Kekeliruan Banyak Orang Saat Berharap Solusi Instan Berupa Materi
Ketika ujian hidup datang melanda, sebagian besar dari kita langsung membayangkan bantuan yang sifatnya fisik dan instan. Jika sedang terlilit utang, kita berharap ada keajaiban berupa uang jatuh dari langit untuk melunasinya. Melalui siaran Inspirasi Quran dalam pembahasan Kajian Kitab Al Hikam, KH Abdullah Gymnastiar mengajak Sahabat MQ untuk merenungkan kembali bagaimana cara kita bersikap ketika berada di titik tersulit dalam kehidupan.
KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menjelaskan bahwa cara Allah menolong hamba-Nya sering kali melampaui batas logika dan ekspektasi manusia. Allah tidak selalu langsung menurunkan materi untuk menyelesaikan masalah kita, karena bisa jadi masalah utamanya bukan pada ketiadaan materi tersebut. Hambatan yang sesungguhnya justru berada pada kondisi hati yang rapuh, mudah guncang, dan tidak tenang saat diterpa badai kehidupan.
Oleh karena itu, penting bagi Sahabat MQ untuk belajar memahami hakikat pertolongan Allah agar kita tidak mudah berprasangka buruk atau kecewa. Mengetahui bentuk bantuan yang sebenarnya dari langit akan mengubah cara kita berdoa dan bersikap di hadapan ujian. Kita tidak lagi mendikte Allah dengan keinginan kita, melainkan berserah pada apa yang terbaik menurut pilihan-Nya.
Ketenangan Hati sebagai Bentuk Bantuan Terbesar yang Sering Diabaikan
Bentuk pertolongan pertama yang sesungguhnya Allah berikan kepada hamba-Nya yang beriman adalah sebuah rasa yang bernama sakinah atau ketenangan hati. Ketika badai ujian bergulir dengan sangat kencang di luar sana, hati orang yang mendapatkan pertolongan ini akan tetap kokoh dan tidak goyah sedikit pun. Mereka tetap bisa tersenyum, berpikir jernih, dan mengambil keputusan dengan bijak di tengah kekacauan duniawi.
Sahabat MQ bisa membayangkan betapa mahalnya nilai dari sebuah ketenangan jiwa yang diberikan langsung oleh Allah. Orang yang memiliki banyak uang namun hatinya dipenuhi kegelisahan tidak akan pernah bisa menikmati hidupnya dengan nyaman dan bahagia. Sebaliknya, mereka yang hidup dalam kesederhanaan namun dikaruniai hati yang damai akan merasa seolah-olah memiliki seluruh isi dunia beserta isinya.
Konsep ketenangan sebagai tanda kehadiran bala bantuan dari langit ini telah diabadikan oleh Allah di dalam kitab suci-Nya:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ
Artinya: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka makin bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4).
Bagaimana Cara Mendapatkan Karunia Sakinah di Tengah Ujian Hidup yang Berat
Mendapatkan hadiah berupa ketenangan batin tentu memerlukan perjuangan spiritual dan latihan yang tidak sebentar. Sahabat MQ tidak bisa mengharapkan hati yang damai jika hari-hari kita masih dipenuhi dengan keluhan dan ketidakpuasan terhadap takdir. Langkah awal untuk menjemput sakinah adalah dengan menurunkan ego dan berserah diri secara total kepada kehendak Allah.
Kita harus melatih diri untuk melepaskan segala bentuk keterikatan hati pada makhluk maupun hasil akhir dari usaha yang kita lakukan. Fokuskan saja diri untuk melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan sebagai bentuk ibadah, lalu biarkan Allah yang mengatur sisanya. Kepasrahan yang tulus dan bulat inilah yang menjadi magnet utama turunnya ketenangan ke dalam dada.
Saat hati sudah sepenuhnya bersandar pada Zat yang Maha Hidup dan tidak pernah mati, ketakutan akan masa depan pun akan sirna dengan sendirinya. Hidup akan terasa jauh lebih ringan untuk dijalani, apa pun rintangan yang ada di depan mata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan pentingnya bersandar pada ketentuan Allah melalui sabdanya:
احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ
Artinya: “Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu.” (HR. Tirmidzi).