Asal-usul Penetapan Tahun Baru Hijriah

Sistem kalender Islam tidak serta-merta terbentuk pada masa kehidupan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, melainkan lahir dari sebuah inisiatif gemilang pada era kekhalifahan Umar bin Khattab. Keputusan besar ini bermula ketika muncul kebutuhan mendesak untuk menertibkan administrasi surat-menyurat negara yang melibatkan gubernur di berbagai wilayah. Melalui musyawarah bersama para sahabat senior, momentum hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah akhirnya disepakati sebagai titik awal perhitungan tahun Islam.

Peristiwa hijrah dipilih bukan tanpa alasan, sebab momen bersejarah tersebut sarat akan keteladan, pengorbanan, dan perjuangan yang luar biasa demi tegaknya panji Islam. Berjalan kaki menempuh jarak sekitar lima ratus kilometer membelah padang pasir yang gersang dan penuh bahaya merupakan bukti nyata dari keteguhan iman para pendahulu kita. Kisah heroik ini terus membekas dalam ingatan umat sebagai simbol perpindahan dari fase penindasan menuju fase kejayaan dakwah.

Keteladanan para sahabat yang rela berhijrah demi membela agama Allah merupakan kualitas keimanan tertinggi yang mendapat pujian langsung dari Sang Pencipta. Allah Subhanahu wa taala berfirman mengenai keridaan-Nya terhadap kaum muhajirin dan ansar:

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 100).

Pengorbanan Totalitas Rasulullah dan Abu Bakar

Perjalanan hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam didampingi oleh sahabat setianya, Abu Bakar As-Siddiq, dipenuhi dengan strategi yang matang dan tingkat risiko yang mengancam nyawa. Demi mengecoh kejaran kaum kafir Quraisy, mereka berdua bahkan harus bersembunyi di dalam kegelapan Gua Tsur selama beberapa hari dengan perbekalan yang sangat terbatas. Loyalitas tanpa batas yang ditunjukkan oleh Abu Bakar menjadi potret nyata tentang arti sebuah persahabatan sejati di jalan dakwah.

Di tengah situasi genting ketika para pengejar berada tepat di depan mulut gua, keyakinan total kepada pertolongan Allah menjadi kekuatan yang menenangkan hati yang cemas. Rasulullah dengan penuh ketenangan meyakinkan sahabat karibnya bahwa mereka tidak pernah benar-benar berdua karena Allah selalu membersamai langkah mereka. Pelajaran berharga tentang ketawakalan mutlak ini menjadi warisan spiritual yang sangat mahal bagi setiap pejuang kebenaran hingga akhir zaman.

Momen dramatis di dalam gua tersebut diabadikan secara indah oleh Allah Subhanahu wa taala dalam firman-Nya untuk menguatkan hati kaum mukmin:

اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰه_ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِي الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita’.” (QS. At-Taubah: 40).

Ekspansi Dakwah Pasca-Peristiwa Hijrah

Dampak dari peristiwa hijrah tidak hanya berhenti pada berdirinya pusat pemerintahan Islam di Madinah, melainkan menjadi batu loncatan bagi meluasnya syiar Islam ke berbagai penjuru dunia. Ketika dinamika kepemimpinan di pusat wilayah Islam mengalami perubahan di masa-masa setelahnya, banyak pencinta dakwah dan pengusaha muslim yang memilih untuk bergerak keluar menyebarkan nilai-nilai Islam. Mereka melintasi perbatasan geografis demi menyampaikan risalah kedamaian hingga menyentuh wilayah Asia Tengah dan Tiongkok.

Pergerakan para dai purba yang rela meninggalkan zona nyaman tersebut berhasil membangun basis-basis komunitas muslim yang kokoh di jalur sutra. Kegigihan mereka dalam beradaptasi dengan budaya setempat tanpa mengorbankan prinsip akidah menjadi kunci sukses diterimanya Islam dengan tangan terbuka. Melalui jejak langkah hijrah fisik inilah, cahaya petunjuk agama dapat sampai ke berbagai belahan bumi dan dirasakan manfaatnya oleh jutaan manusia.

Perintah untuk terus bergerak menebar kebaikan dan berhijrah di bumi Allah yang luas ini mengandung janji kelapangan rezeki bagi mereka yang tulus melangkah. Allah Subhanahu wa taala berfirman mengenai janji kemudahan bagi orang yang berhijrah di jalan-Nya:

وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِي الْاَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةًۗ

“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 100).