Jebakan Tersembunyi di Balik Merasa Paling Benar
Sifat merasa diri paling suci sering kali menjadi hijab atau penghalang terbesar yang membuat seseorang gagal melihat kebaikan pada diri orang lain. Ketika seseorang mulai memposisikan dirinya sebagai hakim atas keimanan sesama Muslim, pada saat itulah ia sedang memasuki wilayah yang bukan otoritasnya. Banyak yang tidak menyadari bahwa kesalehan pribadi bisa hangus seketika akibat lisan yang gemar mengeluarkan saudaranya dari Islam.
Fokus pada perbaikan kualitas ibadah sendiri jauh lebih menyelamatkan daripada sibuk meneliti tingkat keimanan orang lain yang belum tentu kita pahami seutuhnya. Sahabat MQ perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam rasa bangga diri yang berlebihan hingga dengan mudah meremehkan amalan orang lain. Mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam urusan akidah ini bisa berujung pada kebangkrutan spiritual di akhirat kelak.
Peringatan keras telah disampaikan oleh Rasulullah SAW mengenai bahaya mengadili status spiritual seseorang berdasarkan penilaian lahiriah yang subjektif. Hubungan batin antara seorang hamba dengan Penciptanya adalah wilayah sakral yang tidak boleh diintervensi oleh siapa pun dengan tuduhan yang serampangan. Sebuah hadist mengingatkan kita akan bahaya ucapan yang bisa menggugurkan amal saleh seseorang:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ رَجُلًا قَالَ: وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ، وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ” (رواه مسلم)
Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya ada seseorang berkata: Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Siapa yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan Aku telah menghapuskan amalanmu.'” (HR. Muslim)
Menjaga Lisan sebagai Cerminan Kesalehan Hakiki
Tingginya ilmu seseorang idealnya berbanding lurus dengan kelembutan sikap dan keluasan toleransinya terhadap sesama Muslim. Lisan yang terjaga dari kata-kata yang menyakitkan, apalagi tuduhan kufur, merupakan indikator utama dari kebersihan hati seorang hamba. Kesalehan yang sejati tidak diukur dari seberapa sering seseorang menyalahkan orang lain, melainkan dari seberapa besar manfaat yang bisa ia tebarkan.
Mengembangkan empati dalam beragama akan membantu kita melihat setiap Muslim sebagai bagian dari satu tubuh yang utuh yang harus dijaga kesehatannya. Sahabat MQ bisa memulai dari hal kecil dengan cara menahan diri untuk tidak ikut berkomentar pada perdebatan agama yang tidak dikuasai ilmunya di media sosial. Sikap diam yang didasari oleh rasa takut kepada Allah jauh lebih mulia daripada berbicara tanpa landasan ilmu yang valid.
Al-Qur’an secara tegas melarang tindakan mengolok-olok, mencela, maupun memberikan julukan yang buruk kepada sesama orang beriman. Panggilan yang merendahkan status keimanan seseorang adalah bentuk kezaliman yang harus segera dihentikan agar tidak mendatangkan murka Allah SWT. Larangan ini tertulis jelas sebagai panduan moral dalam kehidupan bersosial:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ… وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإِيمَانِ (سورة الحجرات: 11)
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok itu lebih baik dari mereka… dan janganlah kamu saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Meraih Kedamaian Jiwa dengan Berprasangka Baik
Dunia akan terasa jauh lebih damai dan sejuk ketika setiap individu membiasakan diri untuk selalu mencari uzur atau alasan baik atas tindakan saudaranya. Prasangka baik adalah investasi batin yang akan menjaga kesehatan mental sekaligus melestarikan ukhuwah islamiyah di tengah masyarakat. Ketika kita berhenti menjadi hakim bagi iman orang lain, energi positif akan mengalir untuk hal-hal yang lebih produktif.
Keindahan hidup beragama akan semakin terpancar saat kita mampu merangkul mereka yang sedang berproses memperbaiki diri tanpa harus memberi label negatif. Sahabat MQ dapat menjadi pelopor dalam menyebarkan semangat kebersamaan ini di lingkungan keluarga maupun tempat kerja masing-masing. Menjaga keutuhan barisan ahli kiblat adalah tanggung jawab bersama yang tidak boleh diabaikan demi tegaknya syiar Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Pahala yang telah dikumpulkan dengan susah payah melalui berbagai ibadah ritual harus dijaga setulus hati agar tidak bocor akibat dosa lisan. Menghargai status Muslim pada diri seseorang selama mereka masih menghadap kiblat yang sama adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada syariat. Dengan cara inilah, kesucian agama tetap terjaga dan kedamaian sosial dapat diwujudkan secara nyata.