Mengapa Lingkungan Sangat Berpengaruh pada Jati Diri?

Sahabat MQ, fitrah kebaikan dalam diri setiap manusia tidak akan pernah mati, namun ia bisa tertutup oleh noda hitam akibat kemaksiatan dan lingkungan yang buruk. Kang Fazrul menekankan bahwa bagi remaja yang sedang mencari jati diri, pengaruh eksternal sering kali lebih kuat daripada keinginan internal untuk berubah. Inilah mengapa sering kali niat hijrah kandas di tengah jalan karena rasa takut dijauhi oleh teman-teman sepermainan. Lingkungan merupakan tempat manusia hidup dan beraktivitas, baik lingkungan rumah, sekolah, lingkungan teman, komunitas, lingkungan kerja dan lain sebagainya.  Karena manusia selalu hidup dengan lingkungan, maka tempat tersebut menjadi wahana untuk saling berinteraksi, berkomunikasi, bertukar pikiran, gagasan, bertukan tugas, canda tawa dan segala ekspresi di dalamnya. Baik aktivitas yang baik dan mendukung kemaslahatan maupun aktivitas buruk yang penuh madlarat (bahaya). Umumnya, lingkungan yang baik akan melahirkan kepribadian yang baik, dan lingkungan yang buruk akan melahirkan karakter yang juga buruk. Dalam ilmu psikologi modern, yakni teori Behaviorisme mengatakan bahwa lingkungan sangat berpengaruh bagi karakter seorang manusia. 

Strategi Mewarnai, Bukan Terwarnai oleh Lingkungan

Jika Sahabat MQ merasa sulit meninggalkan lingkaran pertemanan yang kurang baik, maka pilihannya adalah menjadi pembawa perubahan atau berdakwah di dalam lingkaran tersebut. Jangan sampai kita hanyut dalam arus fomo atau sekadar mengikuti tren tanpa prinsip. Milikilah kemandirian akidah yang kuat, seperti dicontohkan dalam firman Allah Swt.:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.” (QS. Ar-Rum: 30). Strategi “mewarnai, bukan terwarnai” oleh lingkungan dalam Islam berakar pada prinsip dakwah, izzah (kehormatan diri sebagai Muslim), dan amar ma’ruf nahi munkar. Konsep ini menegaskan bahwa seorang Muslim seharusnya menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai Islam (mewarnai) ke dalam lingkungan, bukan justru larut dan mengikuti kebiasaan negatif lingkungan (terwarnai). 

Menumbuhkan Kemandirian Akidah di Tengah Arus Modernisasi

Kemandirian akidah berarti memiliki prinsip hidup yang teguh meskipun harus berbeda dengan mayoritas. Sahabat MQ tidak perlu takut dicemooh karena memegang teguh kebenaran, sebab fitrah yang murni akan selalu membimbing menuju ketenangan jiwa yang hakiki. Dengan memperkuat hubungan dengan Allah melalui tadabur dan tafakur, cahaya fitrah dalam diri akan semakin membesar dan menerangi jalan hidup Sahabat. Menumbuhkan kemandirian akidah di tengah arus modernisasi adalah upaya krusial untuk menjaga identitas keislaman agar tidak tergerus oleh budaya sekularisme, hedonisme, dan relativisme nilai. Kemandirian akidah berarti memiliki keyakinan yang kuat, didasarkan pada ilmu, dan tidak mudah terpengaruh oleh arus pemikiran modern yang menyimpang. Dan Menanamkan rasa cinta kepada Allah SWT dan mengenalkan kisah-kisah Nabi kepada generasi muda sejak dini. Menjadikan rumah sebagai tempat pembiasaan nilai-nilai agama, seperti membaca Al-Qur’an Bersama keluarga.