Ujian Finansial sebagai Alat Deteksi Kualitas Iman yang Sesungguhnya
Bagi sebagian besar dari kita, masalah keuangan adalah jenis ujian yang paling menguras energi, pikiran, dan air mata. Sangat mudah bagi kita untuk mengucapkan kalimat hamdalah dan tersenyum ramah saat usaha sedang maju serta keuntungan melimpah ruah di dalam rekening. Namun, ceritanya akan menjadi sangat berbeda ketika tabungan mulai menipis, barang dagangan sepi pembeli, dan tagihan bulanan mulai berdatangan.
Melalui program Inspirasi Quran dalam pembahasan Kajian Kitab Al Hikam, KH Abdullah Gymnastiar mengajak Sahabat MQ untuk menyadari bahwa di titik nadir inilah iman kita yang sebenarnya sedang diuji dan dideteksi oleh keadaan. Apakah kalimat takwa dan percaya pada rida Allah yang sering kita ucapkan di kala lapang masih berlaku saat kita sedang berhadapan dengan kesulitan ekonomi? Ujian finansial adalah alat ukur terbaik untuk melihat apakah kita murni menyembah Allah atau sebenarnya selama ini kita hanya menyembah kenikmatan duniawi semata.
KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menekankan pentingnya menjaga husnuzan atau prasangka baik kepada Allah dalam situasi seberat apa pun. Kita harus belajar memahami bahwa fluktuasi harta adalah hal yang sangat lumrah dalam roda kehidupan dunia yang fana ini. Yang tidak boleh goyang sedikit pun dari dalam dada kita adalah keyakinan bahwa Allah Mahatahu dan tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya yang beriman.
Kepastian Rezeki, Memahami Bahwa Tidak Ada Makhluk yang Luput dari Jaminan-Nya
Satu hal yang harus tertanam dengan sangat kuat di dalam sanubari Sahabat MQ adalah bahwa konsep rezeki itu sudah bersifat final dan dijamin penuh oleh Sang Pencipta. Setiap embusan napas yang kita miliki saat ini sudah satu paket dengan jatah makanan, pakaian, dan kebutuhan hidup yang kita perlukan hingga ajal menjemput. Mustahil bagi seorang manusia untuk wafat sebelum seluruh jatah rezeki duniawinya dihabiskan secara sempurna sesuai ketetapan-Nya.
Meragukan datangnya rezeki saat kondisi ekonomi sedang sulit sama saja dengan meragukan sifat Al-Rozzaq (Maha Pemberi Rezeki) yang melekat pada diri Allah subhanahu wa ta’ala. Pandangan yang sempit dan diliputi rasa panik inilah yang sering kali membuat sebagian manusia nekat menghalalkan segala cara demi mendapatkan harta secara instan. Padahal, apa pun yang telah tertulis sebagai hak kita pasti akan sampai kepada kita melalui jalan yang tidak disangka-sangka, asalkan kita tetap menjaga ketakwaan.
Kesadaran mengenai jaminan rezeki yang bersifat universal bagi seluruh makhluk hidup di alam semesta ini telah ditegaskan secara eksplisit oleh Allah di dalam kitab suci-Nya:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6).
Menatap Masa Depan dengan Rasa Optimis Bersama Naungan Rida Ilahi
Setelah kita berhasil membersihkan hati dari segala bentuk keraguan terhadap jaminan Allah, langkah berikutnya adalah melangkah maju dengan penuh rasa optimis. Sahabat MQ tidak perlu lagi merasa minder, rendah diri, atau takut berlebihan menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin ketat di masa depan. Selama kita terus menjaga hubungan baik dengan Pemilik Semesta melalui amalan-amalan saleh, kita berada di bawah naungan perlindungan yang paling aman.
Jadikan setiap kesulitan ekonomi atau impitan hidup yang kita alami saat ini sebagai sekolah kehidupan untuk mendewasakan jiwa dan meningkatkan kualitas spiritual kita. Setiap tetes air mata, peluh, dan rasa lelah yang keluar dalam bingkai ikhtiar yang halal akan dicatat sebagai pahala yang besar di sisi-Nya. Tetaplah bersemangat, tebarkan kebaikan kepada sesama di mana pun berada, dan jaga selalu kebersihan niat di dalam hati kita.
Masa depan yang cerah, berkah, dan penuh dengan kemudahan sejati menanti mereka yang tidak pernah berputus asa dari rahmat serta pertolongan Sang Pencipta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan motivasi yang sangat luar biasa bagi kita semua melalui sabdanya yang penuh makna:
إِنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesukaran itu ada kemudahan.” (HR. Ahmad).