sujud

Hubungan Erat Antara Kemaksiatan dan Keretakan Hubungan

Banyak pasangan suami istri yang mencari penyebab keretakan rumah tangga mereka pada faktor-faktor lahiriah, seperti masalah komunikasi atau krisis keuangan. Padahal, dalam perspektif spiritual Islam, ada sebuah faktor fundamental yang sering kali luput dari analisis, yaitu dampak dari dosa dan kemaksiatan yang dilakukan oleh anggota keluarga tersebut. Mengulas kembali pemaparan mendalam dari Bang Adia Nugraha selaku Penulis Buku “Kala Rumah Tangga Seseru Main Ular Tangga” dalam program Inspirasi Pagi pada segmen Bincang Parenting di 102.7 FM Bandung, kemaksiatan yang dibiarkan tanpa adanya tobat laksana polusi udara yang secara perlahan meracuni atmosfer kedamaian di dalam rumah.

Ketika seorang suami atau istri melanggar batasan-batasan hukum Allah, maka keberkahan dan perlindungan ilahi akan perlahan-lahan diangkat dari rumah tersebut. Akibatnya, hal-hal sepele yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah, tiba-tiba berubah menjadi sumbu konflik yang meledak-ledak. Sahabat MQ perlu menyadari bahwa keresahan hati yang dialami oleh pasangan kita bisa jadi merupakan pantulan dari dosa tersembunyi yang belum kita taubati di hadapan-Nya.

Para ulama terdahulu sering kali mengaitkan perubahan karakter negatif pada keluarga atau bahkan hewan tunggangan mereka sebagai akibat langsung dari kemaksiatan yang mereka perbuat. Hubungan sebab-akibat yang bersifat metafisik ini diperkuat oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an, yang menegaskan bahwa setiap musibah yang menimpa manusia adalah akibat dari perbuatan tangan mereka sendiri:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).

Meneladani Doa Taubat Nabi Adam dan Siti Hawa

Ketika mahligai rumah tangga pertama di dunia yang dihuni oleh Nabi Adam ‘Alaihissalam dan Siti Hawa diuji dengan kesalahan melanggar perintah Allah di surga, langkah pertama yang mereka lakukan bukanlah saling menyalahkan satu sama lain. Mereka tidak terjebak dalam ego untuk membela diri, melainkan mereka langsung bersimpuh bersama di atas sajadah ketundukan, mengakui kezaliman diri mereka dan memohon ampunan secara kolektif.

Keteladanan agung dari kakek dan nenek moyang manusia ini mengajarkan kepada Sahabat MQ bahwa fondasi utama untuk mengembalikan ketenangan yang hilang adalah dengan melakukan tobat bersama. Doa yang mereka panjatkan bukan sekadar susunan kata, melainkan sebuah pengakuan jujur yang menghancurkan kesombongan batin. Ketika tobat itu diterima, maka rahmat Allah kembali turun menyelimuti kehidupan mereka.

Al-Qur’an mengabadikan untaian kalimat tobat yang sangat menyentuh hati tersebut agar bisa diadopsi oleh setiap keluarga muslim yang sedang mencari jalan pulang menuju kedamaian. Kalimat mulia ini menjadi standar baku bagi siapa saja yang ingin memperbaiki kualitas hubungan domestiknya melalui jalur langit:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.'” (QS. Al-A’raf: 23).

Menjadikan Rumah Sebagai Madrasah Istighfar Bersama

Menjadikan rumah sebagai madrasah istighfar berarti membiasakan seluruh anggota keluarga untuk hidup dalam koridor rendah hati dan gemar meminta maaf, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Rutinitas membaca istighfar bersama setelah shalat berjamaah atau sebelum tidur akan mengikis noda-noda hitam di dalam hati yang berpotensi memicu pertengkaran. Rumah yang dipenuhi oleh getaran zikir penyesalan dosa akan menjadi tempat yang sangat tidak nyaman bagi setan untuk menghasut.

Gerakan tobat massal di tingkat keluarga ini akan melahirkan sebuah kepekaan sosial yang tinggi antara suami, istri, dan anak-anak. Mereka akan lebih mudah untuk saling memaafkan kesalahan masing-masing karena mereka sadar bahwa mereka pun sama-sama hamba yang penuh dengan lumuran dosa di hadapan Allah. Ketenangan sejati (sakinah) akan turun secara alami sebagai buah dari kesucian batin yang dirawat secara konsisten.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, meskipun merupakan sosok yang maksum dan dijamin masuk surga, tetap mencontohkan kepada umatnya untuk selalu konsisten beristighfar setiap hari. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Al-Bukhari, beliau bersabda untuk memotivasi kita semua:

وَاللَّهِ إِنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”