kekecewaan mulai merayap dan merusak kedamaian batin. Mengulas kembali pemaparan mendalam dari Bang Adia Nugraha selaku Penulis Buku “Kala Rumah Tangga Seseru Main Ular Tangga” dalam program Inspirasi Pagi pada segmen Bincang Parenting di 102.7 FM Bandung, pembunuh utama dari rasa sakinah di dalam keluarga sering kali berakar dari adanya tuntutan yang terlalu tinggi dan tidak realistis terhadap pasangan hidup.
Menuntut suami atau istri untuk menjadi sosok yang sempurna tanpa cacat adalah sebuah tindakan yang tidak adil dan bertentangan dengan tabiat kemানুsiaan. Setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing yang sengaja dipadukan untuk saling melengkapi. Sahabat MQ yang terjebak dalam siklus menuntut secara berlebihan hanya akan memproduksi ketegangan harian yang melelahkan jiwa dan mengikis rasa syukur atas kehadiran pasangan.
Al-Qur’an memberikan tuntunan yang sangat bijaksana agar para suami khususnya, tetap memperlakukan istri mereka dengan cara yang baik meskipun mendapati hal-hal yang tidak sesuai dengan selera pribadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan bahwa di balik sesuatu yang kurang disukai, bisa jadi terdapat kebaikan yang sangat besar yang telah dipersiapkan:
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19).
Seni Fokus pada Kebaikan dan Mengubur Memori Kekurangan
Untuk menyelamatkan sakinah yang mulai terancam oleh tingginya ekspektasi, diperlukan sebuah perubahan paradigma yang radikal dalam memandang pasangan. Alih-alih menghabiskan energi untuk mencatat dan mengingat setiap daftar kekurangan suami atau istri, Sahabat MQ sangat disarankan untuk mengalihkan fokus pada lembaran-lembaran kebaikan yang telah mereka lakukan selama ini. Mengingat kembali pengorbanan pasangan di masa-masa sulit akan membangkitkan kembali rasa cinta yang sempat meredup.
Seni mengubur memori tentang kekurangan pasangan adalah bentuk investasi jangka panjang bagi kesehatan mental keluarga. Tidak ada keuntungan yang bisa dipetik dari kebiasaan mengungkit kesalahan masa lalu yang sudah ditaubati. Ketika mata batin kita dilatih untuk selalu melihat sisi positif, maka kekurangan yang ada pada pasangan akan terlihat sebagai ruang bagi kita untuk mengisinya dengan kebaikan.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan formula psikologis yang sangat indah untuk mencegah terjadinya perceraian akibat ketidakpuasan terhadap sifat pasangan. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau menegaskan sebuah prinsip keadilan dalam berpasangan:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci seorang mukmin perempuan (istrinya). Jika ia tidak suka dengan salah satu perangainya, maka ia akan rida dengan perangainya yang lain.”
Menurunkan Ego Demi Terciptanya Kedamaian Domestik
Menurunkan ego pribadi dan menyelaraskan ekspektasi dengan realitas adalah jembatan emas menuju terciptanya kedamaian domestik yang berkelanjutan. Pernikahan bukanlah sebuah panggung kompetisi untuk membuktikan siapa yang paling hebat atau siapa yang paling berhak dilayani, melainkan sebuah kemitraan suci untuk saling meringankan beban hidup. Ketika ego berhasil ditundukkan, maka ruang komunikasi yang sehat akan terbuka dengan sendirinya.
Kebahagiaan dalam rumah tangga akan tercipta saat masing-masing pihak menurunkan ego dan berhenti mengukur kebahagiaan berdasarkan standar orang lain. Setiap keluarga memiliki ritme dan ujiannya tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan apa yang tampak di permukaan kehidupan orang lain. Kedamaian akan mengalir deras ke dalam rumah saat suami dan istri mulai merasa cukup dengan apa yang telah Allah takdirkan bagi mereka.
Mari kita bersama-sama, Sahabat MQ, memeriksa kembali isi hati dan pikiran kita, apakah selama ini kita sudah bersikap adil kepada pasangan kita. Dengan menurunkan tensi ekspektasi dan menaikkan tensi penerimaan, kita sedang membuka pintu selebar-lebarnya bagi turunnya berkah sakinah dari langit. Rumah yang di dalamnya dipenuhi oleh rasa penerimaan akan selalu terasa luas dan menenangkan bagi siapa saja yang menghuninya.