pernikahan

Konsep Saling Berjuang vs Mentalitas Selalu Menuntut

Dalam budaya modern yang cenderung materialistis, sebuah hubungan sering kali dinilai berdasarkan asas transaksional, di mana seseorang hanya mau memberi jika ia mendapatkan keuntungan yang sepadan. Namun, dalam kacamata syariat Islam, mahligai pernikahan dimenangkan oleh mereka yang paling banyak berkorban dan memberi, bukan oleh mereka yang paling lantang menuntut hak. Mengulas kembali pemaparan mendalam dari Bang Adia Nugraha selaku Penulis Buku “Kala Rumah Tangga Seseru Main Ular Tangga” dalam program Inspirasi Pagi pada segmen Bincang Parenting di 102.7 FM Bandung, mentalitas selalu ingin dilayani tanpa mau bersusah payah berkontribusi adalah racun yang merusak kebahagiaan.

Konsep saling berjuang menuntut adanya kesadaran bahwa kebahagiaan pasangan adalah prioritas yang harus diikhtiarkan setiap hari. Ketika suami dan istri berkompetisi dalam hal kebaikan dan pengorbanan, maka atmosfer rumah tangga akan dipenuhi oleh rasa saling menghormati dan menyayangi. Sahabat MQ harus memahami bahwa pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah membuat seseorang menjadi merugi di hadapan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan pahala yang sangat besar bagi setiap hamba-Nya yang bersedia mengorbankan kenyamanan pribadinya demi kemaslahatan orang lain, terlebih untuk keluarga sendiri. Sikap mengutamakan kepentingan pasangan di atas kepentingan pribadi ini merupakan tanda kesempurnaan iman yang sangat dicintai oleh-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai sifat mulia ini:

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِم| وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

“Dan mereka mengutamakan (orang lain), atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyar: 9).

Meneladani Pengorbanan Totalitas Khadijah Al-Kubra

Jika kita menengok lembaran sejarah emas peradaban Islam, kita akan menemukan sosok teladan terbaik dalam hal pengorbanan rumah tangga pada diri Ibunda Khadijah Al-Kubra Radhiyallahu ‘Anha. Beliau adalah seorang wanita bangsawan yang kaya raya, namun bersedia menyerahkan seluruh harta, jiwa, dan raganya untuk mendukung dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pengorbanan totalitas beliau menjadi pilar penting di masa-masa awal turunnya wahyu yang penuh ketakutan.

Khadijah tidak pernah menuntut kemewahan dari Rasulullah, melainkan beliau selalu hadir sebagai penenang dan pelipur lara di saat seluruh dunia memusuhi suaminya. Pengorbanan yang tulus ini membuat posisi beliau tidak pernah tergantikan di hati Nabi hingga akhir hayat beliau. Kisah agung ini menjadi pelajaran berharga bagi Sahabat MQ bahwa pengorbanan adalah mata uang tertinggi dalam membeli cinta yang abadi.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengungkapkan rasa terima kasih dan pujian yang mendalam atas segala bentuk pengorbanan yang telah diberikan oleh Khadijah selama mendampingi beliau dalam suka dan duka. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, beliau bersabda dengan penuh kehangatan:

آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ

“Ia beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku, ia membenarkanku ketika manusia mendustakanku, dan ia membantuku dengan hartanya ketika manusia tidak memberi apa-apa kepadaku.”

Memetik Buah Manis Keikhlasan dalam Berbagi Beban

Setiap tetes keringat suami yang keluar saat mencari nafkah yang halal, dan setiap rasa lelah istri saat mengurus keperluan rumah tangga, semuanya adalah bentuk pengorbanan yang bernilai ibadah. Buah manis dari keikhlasan dalam berbagi beban ini mungkin tidak selalu terlihat dalam bentuk materi yang melimpah secara instan, melainkan dalam bentuk keharmonisan batin dan anak-anak yang tumbuh dengan karakter yang saleh.

Ketika salah satu pihak mulai merasa lelah dalam berkorban, ingatkan kembali jiwa kita bahwa semua ini dilakukan demi menggapai ridha Zat Yang Maha Melihat. Pernikahan yang berkah tidak dihitung dari seberapa sering kita menerima hak kita, melainkan dari seberapa tulus kita telah menunaikan kewajiban kita kepada pasangan. Menjadi pihak yang paling banyak memberi adalah sebuah kemuliaan, bukan sebuah kekalahan.

Mari kita jadikan rumah kita sebagai medan perlombaan untuk saling membahagiakan dan meringankan beban pasangan kita. Jangan biarkan sifat kikir dan egois merusak jalinan suci yang telah diikat dengan kalimat Allah. Percayalah, Sahabat MQ, bahwa mereka yang menanam benih pengorbanan dengan penuh keikhlasan, pasti akan memanen buah kebahagiaan yang manis, baik di dunia maupun di akhirat kelak.