Menggugat Makna “Kembali ke Fitrah” yang Terlalu Sederhana
Sahabat MQ, sering kali kita mendengar ungkapan bahwa setelah Ramadan kita kembali suci seperti bayi yang baru lahir atau “kembali ke nol”. Namun, Ustadz Gungun mengingatkan bahwa jika kita hanya kembali ke titik awal, bukankah itu berarti kita tidak mengalami peningkatan kapasitas spiritual? Seharusnya, Ramadan menjadi momentum untuk naik level, bukan sekadar stel ulang setelan pabrik tanpa membawa hasil perjuangan sebulan penuh. Memahami makna fitrah dalam Islam ternyata sangat penting bagi kehidupan kita. Pada dasarnya, makna fitrah adalah keadaan orang beragama Islam yang intinya tauhid. Namun, konsep ini juga erat kaitannya dengan kebersihan dalam Islam. Oleh karena itu, kita wajib memelihara kesucian jiwa maupun raga sehari-hari.
Menuju Level Ihsan, Puncak Kualitas Seorang Mukmin
Bagi Sahabat MQ yang ingin meningkatkan kualitas diri, level Ihsan adalah jawabannya. Ihsan bukan sekadar berbuat baik, melainkan kesadaran penuh bahwa setiap gerak-gerik kita diawasi oleh Allah Swt., atau bahkan seolah-olah kita melihat-Nya dalam setiap ibadah. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah Saw. tentang makna Ihsan:
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Artinya: “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim). Dalam ajaran Islam, setiap muslim dituntut bukan hanya untuk beriman dan beramal saleh, tetapi juga untuk mencapai tingkat kesempurnaan dalam beribadah dan berinteraksi dengan sesama manusia. Tingkatan itu dikenal dengan istilah Makna Ihsan. Ihsan menjadi puncak dari kualitas keislaman seseorang, karena mencakup dimensi spiritual, sosial, dan moral dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika seorang muslim memahami Makna Ihsan, ia akan terdorong untuk senantiasa berbuat baik, menjaga hubungan dengan Allah, sekaligus menebar manfaat bagi sesama. Konsep ini tidak hanya penting secara pribadi, tetapi juga menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang harmonis, adil, dan sejahtera.
Menjaga Konsistensi Pasca-Ramadan agar Tidak Tergelincir
Perjalanan menjadi Insan Ihsan membutuhkan konsistensi yang tinggi. Sahabat MQ perlu memahami bahwa fitrah adalah modal dasar, namun untuk mencapai Ihsan, diperlukan interaksi yang mendalam dengan Al-Qur’an sebagai panduan hidup yang nyata. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai Furqan atau pembeda, identitas kita sebagai makhluk Qurani akan tetap terjaga meski bulan suci telah berlalu. AMALAN pasca Ramadhan menjadi salah satu indikator diterimanya ibadah kita selama bulan suci. Ramadhan bukanlah akhir dari perjalanan spiritual, melainkan awal dari kebiasaan baik yang harus terus dijaga. Banyak umat Islam yang semangat beribadah saat Ramadhan, namun perlahan menurun setelahnya. Padahal, konsistensi dalam beribadah justru menjadi kunci utama dalam meraih ridha Allah SWT.
Dalam Islam, amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, menjaga amalan pasca Ramadhan sangat penting agar nilai spiritual yang telah dibangun selama Ramadhan tidak hilang begitu saja.