Membongkar Perbedaan Mendasar Istilah Addawa dan Asy-Syifa dalam Islam
Dalam khazanah pengobatan Islam, terdapat dua istilah penting yang memiliki makna sangat berbeda namun sering kali dianggap sama oleh masyarakat luas. Istilah pertama adalah addawa, yang merujuk pada obat atau ikhtiar lahiriah yang dilakukan manusia untuk menyembuhkan penyakit, seperti ramuan, herba, maupun resep dokter. Sementara itu, istilah kedua adalah asy-syifa, yang berarti kesembuhan mutlak dan kesembuhan itu hanya datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sahabat MQ wajib memahami perbedaan ini agar tidak salah dalam menggantungkan harapan saat berobat.
Mengandalkan addawa tanpa meyakini adanya asy-syifa akan menjerumuskan seseorang pada sikap syirik terselubung, karena menganggap obatlah yang menyembuhkan. Obat hanyalah sebuah wasilah atau perantara yang tidak akan memiliki khasiat apa pun tanpa adanya izin dari Sang Pencipta. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan perkataan Nabi Ibrahim alaihis salam di dalam Al-Qur’an mengenai hakikat penyembuhan yang sejati:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Artinya: “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80).
Menghindari Sikap Pasrah yang Keliru dengan Memahami Konsep Ikhtiar
Banyak orang yang keliru dalam menerjemahkan konsep tawakal, sehingga mereka memilih pasrah tanpa melakukan usaha apa pun saat penyakit melanda. Sikap malas dan enggan berobat dengan dalih menerima takdir adalah pemahaman yang menyimpang dari syariat Islam yang lurus. Sahabat MQ harus tetap bergerak mencari obat (addawa) sebagai bentuk ketaatan terhadap sunatullah yang telah ditetapkan di muka bumi.
Ikhtiar mencari obat merupakan bagian dari amal saleh yang diperintahkan, selama cara-cara yang ditempuh tidak melanggar batasan agama. Berobatlah ke tempat-tempat yang aman dan gunakan bahan-bahan yang suci serta halal sebagai bentuk penghambaan diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan sangat jelas mengenai kewajiban melakukan ikhtiar pengobatan ini:
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan juga obatnya, maka berobatlah kalian dan janganlah berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Tabrani).
Mengapa Kesembuhan Mutlak Hanya Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Ketika seluruh jenis pengobatan terbaik telah dicoba namun hasil yang diharapkan belum kunjung terlihat, di sinilah keimanan seorang hamba diuji. Sahabat MQ harus menyadari bahwa keputusan akhir mengenai kapan dan bagaimana penyakit itu diangkat berada penuh di dalam genggaman-Nya. Allah memiliki hikmah tersendiri mengapa kesembuhan ditunda, boleh jadi untuk meningkatkan derajat atau membersihkan sisa-sisa dosa yang masih menempel.
Kesadaran ini akan melahirkan ketenangan jiwa yang luar biasa, sehingga terhindar dari rasa frustrasi dan putus asa yang justru memperparah penyakit fisik. Ketika hati telah berserah penuh kepada Asy-Syifa (Yang Maha Menyembuhkan), maka setiap hasil akan diterima dengan lapang dada. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa tidak ada satu pun kekuatan yang dapat mengangkat penderitaan manusia selain diri-Nya sendiri:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ
Artinya: “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudatan kepadamu, maka tidak ada yang menghapuskannya melainkan Dia sendiri.” (QS. Al-An’am: 17).