gerbang

Koreksi Diri, Mengapa Pintu Kemudahan Terasa Tertutup Rapat bagi Kita?

Saat menghadapi kebuntuan dalam hal finansial atau karier, refleks pertama manusia cenderung menyalahkan faktor eksternal di luar diri. Kita menyalahkan kondisi pasar yang sepi, kebijakan ekonomi yang kurang berpihak, atau persaingan usaha yang dirasa semakin tidak sehat. Melalui program Inspirasi Quran dalam pembahasan Kajian Kitab Al Hikam, KH Abdullah Gymnastiar mengajak Sahabat MQ untuk meluangkan waktu sejenak demi duduk diam dan mengoreksi apa yang salah dengan diri kita sendiri.

KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menekankan bahwa tersumbatnya aliran rezeki kita sering kali bukan karena kurangnya modal atau koneksi bisnis yang kita miliki. Hambatan terbesar justru berasal dari tumpukan dosa tersembunyi, perilaku maksiat, atau kelalaian kita dalam menjaga hubungan dengan Sang Pemberi Rezeki. Mengakui kelemahan diri serta bertobat di hadapan Allah adalah langkah awal yang sangat bijaksana sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mencari solusi duniawi.

Dengan melakukan introspeksi secara jujur, Sahabat MQ akan menemukan banyak celah ibadah yang selama ini mungkin kita remehkan atau lewatkan begitu saja. Memperbaiki celah-celah spiritual inilah yang akan membawa perubahan besar dan magnet kebaikan dalam hidup kita. Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan dampak dari perbuatan manusia melalui firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).

Tiga Langkah Nyata yang Diajarkan Agama untuk Mengubah Nasib Hidup

Ada tiga instrumen praktis yang bisa segera Sahabat MQ praktikkan mulai hari ini untuk mengurai benang kusut kesulitan hidup yang sedang melanda. Langkah pertama adalah dengan memperbaiki serta menambah kualitas ibadah salat kita, baik yang wajib maupun yang sunah seperti rawatib, tahajud, dan duha. Salat yang didirikan dengan khusyuk dan tepat waktu akan menata ulang frekuensi hidup kita agar selaras dengan rida Pencipta.

Langkah kedua adalah dengan menjadikan sedekah sebagai gaya hidup harian, bukan sekadar amalan musiman saat kita sedang memiliki kelebihan harta saja. Sedekah di kala sempit memiliki dampak yang sangat dahsyat untuk menolak bala, membersihkan harta, dan mendatangkan kemudahan yang tidak disangka-sangka. Langkah ketiga adalah membangun interaksi yang intim dengan Al-Qur’an setiap harinya, dengan mengurangi konsumsi media sosial yang sia-sia dan menggantinya dengan membaca serta merenungkan ayat-ayat suci sebagai nutrisi utama bagi jiwa kita.

Ketiga amalan nyata ini jika dikombinasikan dengan baik akan membentuk perisai spiritual yang sangat kuat bagi seorang mukmin. Ujian hidup yang datang bertubi-tubi tidak akan lagi terasa mencekik atau membuat kita putus asa. Sebaliknya, hal itu berubah menjadi anak tangga yang kokoh untuk menaikkan derajat keimanan dan ketakwaan kita di sisi Allah.

Konsistensi dalam Beramal sebagai Kunci Utama Datangnya Keajaiban

Perubahan nasib atau pembukaan pintu rezeki yang tersumbat tidak akan terjadi jika kita hanya melakukan amalan-amalan di atas sekali atau dua kali saja secara instan. Sahabat MQ dituntut untuk memiliki sifat istikamah atau konsisten meskipun amalan yang kita lakukan terlihat sederhana dan kecil di mata manusia. Allah subhanahu wa ta’ala sangat menyukai perbuatan baik yang dilakukan secara kontinu oleh hamba-Nya.

Jangan mudah menyerah atau berbalik arah jika setelah beberapa hari mengamalkan hal ini, kondisi ekonomi atau masalah hidup belum langsung berubah secara drastis. Proses spiritual membutuhkan waktu untuk membersihkan karat-karat di dalam hati kita terlebih dahulu sebelum berkah fisik diturunkan secara sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai karakter amalan yang paling dicintai oleh-Nya:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus dilakukan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).